Marwanto hanya diam terduduk di ruang tamu sebuah rumah kecil. Rumah Warti. Tidak sepatah kata pun terlontar dari bibirnya yang mengatup. Hingga Warti datang membawakan segelas kopi.

“Diminum, Kang”
Marwanto masih diam. Matanya tajam memandangi pekatnya minuman yang disebut kopi itu. Pahit, mungkin seperti perasaannya.
“Terimakasih, Kang. Jadi Kang Marwan yang repot mengembalikan helm ku”
Sebenarnya Warti hanya basa basi. Ia yang meminta Marwanto datang mengembalikan helmnya.
Marwanto tak bergeming.
Warti tidak heran, tiga tahun ia mengenal Marwanto membuatnya cukup paham tentang bagaimana temannya itu.

Dengan gerakan tangannya yang lamban, Marwanto meraih segelas kopi di depannya lalu meminumnya.

“Jadi siapa yang sesungguhnya kau cintai, Kang?”

downljhgjhoad

Warti melemparkan pertanyaan itu tanpa dosa, dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya. Senyum laksana madu Tawon Kalimantan. Dahsyat. Niat Warti memang ingin sekedar menggoda Marwanto.

Tapi pertanyaan itu terasa berbeda di hati Marwanto. Mendadak badai datang, menghajar batinnya. Seperti tersambar petir. Marwanto kaget.
Ia tetap diam.

“Ah kamu ini, Kang. Kalau seperti ini pasti sedang ada yang tidak enak di hati. Ya sudah, kalau tidak mau cerita, nanti sms-an saja seperti biasa. Biasanya kamu banyak bicara di sms.”

Sekali lagi, Marwanto hanya menghela nafas. Meraih segelas kopi, lalu diam. Sejenak sepi.

“Kalau sudah, silakan pulang.” Warti mengusir Marwanto.
Marwanto tidak akan tersinggung. Ia tahu, Warti tidak benar-benar sedang mengusirnya.
Marwanto masih tidak bergerak.

“Oalah…ini aku lagi ngomong sama patung”, cletuk Warti kesal. Sembari ia berdiri, melangkahkan kakinya ke dapur super kecil yang jaraknya tak lebih dari lima meter. Tangannya cekatan mengelus-elus piring dan gelas yang dicucinya tadi sebelum Marwanto datang dengan sebuah lap kering.

“Warti…” itu kata pertama yang keluar dari mulut Marwanto sejak tadi.
“Nah, mbok gitu ada suaranya…”, Warti ketus dengan wajah sok galak.
“Aku masih menyayanginya. Aku sangat mencintainya. Ya, aku tidak pernah tidak sungguh-sungguh mencintainya

Warti terlihat sibuk, namun ia mendengarkan. Memperhatikan. Marwanto tidak masalah dengan apapun yang sedang dikerjakan Warti.

“Dia itu siapa? Yang mana? Lha kadang cerita yang ini kadang yang itu? tidak jelas”, kata Warti sambil menoleh sebentar.

“Iya, dia memang tidak jelas. Tapi sangat jelas membayangi pikiranku. Tiap jam, menit, detik. Tidak sedikit pun ada jeda. Aku tidak pernah berhenti memikirkannya”

“Hmm…” artinya Warti sudah siap mendengarkan tanpa akan berkomentar dahulu.

“Dia itu yang wajahnya terpajang di kamarku. Yang ku cetak besar. Ku pandangi setiap kali aku hendak tidur, dan bangun. Yang sering ku ajak bicara. Kadang ku cium keningnya jika rinduku tak tertahan. Aku selalu pamit ketika hendak pergi. Menjumpainya jika aku telah kembali. Dia, selalu tersenyum manis di kamarku”

Marwanto meneguk sedikit kopi hitam dihadapannya itu, lalu melanjutkan celotehnya.

“Ah, tapi aku sering kali kesal padanya. Kesal kalau dia tak mau ku ajak pergi sekedar menonton Jatilan” Marwanto menghentikan kalimatnya, bersamaan dengan Warti meghentikan usapan lapnya.

“Lalu suatu hari aku melihat dia pergi ke pasar buah dengan orang lain. Aku semakin kesal. Aku pulang, mengajak bicara wajah yang terpajang di kamarku. Aku ingin marah padanya. Tapi dia tetap saja tersenyum, membuat hatiku luluh. Aku tidak bisa sungguh-sungguh kesal padanya. Yang ada, aku kesal pada diriku sendiri yang tidak mampu memilikinya”

“Kau sudah seperti orang gila, Kang?!” ucap Warti tanpa menengok ke arah Marwanto.
“Iya, aku gila. Tergila-gila padanya”
“Sinting”
“Iya”
“Dia tahu kamu mencintainya?”
“Tahu”
“Lalu?”
“Tapi dulu…”, Marwanto tersnyum kecil. Tiba-tiba ia merasa dirinya lucu.

