Mumpung memoriku masih kuat tentang ‘cerita’ kemarin malam.

***

Kemarin adalah hari Jumat. Orang bilang itu hari pendek. Lalu hari panjangnya yang kayak apa ya? Hmm. Oke.

Seperti biasa, aku bekerja separuh hari.  Sebelum waktu Shalat Jumat tiba, aku sudah sampai di rumah. Di kontrakan kecilku yang (sedang) tidak berantakan.
Sudah ku rencanakan, hari itu aku akan pergi ke sebuah service center. Kamu tahu?  handphone ku mati.

WITHOUT  SMARTPHONE

Ya, pertama-tama aku akan menceritakan tentang handphoneku yang ‘tewas’ itu.
Oh God, dua hari aku hidup tanpa handphone itu (biasa aja deh mbak).
Sebenarnya, aku masih memiliki handphone lain untuk berkomunikasi sih…walau terbatas telepon dan sms-an. Jadi intinya dua hari itu aku hidup tanpa bersanding dengan browser, sosial media, audio recorder, map dan kamera. Wah gejala addict.  Mengapa fasilitas itu penting untukku??

Browser
Standar, sama dengan pengguna smartphone lainnya. Browser penting bagiku untuk update berbagai informasi. Ya biar kelihatannya berwawasan luas,  gitu sob 😉

Sosial Media
Sebagian orang menganggap penting sosial media untuk dapat berinteraksi secara luas dengan manusia-manusia lain, mencari teman baru, berjumpa teman lama, cari pacar baru, berbisnis, sharing, mengeluh, pamer dan lain sebagainya. Motivasi menggemari sosial media, sangat beragam termasuk membuang kejenuhan. Nah…fungsi sosial media bagiku  lebih sebagai ‘teman’ saat sendiri. Soalnya aku sering sendiri. Eh enggak juga sih, eh kadang-kadang sih. Ehh… (plin plan)

Jadi, kalau ada orang lain yang bersamaku, aku akan jarang menggunakannya.  Efek samping negatif dari sosial media juga sangat beragam. Sudah banyak dibahas di berbagai artikel, dan aku yakin kamu tau apa saja itu. Poin pentingnya adalah jangan menggunakannya secara berlebihan. Apa pun yang berlebihan kan tidak baik. Kalau kamu mulai mendapati dampak buruk sosial media pada diri dan sekitarmu, segera batasi ya 😉

Audio Recorder
Audio recorder untuk apa? untuk merekam suara lah. Nyadap. Kan keren tu macam kasus-kasus di  TV gitu yang terungkap lewat rekaman suara. Hahaha…

Pastinya audio recorder  jadi penting untukku karena aku suka merekam suaraku sendiri atau suara orang lain kemudian aku share atau aku koleksi saja,  lalu bisa kudengarkan kembali di waktu senggang dan saat kurang kerjaan.

Map
Map alias Peta. Aku bukan Dora , cyin…Bisa dibilang, peta adalah separuh nyawaku ketika melakukan sebuah perjalanan (lebaiii). Alasannya adalah :

  1. Aku suka menyurusi jalan atau tempat yang belum pernah aku lewati sebelumnya sehingga aku perlu menjajaki  dengan menggunakan aplikasi peta. Selain itu juga menggunakannya jika aku ‘nyasar’ / tersesat. Akan sangat repot jika aku harus membawa  Atlas atau Globe setiap kali jalan-jalan kan ??
  2. Aplikasi Peta membantuku menjadi orang sotoy.
    Maksudnya, dengan sering melihat aplikasi peta (terutama satellite mode) membantuku jadi sok tau tentang beberapa wilayah. Ke-sok tau-an ku ini terkait dengan beberapa hal antara lain : a) Biar nyambung kalo diajak ngomong sama orang tentang suatu daerah ; b) Biar kelihatan paham wilayah. Soalnya kalo kelihatan tidak paham, muka bingung bisa-bisa dikerjain orang. Jaman sekarang cuy, waspadalah…waspadalah…; c) Melacak kebenaran asal muasal seseorang. Teori dasarnya adalah “Orang tidak akan percaya diri berbohong tentang sesuatu, jika dia berhadapan dengan orang yang (terlihat) paham tentang hal yang sedang ia per-bohong-kan” |halah…  Ini penting untuk aku yang kepo-an :’) – (reader : so what?)
  3. Menghilangkan rasa takut dan menumbuhkan kepercayaan diri saat tersesat (kayaknya memang aku sering tersesat yak) | Biar nggak kelihatan oon-oon amat waktu nanya ke orang,  jalannya kemana atau naik angkutan jurusan apa gitu…
  4. Bisa membantu orang hilang (halah). Walau pun kamu tidak pernah datang atau bahkan tahu tentang wilayah tertentu, bukan berarti hal tersebut menghalangi niat baikmu untuk membantu seseorang yang kehilangan arah. Hmm,… (muka bijak :’l)
  5. Dan lain-lain (sesuai kebutuhan)

