Beep…

Lampu indikator di handphone-ku berkedip.

Muka kamu kok jadi sendu gitu sekarang…muka sedih

Sebuah kalimat yang ujug-ujug datang melalui blackberry messenger itu membuat mata ku melotot. Entah mau tersenyum, tertawa, jengkel, atau apa lah. Perasaan ini tidak bisa ku definisikan. Ujungnya aku tersenyum sendiri. Selain itu aku tidak melakukan apapun.
Sudah lebih dari sepuluh kali pesan itu ku baca, sudah lebih dari sepuluh kali juga aku tersenyum sembari menggelindingkan tubuhku ke kanan, ke kiri, tengkurap, telentang.
“Aku tidak hendak membalasnya. Tidak!” gumamku dalam hati
“Ah, …” aku menggerutu sendiri. Aku ingin membalasnya. Tapi tidak. Ingin. Tidak. Ingin.
Sambil mulai menghitung helai demi helai bulu kaki ku.
“Balas. Tidak. Balas. Tidak. Balas. Tidak…” sampai Cendrawasih pindahan ke Jawa juga tidak akan selesai.
“Arggh…tapi sudah terlanjur ‘R'” aku menyesal karena terlalu cepat membaca pesan yang ujug-ujug datang itu. Seharusnya tidak langsung ku baca.

Ranti

Beep…

Lagi, tanda pesan BBM masuk. Deg… aku harus lebih berhati-hati.
Puft…pesan dari Ria.

Sayang, lagi apa?
Tiba-tiba aku kangen kamu. 

Ria itu kekasihku. Sudah hampir enam bulan kami jadian. Kami serius. Iya, Aku serius dengan Ria. Aku berniat menikahinya. Semoga tahun ini aku bisa menikahinya. Sayangnya, aku dan Ria masih terpisah 450 km jauhnya. Satu bulan sekali paling tidak, aku baru bisa bertemu dengan Ria. Yah, LDR. Tapi disitu seninya. Ada rindu, ada bahagia menjelang bertemu, ada tantangan, perjuangan, dan yang jelas ada juga godaan sekaligus ujian. Soal saling percaya dan saling setia. Aku setia kok. Soal manajemen juga. Manajemen keuangan, pulsa, kuota internet untuk ber-sosmed. Ah aku jadi kangen Ria.

Dan sekali lagi aku tersenyum sendiri. Kali ini karena hal yang berbeda.

Beb, lagi sibuk nggak? Aku telepon ya.. (R)

Balasku.

Nggak kok. Oke sayang ku tunggu ya. 

Tanpa menunggu lama. Hanya satu kali bunyi nada sambung “Tuuut…., Hallo sayang…”
Suara Ria nun jauh di sana sudah menggema di telinga ku, dan 56 menit aku menelpon Ria. Tuuut. Kali ini tanda pulsa habis.

Maaf beb, pulsa habis.. (R)

Iya sayang, nggak papa. Mat bobo ya. Nice dream.

Bukankah sekarang aku jadi romantis? Pada dasarnya aku memang orang yang romantis. Romantis pada orang yang aku cintai. Pada orang yang pernah aku cintai, dulu.

***
Aku merebahkan tubuhku sambil membayangkan manisnya wajah Ria. Namun, seketika buyar.
“Balas. Tidak. Balas. Tidak… BALAS!” Aku memutuskan untuk membalas pesan itu. Lagi pula, sudah cukup mempertahankan gengsiku setelah  65 menit berlalu. Ya, sudah 65 menit aku menunda membalasnya.

Tapi ganteng kan.. (D)

Akhirnya aku benar-benar membalasnya. Singkat saja. Itu pun belum ia baca.
Sudahlah. Aku tidur saja.

***

Alarm berbunyi. Hal pertama yang ku lakukan adalah mematikannya. Melihat angka berapa yang tampil di layar handphone ku. Oh, pukul 05.00 WIB,  lalu memeriksa sosmed satu persatu.

