Sodara, suka kulineran?
Yaps…
Kalau kamu singgah ke Yogyakarta, kota nan adem ayem dan istimewa jangan lupa arahkan langkahmu ke Jl. Wates. Disanalah kedai Soto Kadipiro berdiri sejak tahun 1921, sebelah Barat perempatan Wirobrajan.
Di bagian kanan kiri jalan tersebut, tidak hanya satu saja tempat makan yang bertuliskan “SOTO KADIPIRO”. Itu karena induk Soto Kadipiro telah membuka cabang menjadi Soto Kadipiro Satu, Dua, Tiga bahkan ada yang bertitel Soto Kadipiro Plus. Sebagian tersebar di Jalan Wates berdampingan dengan induknya. Akan tetapi, cabang lainnya terdapat hingga ke Kabupaten Kulonprogo. Konon yang membuka cabang tersebut adalah anak-anak maupun sanak saudara dari Bapak Karto Wijoyo, sang pendiri Soto Kadipiro.

WP_20130616_016

Kali ini aku akan mengajakmu mengunjungi induk Soto Kadipiro. Seperti ku katakan tadi, pendiri Soto Kadipiro ini adalah Bapak Karto Wiyoto, beliau meniggal pada tahun 1972.
Soto Kadipiro (induk) ini buka mulai pukul 08.00 WIB sampai waktu yang tidak bisa ditebak. Pengunjung kedai soto ini seabrek. Tengah hari saja, soto sudah habis karena pindah ke perut para pengunjungnya. Jadi lebih baik datang pagi hari jika kamu ingin menikmati kuliner soto yang sudah terkenal seantero Yogyakarta ini.

Apa yang istimewa??
Karena aku bukan penggemar soto, aku tidak begitu paham dimana letak keistimewaannya. Bagiku, jika perut lapar semua makanan jadi enak. Hehe
Tapi aku akan berusaha mendiskripsikannya,
Sotonya berkuah kuning. Rasa kuahnya gurih, kabarnya sih karena kuah itu berasal dari kaldu ayam kampung yang telah diproses sedemikian rupa. (rahasia dapur, cuy).
Tentunya kuah tersebut berisi suiran ayam kampung, tauge, kol dan … (apa ya, lupa…) Kamu bisa menganalisa isinya dari gambar di bawah ini. Jangan khawatir, ada nasinya kok, hehe

WP_20130616_003

Di sana disediakan juga nyamikan pelengkap lainnya, ada ati ampela, tahu, tempe dan perkedel.

Yang justu menarik untukku adalah kekhasan interior Soto Kadipiro. Dari luar tampak bangunan rumah yang didominasi warna hijau. Sederhana. Di halamannya biasa terparkir berbagai jenis mobil.

WP_20130616_018

WP_20130616_017

Ketika kamu masuk ke dalam, kamu akan menemukan deretan meja dan kursi yang sudah ditempati pengunjung lainnya. Kamu harus sabar mencari dimana kursi dan meja yang kosong. Seperti aku waktu itu, cukup sibuk mencari kursi mana yang bisa ditempati. Ramai sekali.

WP_20130616_011

WP_20130616_009

Setelah duduk, pelayan akan datang untuk bertanya padamu. “Pesan apa?” intinya begitu. Silakan pesan, aku tahu kamu tidak akan memsan siomay kan??

Waktu itu aku dan keluargaku duduk di dekat pintu keluar (pintu masuk juga sih). Aku puas mengamati seisi ruang besar penuh manusia itu (lebay). Sambil menunggu pesanan, mataku berputar-putar (lebay lagi). Ada keunikan yang baru aku sadari. Betapa ruangan itu dipenuhi dengan kalender dan jam dinding. Aku membayangkan, jika bulan habis akan repot sekali membalikan satu persatu halaman menuju bulan yang lain.

 WP_20130616_005

WP_20130616_006

Entah ada berapa, aku belum sempat menghitungnya karena pesanan sudah datang. Pelayanannya cukup cepat. Lima porsi Soto Ayam Kampung untuk kami.

Setelah selesai makan, kami pun membayar.
Aku tertarik ikut ke kasir karena sebuah bingkai yang memuat tulisan beraksara Jawa. Aku masih ingat bagaimana membacanya walau terbata-bata. Kamu bisa membacanya?

WP_20130616_012

Ya, tulisan itu berbunyi : “Kamulyaning Urip Dumunung Ono ing Tentreming Ati” yang artinya “Kemuliaan Hidup Ada pada Tentramnya Hati” Nah lho…berdamailah dengan hati, awalnya berdamai dengan perut dulu.

Tidak hanya kata mutiara dengan aksara Jawa itu saja, ada pula bingkai lain yang merujuk pada wejangan-wejangan kemanusiaan. Baca sendiri ya (kalau kelihatan). Unik.

WP_20130616_013
Ahh, sayang sekali aku lupa berapa harga per porsinya…tidak terlalu mahal kok. Semoga Soto Kadipiro bisa menjadi referensi kuliner kamu saat berkunjung ke Kota Berhati Nyaman ini ya…


Yogyakarta, 16 Juni 2013

(Tulisan yang tertunda)

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s