Rotasi dan berakhirnya masa jabatan, kepemimpinan dan kepegawaian dalam sebuah lembaga merupakan hal biasa. Biasa bagi yang sudah lama bekerja. Biasa bagi yang sudah terbiasa pindah. Biasa bagi yang merasa tidak nyaman dengan situasi lingkungan kerjanya. Bahkan hal itu yang diharapkan.

Tapi tidak dengan yang ku alami saat ini, yang bahkan tidak terjadi pada kejadian sama periode sebelumnya.
Pucuk pimpinan di tempatku bekerja, harus menunaikan tugas di tempat yang lain. Untuk kemajuan karirnya. Ya, Rotasi pimpinan.
Jadi, apa yang salah?

Tidak ada. Kecuali perasaanku sebagai bawahan paling bontot di lembaga sosial ini.
Kurang lebih tiga tahun aku bekerja di lembaga ini, sebuah Panti Sosial yang menangani permasalahan wanita (akan lebih indah jika disebut perempuan). Selama di tempat ini, baru sekali aku mengalami pergantian pucuk pimpinan. Ya, Kepala Panti.

Ini panggilan hati, aku tidak pernah merasa terpaksa bekerja di sebuah panti sosial, yang kata orang tidak basah. Bahkan tidak berkembang layaknya lembaga-lembaga elit lainnya. Gerak yang terbatas dan tidak memiliki posisi tawar. Atau memang hal itu dikondisikan??  Entah.

Aku suka bekerja di sini sebagai seorang Pekerja Sosial yang sementara terjebak di administrasi. Bukan terjebak, ini hanya proses pembelajaran yang semata-mata memberiku wawasan yang lebih luas. Jika aku tidak memegang double job, mungkin aku tidak akan mengerti apa-apa. Kuper.

Yang dirotasi ini adalah pimpinan ke dua selama aku bekerja di panti ini.
Seorang bapak yang  tepat berusia 49 tahun bulan ini. Masalahnya adalah RASA KEHILANGAN. Ops, sebentar, kamu harus tahu mengapa aku merasa sangat kehilangan??

Akan aku ceritakan tentang beliau dari sedikit yang aku tahu.

AWAL KARIR BAPAK KEPALA

Beliau adalah seorang Magister bidang Ekonomi Pembangunan. Beliau mengawali karir  dari Ijazah SD, mulai dari seorang tukang sapu di sebrang lautan sana, Kalimantan. Sebenarnya beliau adalah lulusan SMP. Di usia belianya, beliau memberanikan diri merantau ke Kalimantan, tanpa sanak saudara.
“Angger ketemu wong ngapak, ya kuwi sedulur” begitu kisah beliau padaku
Entah bagaimana ceritanya, akhirnya beliau bertemu dengan ‘orang ngapak’ sehingga beliau sampai bekerja disebuah perkebunan kelapa sawit (kalau tidak salah).
Suatu ketika beliau mendaftar sebagai pegawai dengan dua Ijazah yang dimilikinya, SD dan SMP. Ada dua pilihan, ijazah SD untuk melamar di sosial, dan ijazah SMP di kehutanan.
“Dulu saya bekerja di hutan, masak mau masuk hutan lagi?” akhirnya beliau memutuskan untuk menggunakan ijazah SD-nya dan bergabung di dunia ‘sosial’.

Beliau cerdas. Kecerdasan beliau yang kemudian membawa beliau hingga jenjang saat ini.
Seorang remaja yang dulu ‘nekat’.
Masih banyak cerita inspiratif lainnya.
Bahkan kisah beliau tersebut sudah pernah dimuat dalam sebuah majalah di Kalimantan.

SEBAGAI KEPALA PANTI

Awal kedatangan beliau di Panti ini. Biasa saja, mengikuti arus. Kalau tidak salah, waktu itu bulan Januari 2012.
Kurang lebih tiga atau empat bulan beliau di panti ini, sesuatu tampak berbeda. Beliau begitu leluasa memberi ruang kepada anak buahnya untuk berpendapat.
Yang mengesankan, beliau menyulap ruang Kepala menjadi ruang rapat kecil yang begitu eksklusif khusus untuk berdiskusi dengan para pegawai lengkap dengan alat presentasi lainnya. Menarik.
Beberapa trobosan kegiatan, kebijakan yang tidak disangka bisa dilakukan oleh sebuah lembaga kecil dengan SDM yang terbatas.
Bagaimana cara beliau mengambil peluang. Membuat peta alternatif. Cara beliau membangun jejaring. Dalam satu langkah, bercabang kemana-mana. Menggagas hal-hal yang bagi kebanyakan orang dianggap merepotkan. Berpikir digital.
Yang paling aku kagumi adalah ketika beliau bisa membalik MASALAH MENJADI PELUANG. God, aku hanya bisa tersenyum mengikuti kemana beliau berpikir dan memprediksikan sesuatu.
Cemerlang!

Dengan gaya yang santai, selama dua tahun bersamanya, hampir tidak pernah melihat wajah kepanikan.
Everything is gonna be easy, guys….
Menghadapi banyak hal dengan ketenangan. Tidak pernah juga melihat beliau tergesa-gesa.

Jangan salah,
Hal konyol pun, tidak jarang dilakukan beliau.
Tapi menyenangkan….Ah beliau sering mencetuskan kata mutiara dengan tiba-tiba. Yang paling ku ingat, ketika beliau mengatakan

“Janganlah seperti katak dalam tempurung yang seolah bisa menjilat langit dan menyentuh cakrawala”

Ya, Panti harus membuka wawasan, sejajar dengan lembaga lainnya. Mengembangkan inovasi, berhak berimprovisasi. Memberikan kontribusi bak secara vertikal maupun horizontal. Tentunya untuk sebuah pelayanan yang terus berkembang mengikuti kemajuan zaman dan kompleksitas permasalahan sosial sesuai kebutuhan masyarakat. Yeaaah!

