Rumah kecilku masih berantakan. Berantakan di mana-mana. Tapi aku sedang tidak peduli karena aku ingin segera menuliskan ceritaku hari ini.
Ku letakkan tas kecilku. Menyalakan laptop dan mulai mengetik sambil nyemil cokelat Milo yang ku beli kemarin.
Ini tentang pertemuanku dengan seorang ayah di tempat cuci motor.

***

Sudah ku rencanakan, setelah pulang kerja aku akan memandikan si Uphi ke tempat cuci motor biasanya. Jika ditarik garis lurus jaraknya hanya 300 m dari tempat tinggalku.
Entah, aku sedang sayang pada Uphi, baru kemarin ku bawa dia ke tempat servis. Aku jadi merasa bersalah pada si Onthi, Ontel Oenta ku yang sudah renta. Semoga dia tidak iri hati.
Nah, aku bingung. Akan makan dulu atau membawa Uphi ke tempat cuci. Sembari ku panaskan mesinnya, aku masih menimbang hendak kemana dulu. Tapi tidak juga memperoleh keputusan. Baiklah, mengalir saja sesuka hati.
“Breemmm….” suara Uphi sudah merdu lagi. Kemarin habis ganti filter oli. Hehe…

Aku sudah sampai di pertigaan. Kalau mau makan, aku harus belok ke kiri. Tapi tidak, aku memilih serong ke kanan, menyebrangi Jalan Bantulan memasuki sebuah tempat cuci kendaraan. Ada mobil ada motor. Aku suka mencuci motorku di sana. Pelayanannya cepat, bersih dan ramah.
Rupanya aku tidak akan mengantri terlalu lama. Hanya ada satu mobil berwarna hitam. Entah mobil apa. Begitu Uphi ku parkir, seseorang langsung mendekatiku dengan membawa lap basah.

“Diiiih…masnya pe de, emangnya ane mau nyuci motor. Orang mau beli sate kok?!” | hahaha …aye becande bang… 😉

Aku tidak mengikutsertakan helm milikku untuk dicuci. Ku bawa helm itu bersamaku. Helm ungu dengan bersticker “alone by must(baca : alon bae, mas?! – dengan logat ngapak-ngapak) .

Aku memasuki sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk menunggu. Kursi yang terbatas telah diduduki seorang pria dan seorang anak perempuan berseragam SMP dengan beberapa barang-barang milik mereka.
Jelas sekali wajahku kebingungan mencari tempat untuk duduk. Entah mengapa kemudian aku mengambil koran yang tergeletak di samping pria itu, padahal aku tidak memiliki maksud duduk di lantai dengan menggelar koran yang ku ambil itu, kok 😉

Sejenak pria itu melihatku yang kebingungan. Bergegas ia mengemasi barang-barang miliknya yang tergeletak di kursi sebelah.
Aku belum juga menemukan tempat duduk yang pas, sampai kemudian kursi di samping pria itu menjadi kosong. Dia menawariku duduk. Aku hanya tersenyum, dan mengucapkan terimakasih. Lalu duduk, langsung mengangkat koran ke depan mataku. Padahal aku tidak sedang membaca apapun. Masih beruntung korannya tidak terbalik.
Seorang anak kecil berambut panjang sebahu berlari melintasiku, menghampiri remaja berseragam SMP yang mengenakan jilbab putih. Gigi remaja itu dipagari kawat berwarna pink.

Aku menoleh ke arah pria disampingku. Pria itu tampak masih muda, ku perkirakan usianya baru tiga puluhan tahun. Tapi, kemudian aku ragu dengan perkiraanku saat melihat celana jeans biru yang dikenakannya. Celana jeans yang bolong di bagian lutut. Ah, maksimal tiga puluh tahun, bisa kurang lah.
Dan jelas, aku berpikir bahwa si kecil berambut sebahu itu tadi adalah anaknya.

Pria itu tersenyum ramah padaku.
“Sering nyuci di sini mbak?” dia memulai percakapan
“Kadang-kadang” jawabku singkat
“Kalau Mas-nya sering?” Aku menyebutnya Mas saja.
“Ya nggak sering, tapi sudah langganan”
“Rumahnya dekat sini?”
“Iya, di daerah situ” sembari aku menunjuk arah kampungku
Tiba-tiba anak kecil tadi menghampirinya dengan manja. Menyebutnya “Ayaahhhh….”
“Iya sayang….kenapa?!”

