“Karti?!!”
“Farida??” tanya seorang perempuan itu kepadaku. Sama-sama keheranan, tidak percaya.
“Piye kabare?”
“Baik alhamdulillah baik. Katanya kamu di Bandung kerja di sana? Ini sedang libur po?”
“Aku pindah di sini. Di Jogja wae. Sudah ndak krasan, hahaha. Kamu sendiri piye?”
“Aku? Ah begini saja. Momong”
“Anakmu sudah berapa? Wah aku ketinggalan berita”
“Tiga, lha kamu sendiri piye? Suamimu orang mana? Sudah punya anak belum?”
“Aku belum kawin, Ti. Mohon doanya ya”
“Nunggu apa to, lek ndang cepet…keburu perang dunia lho”
“Insya Allah”
“Aku duluan Da, sudah ditunggu anakku sama bapaknya”
“O ya Ti, kapan-kapan ketemu lagi ya”
“iya iya …”

Karti berlalu meninggalkanku. Aku juga segera meninggalkan keramaian ini.  Aku dan Karti bertemu di pasar Sekaten.
Aku tidak habis pikir akan bertemu dengan dia. Karti terlihat berbeda. Entah apa yang berbeda.

Karti

Aku mengenal Karti ketika masuk SMA. Tahun 2003. Aku memang terkesima  padanya, sejak pandangan pertama. Betapa tidak, ini jaman modern, eranya sudah globalisasi tapi masih ada anak sekolah yang ke sekolah pakai sandal jepit. Sepatunya dimasukan ke dalam kantong kresek yang diletakan pada kranjang sepedanya.

“Mengapa kamu selalu memakai sandal jepit saat berangkat dan pulang, Ti?” tanyaku
“Biar awet sepatuku” begitu kata Karti sambil tersenyum.

Belum lagi sebuah cething besar terbungkus taplak meja ungu yang sudah pudar warnanya, yang selalu ia boncengkan. Isinya jajan macam-macam. Karti diamanahi si mboknya untuk menitipkan jajanan itu di kantin sekolah kami. Karti tidak malu.

Tasnya dari kain blaco berlukiskan bunga-bunga. Sudah pasti Karti tidak membeli tas itu. Seperti yang ku duga, ia menjahit dan melukis tasnya sendiri dengan express, cat kayu tiga ribuan. Tapi bagus, tidak kalah dengan tas-tas keluaran pabrik. Sampai-sampai aku memesan satu kepada Karti untuk ku pakai sendiri.
“Sudah, ganti uang kain, benang, dan catnya saja” kata Karti.

Gadis sederhana, pendiam tapi luar biasa. Aku mengaguminya. Suatu saat nanti, pasti dia akan menjadi orang sukses. Ah, sudah seperti juru ramal saja aku ini.

***

Karti lebih sering menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku di perpustakaan. Tidak seperti gadis lainnya yang berhamburan kesana kemari , punya geng, suka gossip, bertengkar, pacaran. Tidak. Karti tetap dengan dirinya, tanpa ambil pusing soal orang lain.

Aku penasaran. Ku dekati Karti yang sedang membaca buku sendirian.
“Ti, kok kamu bisa pandai sekali?” tanyaku iseng
“ hmmm” dia hanya tersenyum
“Ti, sedang baca buku apa?”
“Novel” sembari menunjukan sampul bukunya pada ku
“Ohh”
Karti tetap saja pendiam. Dingin. Hanya menjawab seperlunya.
“Ti, kamu punya pacar?”
Karti tersenyum lagi.
“Kamu kan pandai, manis, pasti banyak yang suka”
“Opo to kamu ini?” Karti terlihat malu-malu “Ndak ada…” lanjutnya
“Kamu pernah suka sama seseorang tidak Ti? Jatuh cinta gitu? Hiii ”
“Belum”
“Yang benar kamu. Masa’?” Aku tidak percaya. Apa iya, gadis tujuh belas tahun belum pernah merasakan namanya jatuh cinta. Aku yang seperti ini saja, sudah punya mantan genap satu lusin. Nah, Karti??
“Serius kamu?aku tidak percaya. Kamu normal kan”
“haha…” Karti hanya tertawa kecil, “Suatu saat nanti, aku akan jatuh cinta pada orang yang bisa membuatku bahagia, Da” lanjut Karti.
“Aamiin” sahutku