Cara beliau menolak, cara beliau tidak berkehendak. Dikemasnya dengan cantik. Tidak menyinggung perasaan. Akrab.

Haaah memang, beberapa kali gerakku terbatasi oleh kebijakan-kebijakan beliau. Beberapa kali juga berbeda pemahaman. Gergetan kadang. Tapi ya itu tadi, semuanya kembali biasa dikemas dengan indah.

Sering kali beliau melepaskan anak buahnya begitu saja, seolah tidak peduli. Namun, sesungguhnya beliau mengawasi. Ujungnya mengejutkan anak buah.
Beliau membesarkan hati panti ini, sepertihalnya lembaga lainnya sebagai pengambil peran dalam pembangunan masyarakat sejahtera.

Pokonya suasana kerja  menyenangkan.

SHOCK

Ya, aku bersedih. Bahkan menangis ketika mengetahui beliau tidak akan lagi bertugas di panti ini. Aku satu-satunya yang menangis di tempat ini. Si bungsu yang cengeng.
Sebagian menyangka bahwa aku bersedih karena takut akan terbebani pekerjaan. TIDAK.

Tadi adalah rapat terakhir dengan beliau sebagai Kepala Panti. Kami membahas tentang sebuah kegiatan yang belum dilakukan oleh panti lain. Bahkan tampak akan lebih ‘seru’ dibandingkan kegiatan-kegiatan sebelumnya. Kami sedang semangat-semangatnya. Aku, yang biasa berdiskusi dengan beliau jika kebingungan.
Ya, ketika berdiskusi dengan beliau, seperti mendung berubah menjadi biru. Tidak ada yang terasa sulit. Sepertihalnya tadi ketika aku berkonsultasi tentang kegiatan baru ini.

Dan, 15 menit setelah aku keluar dari ruangan beliau. Aku menerima kabar, bahwa beliau akan pindah BESOK PAGI.

Haiiii, lalu tadi itu apa?? Seolah beliau masih akan di tempat ini 10 tahun lagi. Tidak ada tanda-tanda. Tidak ada firasat.

Aku meyakinkan itu sebelum beliau masuk ke dalam mobilnya.
“Bapak pindah???”
“Iyaa e…” kata beliau sembari duduk di tangga dengan tertawa seperti biasanya. Sebatang rokok dinyalakannya.
“Kok mendadak…”
Dan beliau hanya tertawa.
Aku berlari, duduk tepat di depan komputer. Diam. Embun ini jatuh dari pucuk kelopak mataku. Kehilangan.
Ya, karena bagiku terlalu mendadak. Mendadak, ditengah-tengah semangat kerja yang tersirat 15 menit yang lalu! Ahhh kenapa tidak besok saja, kenapa tidak akhir bulan saja.
Tidak terbendung. Semua tumpah.

“Tuhan, aku kehilangan sosok guru. Aku kehilangan Bapak yang cerdas, seorang visioner. Aku belum khatam belajar pada beliau. Belum tamat”, hanya kalimat itu yang terucap dalam hatiku.

Aku sadar betul, pergantian kepemimpinan itu hal biasa. Harusnya aku tidak merasa kehilangan, beliau hanya pindah tempat. Aku masih sangat bisa berkomunikasi, berdiskusi dan sharing ide-ide baru dengan beliau.
Kepindahan ini juga merupakan kelanjutan karir beliau yang lebih baik di tempat yang baru nanti. Aku mendukung itu. Ini hanya soal kaget ditengah-tengah semangat kerja yang sedang membara. Apa memang reaksiku saja yang berlebihan?? Aku lebaiiii…entah.
Toh, nanti akan ada pimpinan baru yang barang kali sama baiknya bahkan bisa jadi lebih baik dari beliau.
Tapi ini perasaan yang tidak bisa diatur bro, shock! Intinya adalah Kaget!

Aku tidak bisa menuliskan semuanya. Begitu banyak pelajaran yang aku peroleh dari beliau. Aku jadi berpikir, belajar seperti halnya beliau berpikir. Memandang hal-hal yang tidak menyenangkan dari sudut pandang yang berbeda.
Aku mulai berpikir bahwa beliau di tempat baru itu sama dengan jejaring baru yang melahirkan peluang. Betul tidak?
Lembaga beliau yang baru, sebagai jaringan kerjasama baru yang dapat mendukung keberlanjutan panti yang juga punya hak untuk sejajar dengan lembaga lainnya.

Terimakasih Bapak, atas bimbingan, wejangan dan pelajaran berharga selama ini. Atas kesalahan yang selalu Bapak maklumi dan kemudian Bapak luruskan.
Sosok yang terbuka, inspiratif dan luar biasa. Semoga bisa membawa perubahan di tempat yang baru, serta mengibarkan karir dalam pengabdian terhadap masyarakat.

Terimakasih Tuhan telah memberi kesempatan pada ku pernah menjadi anak buah beliau. Terimakasih.

Haaah, masih ada seorang Bapak lagi. Lima bulan lagi masa kerja beliau selesai. Ini akan lebih menyedihkan walau tidak mengagetkan. Beliau yang mengajariku bagaimana bekerja. Hah aku akan mempersiapkan mentalku baik-baik.

Yogyakarta, 12 November 2013

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s