“Kalau aku menceritakan tentang gadis lain, ia tak pernah terlihat cemburu”
“Hahaha…” kali ini Warti tertawa, “Itu namanya, dia tidak mencintaimu, Kang. Tidak ada rasa memiliki. Kata orang, cemburu itu tandanya ada rasa memiliki, rasa cinta.”
“Mungkin. Dia memang pernah mengatakannya padaku”
“Dia sudah memiliki kekasih?”
“Setahuku belum”
“Itu kan yang kamu tahu, Kang”
“Masa bodoh! Seharusnya ia mengatakannya padaku”
“Ya sudah, cari yang lain saja”
“Belum bisa. Aku sudah membuka hatiku lebar-lebar untuk siapa pun yang ingin memasukinya. Tapi belum juga berhasil”, helaan nafas panjang membusungkan dada Marwanto.
“Cintaku padanya utuh, sampai-sampai tak ada pamrih untuk mendapatkannya. Aku membiarkannya bersama orang lain. Walau sesungguhnya, hatiku sudah seperti dicincang. Aku cemburu. Tapi bagaimana? tidak bisa. Lagi-lagi aku hanya mampu mengajak wajahnya yang tersenyum di dinding itu bicara. Itu sama dengan aku tidak bicara dengan siapa pun. Jelas tidak ada jawaban, kecuali senyumnya itu. Luluh lagi aku”

“Tapi dia baik”, Marwanto melanjutkan kalimatnya.
“Baik? Baik padamu saja atau pada semua orang?” tanya Warti sambil berjalan menuju Marwanto. Ia telah selesai melakukan pekerjaanya. Warti duduk tepat dihadapan Marwanto.
“Entah”

“Aku tidak tahu bagaimana perasaanya padaku. Aku ingin dia cemburu. Hah, tapi jangankan cemburu, dia hampir tidak peduli aku dekat dengan siapa. Kecuali aku sendiri menceritakannya. Dia biasa-biasa saja”

Marwanto tampak emosional. Diteguknya lagi kopi yang sudah hampir habis.

“Aku lelah” Marwanto menghela nafas panjang.
“Menurutmu, apakah dia mencintaiku?” Marwanto menanyakan hal yang sudah pasti Warti tak mengetahui jawabannya.
“Kamu kira aku dukun, apa?!”
“Bagaimana jika aku benar-benar meninggalkannya? Apakah dia akan kehilangan aku?”
“Entah lah”
“Aku harus bagaimana?”
Warti semakin bingung mengahadapi Marwanto.
“Kok malah tanya. Yang tahu dirimu sendiri, Kang. Kalau dari ceritamu, tampaknya dia tidak mencintaimu”
“Tapi aku tahu, kadang dia memikirkanku. Bahkan merindukanku”
“Aiih…besar kepala kamu. Macam jadi juru terawang saja. Kau tidak bisa memastikan itu. Hati orang tidak ada yang tahu. Sudahlah, tinggalkan dia, belajarlah mencintai orang yang mencintaimu”
“ Walau sikapnya demikian, barangkali dia mencintaiku juga. Hati orang memang tidak ada yang tahu.”
“Sudah, jangan buang waktumu untuk mengaharap ketidakpastian, Kang. Banyak wanita lain di bumi ini”
“Iya”

Warti terseyum. Tatapannya tertuju pada Marwanto yang sedang meneguk kopinya dengan sebuah kelegaan. Tegukan terakhir. Habis.

“Mau tambah?”
Marwanto hanya menggelengkan kepalanya. Dia kembali bungkam. Mungkin suaranya sudah habis.
Marwanto beranjak dari duduknya. Warti sudah tahu bahwa Marwanto akan pulang, ia tidak membutuhkan basa-basi Marwanto.
Warti ikut berdiri mengiringi Marwanto melangkah ke arah teras kecil rumahnya.
“Hati-hati, enggak usah galau. Jodoh tidak akan tertukar” kalimat Warti itu terkesan bijak. Sambil senyumnya mengembang.
Marwanto tidak langsung mengeluarkan kata-kata, selain membalikan bahu hingga tubuhnya menghadap  kembali ke arah Warti.
Marwanto teresenyum. Warti tersenyum lagi. Dilihatnya kembali  kelegaan tersirat di wajah Marwanto, jelas berbeda dengan ketika ia datang tadi.
“Doakan ya…”, ucap Marwanto singkat
“Tentu…” lagi-lagi segaris senyum  mengembang di wajah Warti yang sebenarnya tidak cantik.
“Lusa aku akan melamar Siti. Paling tidak aku sudah berniat untuk belajar mencintainya”

Itu kalimat Marwanto sebelum ia meninggalkan Warti dan rumah kecilnya. Senyum Warti masih mengantarkan Marwanto pulang.

***

Tidak haram hukumnya laki-laki menangis. Boleh. Seperti Marwanto. Pipinya yang kering tandus kini basah. Buliran air melompat di terpa angin malam. Lusa, ia akan melamar Siti. Seorang gadis anak teman tetangga Pak Dhe-nya, juga teman Warti waktu SMP yang baru dikenalnya sejak sebulan lalu.

Ketika malam semakin larut, semakin sulit pula mata Warti terpejam. Matanya masih memandangi langit-langit. Ia ingin lari. Lari mengejar Marwanto sebelum lusa tiba.

Yogyakarta, 10 Januari 2014

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s