Kamera
Nah, ini dia fasilitas penting nomor  wahid. Tiap kali memburu handphone di pasaran, fasilitas pertama yang aku lihat adalah kamera. Banyak teman yang menyarankan aku untuk membeli kamera saja. Bahkan hasil jepretannya akan lebih baik dari pada sebaik-baiknya kamera handphone. Oh temans, aku masih akan memilih kamera handphone saja. Mengapa demikian?

  1. Praktis
  2. Sudah include dengan fitur lain terutama untuk share hasil jepretan (hmm… lebih  tepatnya untuk pamer hasil jepretan – atau nyombong hasil jepretan? | astaghfirullah tidak bermaksud demikian :’l) dan editing sederhana
  3. Karena jadi satu dengan handphone, pasti dibawa kemana-mana (kecuali ketinggalan)
  4. Kalo curi – curi foto nggak kelihatan (nah lho!)
  5. Apa lagi yak…hmm…gitu lah pokoknya, hehe

Yang jelas kalo jalan tanpa kamera itu kayak ada yang kurang. Dan kamera yang bahkan lebih praktis dari kamera pocket, yaaa…kamera handphone 😀

Itu semua pendapatku saja, pastinya kamu punya pendapat yang berbeda denganku bukan? Sah kok…saahhh… *salaman :’)

Ternyata aku masih bisa hidup layak dan wajar tanpa menyanding smartphone.  Kata kawanku :  “without smartphone, we already have smartbrain” Iyaaps, sepakat…bungkus bang! :p

SERVIS HANDPHONE

Nah kembali ke topik perjalanan Jumat malam. Aku melenggang menuju sebuah service center di wilayah Jalan Mangkubumi, Yogyakarta. Informasi keberadaan service center ku peroleh dari hasil browsing. Aku masih ragu, dimana itu tepatnya Jalan Mangkubumi. Ah, handphone ku kan mati, seharusnya aku bisa mengakses aplikasi peta. Akhirnya dengan tidak praktis, aku menghidupkan laptop, memasang modem dan membuka peta digital via internet. Ribet kan?

Aku berangkat dari tempat tinggalku selepas Maghrib. Berdasarkan informasi yang aku peroleh, service center tersebut buka pada pukul 09:00 – 21:00 WIB. Aku kira dengan jarak kurang lebih 7 km dari tempat tinggalku, aku yakin tidak akan sampai service center pada tengah malam. Asal perjalananku lancar tanpa hambatan. Amien

Benar saja, tidak ada 20 menit, aku telah memasuki gerai ber-AC yang dingin. Ku dapati banyak manusia di dalamnya. Sebagian diantara mereka terlihat cantik dengan kulit putih dan rambut panjang. Sebagian lagi tidak cantik, karena mereka laki-laki. Banyak handphone dengan berbagai merk.
Oh dunia, semakin canggih saja peralatan komunikasi dari masa ke masa. Aku hampir lupa dengan tujuan awalku mengunjungi service center untuk menghidupkan lagi handphoneku yang sedang tewas. Yang aku lakukan justru mencicipi satu per satu handphone yang terpajang di sana. Pastinya, aku menjajal kameranya.