Jujur kacang ijo guys, aku kaget. Bukan kaget karena memang gadis kecil itu anaknya, tapi cara si pria itu menyambut si kecil. Subhanallah, sol sepatu ya….

Aku hanya tersenyum seraya memandangi gadis kecil yang sedang manja di pangkuan ayahnya.
“Kenapa, Dek…?” sapaku, sok kenal
Gadis itu tetap acuh bahkan membuang mukanya dari pandanganku
“Tu ditanya Tante….” kata sang ayah muda. Ane dipanggil tante, cyiiinn….huk
“Namanya siapa Dek?” sapaku lagi
“Ayo itu ditanya tante, salim dulu sayang sama Tante”
Tak henti batinku bertasbih, pria itu begitu lembut membimbing putri cantiknya untuk menyalamiku. Ku ulurkan tanganku.
“Sudah berapa tahun?”
“Tiga tahun”
Kemudian gadis kecil itu berlari lagi.
“Putranya berapa?”
“Tiga, ini ikut semua”

Woooow, serius??? Aku menahan kaget. Betapa tidak, gadis berseragam SMP itu adalah putrinya.
Aku menutupinya dengan senyum, lalu ku lemparkan pandanganku ke gadis remaja yang sedari tadi di depanku.
“Sini nak, salim dulu…”
Tadinya, aku masih maklum ketika yang diminta salaman denganku adalah si kecil yang 3 tahun tadi. Lah ini…??!
Gadis remaja itu bangkit dari duduknya, tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku. Menyalamiku dengan mencium tangan kananku. (Alamaakkkkk….tua amiir gue)
“Tiga cewek semua ya, Pak?”
Ya, aku mengubah panggilan ‘Mas’ itu menjadi ‘Pak’. Sungkan. Walau sesungguhnya sangat belum pantas jika pria itu dipanggil ‘Pak’. Entah usia berapa ia menikah.

“Enggak, yang ke dua laki-laki” jawabnya
“Ini habis pulang kerja mbak?” sambung pria itu, giliran menanyaiku.
“Iya”
“Kerja di mana?”
“Di Panti”
“Wah tugas mulia ya” senyumnya mengembang
“Ah sama saja, hehehe” aku hanya tertawa kecil
“Dengan mbak siapa?”
“Dessy” aku menyebutkan namaku tanpa berjabat tangan. Hei…padahal namaku Widha.
“Dengan bapak siapa?” aku balik bertanya.
“Yus” jawab nya singkat, hanya satu suku kata.
“Saya punya teman, yang bekerja di panti juga”
“Oh ya…?”
Kali ini kami membicarakan soal pekerjaan. Singkatnya, temannya itu dulu kuliah di salah satu perguruan tinggi di Kota Kembang. Pria itu berasal dari Jawa Barat. Kuliah di Bandung. Sedangkan istrinya berasal dari Jawa Timur. Saat ini beliau tinggal di Yogyakarta dengan keluarganya. Tidak jauh dari tempatku tinggal. Sudah sembilan tahun.

“Teman saya kuliah di …..” pria itu menyebutkan nama kampusku. Padahal, sangat jarang orang tahu tentang kampusku.
“Saya kuliah di sana”
“Angkatan tahun berapa?”
Lalu kusebutkan angkatan dan tahun lulusku.
Fresh Graduated” kata pria itu seolah dia sudah jauh….jauh…jauh lebih tua dariku.
Aku hanya tersenyum.
“Berapa tahun kuliah”
“Empat tahun”
“Sudah merasakan jadi orang Bandung dong ya?”
Sekali lagi aku hanya tersenyum.
“Bandung sekarang tambah macet”
“Iya, tapi Jogja juga Pak”
“Asli Jogja?”
“Bukan, saya asli …”
“Di sini tinggal dengan keluarga?”
“Saya kost”
“Jangan-jangan masih single” pria itu tertawa, entah apa yang lucu. Aku juga tertawa, menertawakan diriku sendiri.