“Asem!”

(R)

Pesanku sudah di baca. Ia sudah mengganti Display Picture BBM-nya. Sudah ganti status pula. Huft…
Sebentar…
Rasanya tidak masuk akal. Kenapa aku bisa sekesal ini? Sebenarnya tidak harus terjadi apa-apa dengan perasaanku. Tapi ini ???

“Kalem Dodi, kalem…” gumamku menenangkan diriku sendiri yang geje. nGgak Jelas. 

Tapi, walau bagaimanapun aku harus menjelaskannya…

***

Dia Ranti.

Berarti sudah lima tahun sejak pertama kali aku bertemu dengan Ranti dan kemudian mengenalnya. Ranti itu gadis yang ceria. Murah sekali senyumnya. Dari sekedar menemukan kesamaan-kesamaan, akhirnya kami berteman baik. Berteman baik. Pertemanan kami tidak berarti berjalan lurus-lurus saja. Pertengkaran, sudah jelas jadi bumbunya. Seringnya, Ranti yang marah pada ku. Biasa, cewek. Belum selesai satu minggu, hubungan kami jadi baik kembali. Tapi pernah, Ranti mendiamkanku satu bulan lebih. Entah karena apa, aku tidak ambil pusing. Walau, ada yang berbeda ketika Ranti diam. Bayangkan, seperti duduk di sebuah ruang kosong tanpa ada siapapun yang bisa diajak bicara. Kira-kira begitulah rasanya. Akhirnya, aku yang mulai menghubunginya. Ranti selalu tak tega membiarkan aku berbicara sendiri. Sampai akhirnya, semuanya membaik lagi.

Ranti…Ranti…

Aku juga pernah tidak menggubrisnya. Sering bahkan. Ya, karena aku sedang dekat dengan seseorang. Aku punya pacar waktu itu. Walau hanya bertahan satu bulan. Itu pacaran tersingkatku. Kemudian Ranti kembali ada menampung cerita- ceritaku yang tertunda.

Ranti…Ranti…

Semua berubah sejak dua tahun lalu. Ranti menghilang.

Seperti biasa aku menghubunginya. Menghubungi Ranti dengan kata, kalimat, bahasa dan media yang tidak berubah. Tapi, entah…
Ranti seperti bukan Ranti. Ia dingin. Sedingin batu es. Brrr…Beku.

Membuat Ranti menyadari bahwa aku mencarinya, itu sama sekali bukan gayaku. Aku tak mau Ranti tahu, bahwa aku mencarinya. Mencarinya karena dia hilang. Aku ingin, yang Ranti tahu hanyalah, aku yang tidak pernah berubah di matanya.
Biasanya dia akan marah dengan meng-omeli ku. Bagiku itu lucu.
Sayangnya, kali ini tidak.

Sebenarnya aku bisa sungguh-sunggu mencarinya. Menemuinya. Tapi tidak akan ku lakukan. Aku tidak mau. Alasannya? Aku tidak ingin datang menemui Ranti. Ya pokoknya tidak mau. Walau sebenarnya aku rindu…aku …aku…

Ranti, kamu kemana? satu setengah tahun yang lalu, sampai aku memiliki Ria. Aku belum sempat menceritakannya pada Ranti. Sekarang sudah dua tahun…

Tiba-tiba Ranti datang hanya dengan tanda ‘Beep‘. Disusul satu kalimat.
Lalu hilang lagi.

Aku kesal pada Ranti. Aku kesal.

***

Kring kring kring…

Handphoneku berdering, tepat ditengah-tengah lamunanku.
“Rantiii…” Aku memang terlalu tergesa-gesa. Bahkan tanpa ucapan salam.
“Sayang,…siapa Ranti??”
Tuhan, sungguh aku menyangka Ranti yang menelponku.
“Emm…Beb, kamu? Enggak kok, itu….bla bla bla” aku mengarang cerita, dan benar saja Ria tidak mempercayainya.

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s