Wow, godaan bro…godaan! Godaan untuk lebih konsumtif. Sungguh aku jatuh hati pada sebuah handphone berkamera 13 MP itu. Mahal? Jelas. Tiga bulan gajiku tidak akan cukup. Begitu pun aku masih harus tidak makan, tidak belanja sembako, tidak belanja sabun cuci, sabun mandi, tidak menyumbang orang hajatan, orang melahirkan, orang sakit, orang meninggal, dan parahnya lagi berlibur sedekah selama tiga bulan. Itu demi sebuah handphone dengan kamera yang kereeennnn….! Ooow ! woles…woles…

Tidak sebegitunya sih. Bisa saja aku memilikinya, asalkan aku rela menyisihkan sebagian uangku untuk ditabung selama sekian bulan. Tapi ketika sudah terkumpul, siap-siap saja untuk tertinggal karena sudah ada handphone dengan spesifikasi terbaru yang lebih canggih. Haap, tergoda lagi. Haaaft….tidak akan selesai mengikuti perkembangan teknologi.
Baiklah, sekedar mencicipi saja. Aku sedang tidak ingin membeli handphone baru. Bukan tidak ingin, tapi belum perlu. Belum butuh.

Setelah berputar-putar menjajal satu per satu handphone canggih dan beberapa tablet, aku mendekati seorang perempuan. Dia cantik. Tenang, aku tidak bermaksud untuk pedekate sama si mbak-nya. Aku cuma mau tanya, “Dimana service center-nya, mbak?”
Si perempuan cantik itu memberi informasi pada ku, bahwa service center sudah ditutup. Tutup sejak pukul 16.30 WIB. Yaaahhh 😥

Hikmahnya adalah, tidak semua informasi dari internet itu benar adanya. Kedua, jangan suka menunda untuk segera melaksanakan niat.
Aku pun berbalik ke arah pintu kaca. Ada tulisa pull di gagang pintunya, ku tarik dan aku keluar. Otakku berputar, hmm…mau ke mana ya. Aku memutuskan untuk mencari tempat makan.

Waktu itu sudah pukul 19.00 kurang sedikikit WIB, aku meninggalkan tempat parkir.
Agenda selanjutnya adalah mencari tempat makan. Makan malam.

BELUM JADI MAKAN

Roda kendaraanku berputar, tubuhku terbawa ke arah Barat menyusuri wilayah Gowongan Kidul. Terus hingga aku menemukan jalan dua arah yang lebih lebar ukurannya. Di sana, di depan pintu gerbang sebuah kantor pemerintah, tiba-tiba aku berhenti. Kendaraanku tidak nyaman dikendarai. Aku curiga, ada yang tidak beres dengan si ‘Uphi’. Uphi itu nama motor merahku. Benar saja, ban belakang sudah habis. Eiiits….. tidak aku makan kok!. Bocor.

“Haft…malam-malam begini, dimana tambal ban?!”, aku bergumam sendiri.

Nekat saja aku naiki kendaraanku pelan-pelan. Remponk cyin kalo musti dituntun. Lagi pula kostumku sedang tidak mendukung untuk bergerak bebas sebebas bebasnya. Aku menyusuri jalan, mlipir-mlipir. Aku lupa, aku tidak bisa berbelok langsung ke arah Utara ke masuk Jalan Tetara Rakyat Mataram karena ada pembatas jalan. Sudahlah, aku mulai mengikuti arah angin berhembus yang akan membawaku ke tukang tambal ban (cieileee)

Aku sampai di sebuah perempatan. Karena belok kiri jalan terus, aku teruskan lajuku ke arah Jlagran. Ke arah Pasar Kembang. Jika terus ke Timur, kamu akan menemukan gerbang Selatan Stasiun Tugu. Kalau ingin ke Malioboro, tidak boleh langsung ke kanan, kamu harus mengikuti rute memutar. Kecuali kamu jalan kaki. Bebas.