Mobilnya telah selesai dicuci. Dia pun beranjak dari duduknya, mengeluarkan dompet lalu menarik beberapa lembar dari dompetnya.
Seorang anak laki-laki berseragam Sekolah Dasar menghampirinya yang tengah berdiri.
“Ini yang laki-laki. Ayo nak salim sama mbaknya?!”
Masih sempat dia mengenalkan anaknya padaku.
Segera anak laki-laki yang tampak penurut itu mengulurkan tangannya, bersalaman dan mencium tangan kananku. Oh God…aku terharu. Huk huk huk.
Ku sebutkan namaku, dan pria kecil itu menyebutkan namanya.
Selang beberapa saat si kecil berambut sebahu tadi menghampiri kakak laki-lakinya. Aku senang menggoda gadis kecil itu. Ku tanya-tanyai saja dia dengan pertanyaan-pertanyaan standar anak kecil.
“Ayo kita pulang” pria itu mengajak anak-anaknya beranjak memasuki mobil hitam yang sudah bersih. Ketiganya menurut, memasuki mobil.
“Mari mbak, duluan”
“Ya Pak monggo” kataku.
Ketika mereka telah memasuki mobil, aku menunduk menghadapkan mataku pada tulisan “Mangayubagyo Dhaup Ageng GKR Hayu & KPH Notonegoro” yang menjadi highlight.

Sebelum mobil itu benar-benar keluar dari tempat cuci, aku menengoknya kembali. Aku melihat kaca jendelanya dibuka, sekali lagi pria dan anak-anaknya itu melempar senyum sembari mengatakan “Monggo…”
Tidak hanya padaku, tapi juga pada mas-mas yang telah mencuci mobilnya.

Temans, pikiranku menerawang.
Subhanallah, tidak ada lima belas menit aku bertegur sapa dengan seorang pria dan anak-anaknya itu, tapi aku sangat terkesan. Betapa ramahnya dia. Betapa dekatnya dia dengan anak-anaknya. Betapa sangat lembut ia membalas sapaan putra putrinya. Cara pria itu mengajari anak-anaknya berinteraksi dengan orang asing. Ya, berinteraksi denganku. Anak-anaknya dicetak ramah. Dalam penampilan yang sama sekali tidak ku sangka. Aku yakin pria itu orang pintar. Aku yakin pula pria itu orang yang berkecukupan. Tapi pembawaannya low profile, down to earth. Sepertinya hal itu juga ia turunkan kepada putra putrinya.
Ya yang paling berkesan bagiku adalah ketika dia mengenalkan anak-anaknya padaku. Ya…itu.

Aku jadi penasaran. Seperti apa ya ibunya? Wanita yang beruntung pastinya. Yang tidak hanya memiliki sesosok suami, tapi juga AYAH.
(Langsung ambil sikap berdoa,…hehe)

Cukup memberiku inspirasi. Suatu ketika nanti, semoga Allah juga mengijinkanku memperoleh suami dan juga ayah yang baik untuk anak-anakku. Amien.
Tentunya, aku pun harus memantaskan diriku | malah curcol -_-‘

***

Uphi sudah selesai dicuci. Aku tidak lupa urusanku berikutnya. MAKAN.
Cuuuss ah, aku melesat ke Barat. Ke arah Godean. Tujuanku adalah Soto Pak Sholeh.

“Soto satu, minumnya Es Jeruk ya Mas?!” aku memesan pada si Mas pelayan kedai soto.

Aku mengambil kursi, dan duduk dengan tenang menunggu pesananku disuguhkan.
Seporsi Soto Daging dan Segelas Es Jeruk sudah di hadapanku. Ku pindahkan es dalam gelas ke mangkok yang berisi soto | Sttt…. diam saja, tidak usah heran.
Tapi aku merasa, seseorang mengamatiku. Memandangiku aneh. Tiap kali pandangan kami bertemu, ia kemudian berpura-pura melihat hal lain. Dia si Mas pelayan. Ya mungkin dia merasa, keberadaanku adalah sebuah keanehan.
Hahahaha…
Yogyakarta, 23 Oktober 2013
Usai Maghrib.

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s