Mungkin sudah banyak tulisan lain yang membahas tentang angkringan. Ada yang belum tahu apa itu angkringan?
Menurut artikel yang aku baca, angkringan berasal dari bahasa Jawa ‘angkring’ yang sebenarnya memiliki arti duduk santai. Kalau ‘nangkring’ sama-sama duduk santai tapi beda cara duduknya. Duh susah menjelaskan, kapan-kapan aku contohkan.
Kembali ke pengertian angkringan, yaitu sebuah grobag dorong yang menjual berbagai macam makanan dan minuman yang biasa terdapat di pinggir ruas-ruas jalan atau tempat strategis lainnya. Angkringan lazim ditemui di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Akan tetapi akhir tahun 2010, aku sudah menemukannya di Bandung. Tepatnya di sisi Timur taman Gasibu, dekat kantor Telkom Bandung. Kalau di Solo dikenal dengan warung Hik (Hidangan Istimewa ala Kampung).

Menu yang disajikan di angkringan sangat beraneka. Seperti di restoran ternama, angkringan juga memiliki menu spesial yang sangat khas, yaitu sego kucing atau nasi kucing.
Biasanya nasi kucing merupakan bungkusan nasi dan lauk. Nasinya seukuran kepalan tangan, lauknya  oseng tempe atau sambal teri yang nikmat. Kadang ada yang menambahkan mie dan telur dadar seiris ukuran 3×3 cm. Hehehe, serba mini. Bungkusnya pun khas, kalau biasanya nasi sayur dibungkus dengan model pincukan (yang kayak gitu lah pokoknya …hi), berbeda dengan bungkusan angkringan, biasanya nasi dan lauknya dibungkus model bungkusan tempe gembus. Bingung ya? Penasaran? Silakan datang ke angkringan terdekat.

Selain nasi kucing, ada beberapa lauk lain yang disajikan di angkringan. Yang pasti ada adalah gorengan, entah itu tahu atau tempe goreng. Biasanya ada tahu bacem dan tempe bacem. Tidak ketinggalan kepala ayam dan cakar ayam. Kepala ayam dan cakarnya dimasak bacem. Yang juga tak ketinggalan adalah sate kerang atau atau usus. Wedhang atau macam-macam minuman pun tak luput disajikan. Sudah pasti ada teh hangat, kopi dan wedhang jahe. Beberapa angkringan menyediakan jenis minuman yang lain, yang lebih njawani. Aku juga belum pernah mencoba.

Kawan, jangan tanyakan soal kesehatan makanan secara medis. Tidak perlu melalui penelitian yang rumit,  tentu tidak ada yang bisa menjamin ke-higenisan makanan angkringan. Tapi ada hal lain, yaitu kesehatan secara pikiran dan batiniah yang bagi beberapa orang dapat diperoleh di sana.
Angkringan menjadi tempat strategis untuk berkumpul, berdiskusi, melepas penat hingga sekedar bersenda gurau. Suasana remang yang menyehatkan mood kalangan kelas bawah. Bukan berarti dilarang untuk kalangan menengah ke atas. Angkringan bagai sasana yang terbuka untuk khalayak tanpa memandang perbedaan, hanya kadang, manusianya saja yang pemilih.

Angkringan itu cafe-nya rakyat menengah ke bawah. Tempat tukang becak mengurai lelah sehabis mengayuh pedal becaknya. Tempat pak sopir mengusap peluh sehabis seharian mengangkut manusia-manusia ke tempat tujuan mereka. Tukang panci keliling, mas-mas tukang ojek, seniman lukis, pematung bahkan manusia elegan yang tidak risih dengan kondisi rakyat jelata bisa jadi singgah di sana.

Sebagian besar perkumpulan di angkringan didominasi oleh kaum adam, sampai ke penjualnya. Kalaupun ada pedagang angkringan perempuan, kebanyakan pengunjung yang tahan lama berbincang di sana adalah kaum pria. Ini bukan soal ketidaksetaraan gender. Menurutku hal tersebut hanyalah kondisi alamiah, naluriah yang memanggil para pria hadir di sana dan kaum perempuan memilih bertahan menjaga rumah.
Itu lazimnya. Jika kemudian ada angkringan yang didominasi kaum perempuan, hal tersebut menjadi tidak lazim. Bukan berarti tidak ada. Ada.

Gambar

Baru-baru ini aku menemukan angkringan yang didomiansi kaum perempuan. Aku menyebutnya ‘angkringan ibu-ibu’. Tidak cukup kuat jika aku melihatnya sekali lalu menyimpulkan demikian. Beberapa kali aku melihatnya, tak ada yang berbeda termasuk keremangan di dalamnya. Pada suatu malam, tak puas aku memandangi dari kejauhan. Aku mendatanginya, masuk lalu duduk bersama kaum perempuan lainnya. Persis, menu yang disajikan juga tak berbeda ternyata, hanya tak ada satu orang priapun yang bertengger di sana. Aku bertahan cukup lama, pastinya mereka lebih lama dariku. Entah apa yang sedang diperbincangkan para ibu itu, yang jelas mereka sedang nongkrong di angkringan.

Oh dunia, selalu ada sisi yang berbeda dalam keseragaman.

Yogyakarta, 29 Juli 2013

 

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s