Yaps, aku tersenyum lega ketika membaca tulisan ‘TAMBAL BAN’ di sisi kiri jalan. Ada dua orang laki-laki sedang ngobrol. Sudah bapak-bapak. Langsung saja aku menghampiri mereka.
“Bisa tambal ban, Pak?”
Dengan sumringah salah satu dari kedua laki-laki itu bangkit dari duduknya. Aku percayakan Uphi padanya. Sedangkan aku duduk menunggu di sebuah dingklik lawas, bersebelahan dengan laki-laki yang satunya.

Sementara Uphi diotak-atik, aku nangkring sambil bercakap ngalor ngidul  dengan laki-laki disebelahku itu. Seorang bapak-bapak separuh baya. Tentang asal, tentang pekerjaan, tentang usaha mini market, tentang Jogja yang tak seperti dulu lagi, tentang bossnya yang kaya dan baik,  tentang panti tempat ku bekerja (sosisasi dhab), tentang handphone china dan hal lain sampai akhirnya obrolan kami buyar karena sebuah teriakan dari arah Barat.

Aku penasaran, ku tegakkan kepalaku menengok ke arah sumber suara keras tadi. Tidak hanya aku yang penasaran, sebagian orang yang mendengarnya sontak memandang ke arah yang sama. Seorang laki-laki berbadan kekar, bekulit hitam dengan rambut tidak lurus, mengenakan celana selutut bertelanjang dada di tengah jalan raya. Sekali lagi ia berteriak dengan mata bulat menyala seperti lampu merah ketika seseorang menggunakan motor King mendekatinya. Dia marah-marah, bahkan beberapa kali mengibaskan tangannya ke arah seseorang itu dengan kasar. Walau demikian, pria dengan motor King itu tak jera, seperti sedang merayu perempuan ngambek, diikutinya pria bertelanjang dada yang sedang marah itu. Sampai mereka melintas di depan mataku. Ada perasaan khawatir, bagaimana kalau tiba-tiba si pria bertelanjang dada itu nekat berlari ke arahku. Ah…dasar aku terlalu ge er 😀

“Biasa, mabuk itu” kata bapak-bapak yang tadi ngobrol denganku.
Dan kami kembali melanjutkan percakapan dengan topik yang berbeda.

Sebenarnya aku ingin menanyakan tentang hal lain, mengingat wilayah tempatku nangkring itu juga sering disebut-sebut sebagai bekas area prostitusi. Menarik, ketika aku bisa memasuki perbincangan hingga ke arah itu, tapi aku belum punya cukup nyali untuk bertanya sampai ke sana. Yang ku lakukan hanya mengobservasi. Sepintas semua normal, tak ada yang ganjil. Waktu itu masih pukul 19.40- an WIB. Kurang malam. Ah sudahlah,… aku sedang tidak ingin mencari hal-hal aneh malam itu. Tidak lama kemudian, ban Uphi sudah selesai ditambal. Aku membayar Rp. 7000,- lalu pergi. Aku belum jadi makan 😥

SUP IKAN BALI

Aku lapar. Memang tujuan mencari tempat makan belum berhasil terlaksana. So, harus kemana aku sekarang? Pertanyaanku waktu itu.
Tidak memungkinkan jika aku mampir makan steak di tempat biasa (halaah…nggiaya…)
Kalau pun ke angkringan terdekat, malam-malam, nangkring, sendiri dengan kostum seperti itu, hmm…lebih baik aku merebus mie di rumah saja deh.
Yang aku butuhkan adalah mencari tempat makan yang nyaman dan aman untuk perempuan. Eiiits….sebentar-sebentar, aman untuk perempuan? Sebegitu terancamkah perempuan? …. Hap, tidak akan aku teruskan untuk membahasnya.

Kembali ke soal makan…
Aku segera memutuskan. Jika sepanjang perjalanan pulang menyusuri Jalan Godean aku tidak menemukan tempat yang menggetarkan hatiku, maka aku akan membeli Pecel Lele. Dibungkus.