***

Menjelang Ujian Akhir Nasional. Sekolahku geger.
“Karti hamil !!! sedang disidang di ruang kepala sekolah” sekejab berita itu menyambar seisi sekolahku. Aku yang paling kaget.
“Tidak mungkin!”
“Lihat sendiri kalau tidak percaya” kata sebuah suara.
Aku bergegas lari ke ruang kepala sekolah. Terlihat kerumunan anak yang sedang mengambil celah dari jendela ruang kepala sekolah. Aku tidak sabar, aku penasaran. Aku tidak mau kalah memburu celah yang bisa membuatku melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruang kepala sekolah. Sampai aku mendapatkannya. Ku lihat Karti menunduk duduk di sebuah kursi. Dikelilingi kepala sekolah dan beberapa guru yang mengurusi urusan kesiswaan.
Aku tidak mendengar apapun.
Hai, aku tidak salah lihat. Pada rautnya yang tersembunyi, terlintas seberkas senyum Karti.
Situasi yang tampak menegangkan itu justru membuat Karti tersenyum dengan sebuah kemenangan. Apa ini?

Karti keluar ruangan.
“Bubar!” tegur salah seorang guru yang juga keluar dari ruangan kepala sekolah. Seketika para siswa pergi menjauh, kecuali aku. Aku mengikuti Karti yang berjalan menuju kelasnya melewati tatapan-tatapan jijik. Aku tidak bisa setenang Karti.

“Karti, tunggu!?”
Karti hanya berhenti sejenak, menoleh sebentar ke arahku sambil tersenyum. Hah, apa-apaan ini? Dia sama sekali tidak terlihat panik, khawatir, takut, gelisah.
“Ti, apa benar yang ku dengar?”
Lagi, Karti tersenyum.
“Aku dikeluarkan dari sekolah” kata Karti
“Lantas kamu diam saja. Kamu tidak mengatakan pada mereka bahwa semua salah?”
“hmm…” Karti menggeleng pelan, dia menyentuh pundakku
“Farida, aku telah jatuh cinta”

***

Kejadian hari itu membuatku enggan bertemu dengan Karti. Itu bukan Karti, tapi orang lain yang tidak ingin ku kenal sama sekali.
Karti benar-benar dikeluarkan dari sekolah bersamaan dengan Pak Idrus berhenti bekerja sebagai sopir kepala sekolah.
Dua minggu kemudian, aku menerima undangan pernikahan Karti. Ada sepucuk surat di dalamnya.

Farida,
Aku sangat mengharapkan kehadiranmu. Namun aku tahu, mungkin kau sudah tak sudi.
Maafkan aku Farida.
Ini jawaban dari pertanyaanmu tempo itu, walau terlalu pahit untuk kau tahu.
Aku telah menemukan kebahagiaanku.

Karti menikah dengan Pak Idrus. Pria dengan selisih usia 25 tahun lebih tua darinya. Pak Idrus sudah punya istri dan seorang anak. Konon istrinya sering menginggalkan rumah tanpa ijin, sehingga membuat dirinya dan anaknya tidak terurus. Pak Idrus kemudian menceraikan istrinya dan menikahi Karti. Tapi bagiku tetap saja, ini gila.

***

Selama 8 tahun, aku hanya mendengar kabar kabur tentangnya. Dan hari ini aku bertemu dengan Karti.
Karti terlihat berbeda, dia tidak pendiam seperti dulu. Dia terlihat bahagia.

Tapi aku tetap sama, tidak setuju dengan cara Karti menemukan kebahagiaannya.

Yogyakarta, 16 Januari 2014

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s