Radius 1,5 -an km dari tempat tinggalku. Tepatnya sebelum perempatan Jalan Kabupaten – Jalan Titi Bumi aku melirik ke lajur kanan. Ada tempat makan yang ku pikir akan cukup nyaman dan aman. Menu utama yang ditawarkan adalah steak.
Ku parkir motorku, duduk di bangku dekat kasir. Seorang pelayan menyodoriku buku menu. Aku kehilangan minat untuk memesan steak. Tidak sreg kalau perut sedang lapar seperti waktu itu. Tenang, masih banyak menu lainnya.

Wouw, Sup Ikan Bali. Segar sepertinya. Akhirnya, aku memesan satu paket Sup Ikan Bali yang disingkat SIBA. Satu paket berisi nasi bakul untuk satu orang, seporsi Sup Ikan Bali dan segelas teh manis hangat. Sebenarnya ada yang tidak dihitung paket, tapi pakai satuan ons. Ah mau makan saja kok ribet. Sudahlah. Selain satu paket SIBA, aku memesan satu Jus Apel tanpa es (jadinya Ju Apel, kan?)

Ada yang aneh? Kalo kamu sudah pernah membaca cerita-ceritaku sebelumnya, insya Allah tidak akan merasa aneh. Ada dua jenis minuman kan? Mungkin berlebihan untuk satu orang. Tidak apa-apa, satunya lagi akan ku letakkan menjorok mengarah ke kursi di hadapanku. Supaya orang mengira aku tidak datang sendiri. Hahaha… (segitunya, melas amat  … ) Soal diminum atau tidak, itu urusan nanti. Insya Allah tetap diminum kok 🙂

Selang 20 menit (lama ya?) pesanan datang. Satu bakul kecil berisi nasi (yang kurang banyak) untuk ku makan bersama sup. Dua menit kemudian, seorang pelayan datang dengan membawa mangkok besar. Kira-kira berdiameter 20-an cm. Isinya adalah potongan ikan yang berenang-renang dalam kuah kuning beraroma segar. Beberapa rempah penyedap masih sengaja ditinggalkan dalam kubangan kuah yang tampaknya bercita rasa gurih itu. Kali itu memang sangat berlebihan untuk satu orang penikmat (bisa kembung kalo ngabisin kuah segitu cuy…). Lagi pula tidak sebanding dengan nasi yang diberikan 😥

Aku siap melahapnya. Laparr mbakyu…!?!

Emmm….lumayan. Kuahnya harum rempah, rasanya mirip-mirip kuah Tom Yam cuma tidak terlalu asam, dan rempahnya tidak terlalu tajam. Aku makan cepat sekali. Dalam sekejab, perut sudah kenyang. Habis. Jus apelnya juga, kecuali teh yang masih tersisa setengah gelas. (Kelaparan apa doyan mbak?)

Alhamdulillah, sudah sah. Sayang sekali aku tidak dapat membagi fotonya. Begitulah hariku tanpa kamera.
Aku membayar dengan uang recehku. Untung tidak kurang. Rencanaku berikutnya adalah pulang ke rumah.

Ku kendarai motorku pelan-pelan. Aku menikmati malam bersama lalu lalang kendaraan lainnya. Menyebrangi Ring Road Barat dengan bantuan lampu merah kuning hijau yang menyala bergantian.
Entah apa yang ku dapatkan dari perjalananku selain kenyang. Hahaha… entah

Malam itu di Demak Ijo (foto lama)

***

Hari ini aku di rumah. Rumah orang tuaku di desa nun di sana. Aku sudah pergi ke service center pada hari Sabtu sebelum pukul 16.30 WIB tentunya. Handphone ku tidak bermasalah. Tewas karena aku terlambat mengisi baterainya saja. Tidak ada 10 menit disentuh petugas service center, dia sudah kembali normal. Tapi aku sudah berjanji akan memberikannya kepada adikku yang bulan ini berulang tahun. Kasihan sebenarnya jika aku memberinya barang bekas, bahkan yang sudah pernah sekarat. Dari pada aku belikan yang dengan spesifikasi yang lebih rendah, dia tidak mau. Mungkin juga tidak enak hati dengan kakaknya yang terlalu baik ini. Ahaaiii… :p

Temanggung, 12 Oktober 2013 – dilanjutkan kembali di Yogyakarta, 16 Oktober 2013

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s