Gambar

Rumahku berantakan. Sudah seperti kapal pecah. Siapa lagi, kalau bukan gara-gara Laut. Laut itu anakku. Usianya baru tiga tahun. Sedang aktif-aktifnya. Kalau tidak berantakan, artinya aku mengekang kebebasannya untuk berekspresi.
Barang apapun ingin dia sentuh, sebelum kemudian dihamburkan ke lantai. Ah, dulu saat usiaku sebaya Laut, aku juga seperti dia.
Ku kemasi satu persatu barang yang disebar ke lantai itu. Pumpung Laut sedang diajak keluar oleh Bi Ijah.

Tanpa sengaja aku menemukan secarik kertas kumal di lantai dekat bufet ruang tengah. Tercecer bersama hamburan barang lainnya. Aku seperti mengenalnya. Lalu ku pungut kertas itu sembari ku baca tinta hitam yang tertoreh di sana.
Aku tersenyum sendiri.
“Masya Allah, ini kertas keajaiban. Mengapa bisa tercecer di sini?” aku bergumam pelan, tanpa seorang pun yang ku ajak bicara. Betul. Itu adalah kertas keajaiban. Keajaiban milik Tuhan yang mengawali kehadiran Laut dalam kehidupan ku. Laut, buah kebahagiaanku, permata hatiku. Bukan aku saja, tapi kami. Aku dan Mas Fandi.

Seperti terbentuknya laut di muka bumi ini, yang adalah tanda kebesaran-Nya. Laut yang diperkirakan lahir 4,4 milyar tahun lalu masih bisa memberi nafas kehidupan hingga saat ini.  Seperti Lautku yang senantiasa menjadi nafas kehidupan kami. Laut yang ku dekap dalam pelukan seperti setianya ombak memeluk pantai.

Mungkin siapa pun tak akan percaya, hal ini terjadi pada ku. Jangankan orang lain, aku sendiri masih setengah berangan. Merasa masih tertidur. Tapi, Laut sudah sering membisiki telingaku menjelang Subuh tiba, menggelitiki ku supaya segera terjaga. Tentu saja Laut tak melakukan itu sendiri, karena ayahnyalah yang menuntun tangannya hingga membuatku tak bisa menahan geli.
Itu nyata, dan aku benar-benar terjaga dari alam tak sadarku. Aku lihat Laut dan Mas Fandi sudah tersenyum menjemputku dari tidur. Artinya aku sedang tidak bermimpi, kan?

Rutinitas keluarga kecilku di pagi hari sebelum kemudian kami melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Aku dengan Bi Ijah, sedangkan si kecil Laut yang ku dandani dengan kain sarung dan peci  yang mungil, pergi ke Masjid bersama ayahnya. Lucu sekali. Laut belum paham bagaimana itu shalat, biarlah ia belajar sedikit demi sedikit dari apa yang ia lihat.

Jika usia Laut saat ini adalah tiga tahun, maka baru empat tahunlah aku mengenal Mas Fandi. Dia pria yang memberi Laut dalam kehidupanku.
Kalau boleh ku katakan, Mas Fandi adalah jodoh yang diturunkan Tuhan dari langit ke tujuh. Ya, diturunkan begitu saja oleh Tuhan. “Bruggg….” mendarat di hadapanku tiba-tiba. Cobalah bayangkan, siapa yang tidak terkejut?

***

Hari itu aku terlalu lelah. Bukan karena bekerja atau menyelesaikan sesuatu, tapi karena memikirkan masa depan. Aku terlalu khawatir dengan masa depanku. Yang tak kunjung terang. Kadang kala aku seperti manusia putus asa. Hanya bisa menyudut dan menangis.
“Dimana aku bisa menemukan dia? Dimana!!”
Aku berseru tanpa satu orang pun mendengarkannya. Karena seruan itu hanya menggema dalam hati.
Dia itu adalah orang yang akan mendampingiku mengisi lembar-lembar kisah hidup kelak.
Seperti ada yang membatasi waktuku mencari. Dateline.
Itu semua tidak bisa ku ingkari. Aku seperti dikejar kemana pun aku pergi. Dikejar untuk segera mendapatkan dia. Padahal siapapun tahu, bahwa sejak ruh ditiupkan dalam alam kandungan, digariskan pula jodoh, mati dan rejeki seseorang. Huft, mungkin aku sedang mengalami krisis kepercayaan. Krisis kepercayaan kepada Tuhan yang sudah pasti akan memberikan yang terbaik untuk ku pada saatnya nanti. Termasuk proses yang harus aku lalui ini, adalah hal terbaik.

Kalau bisa dibilang, aku manusia yang kurang bersyukur. Apa saja yang pernah ku minta pada Tuhan, sudah aku dapatkan. Bahkan dengan perjuangan yang tidak terlalu keras. Apa yang tervisualisasikan dalam benakku sudah ku genggam. Pendidikan yang lancar tanpa harus memakan biaya, pekerjaan yang ku impikan, tempat tinggal yang ku idam-idamkan. Apa lagi?

Ku usap pipiku yang basah.
Ku ambil air wudhu, lalu bergegas menunaikan Shalat Dhuhur. Paling tidak membuat hatiku lebih sejuk sejenak.
“Jika terus menyendiri seperti ini, lama-lama bisa stress!” aku mulai berbicara sendiri. Bahaya.
Aku mengganti bajuku. Mematikan semua alat komunikasi. Mengambil kunci motor yang tergeletak di atas meja. Menyalakan mesin kendaraan, dan….

Aku pergi menuju tempat yang aku sendiri tak tahu. Seiring kata hati yang gulana.
“Tuhan, bawa aku ke suatu tempat…dimana aku bisa menemukan Engkau. Kebesaran-Mu yang dahsyat itu”
Namun, kendaraanku tak kunjung mau berhenti, sampai akhirnya aku sudah bertengger di atas kursi Rumah Makan Steak di bilangan utara Yogyakarta. Sendiri? Tentu saja.  Memesan makanan yang terlalu berlebihan jika dimakan satu orang. Biarlah. Aku duduk di bangku nomor 22.

Pikiranku menerawang, ku biarkan makanan di depanku mendingin. Baru sedikit ku cicip, rasanya menjadi tak seenak biasanya. Aku melamun.
“Darrrr…!!” seseorang mengagetkanku dari belakang
“Eh, Fitri ?”

Fitri adalah kawan dekatku, tapi soal ini aku tak bercerita padanya. Entah mengapa ia bisa berada di belakangku tiba-tiba. Jangan-jangan Fitri membuntutiku. Pikiranku jadi ngawur.
“Wah kok bisa bertemu di sini ya? Jodoh…” gurau Fitri
Aku sedang sensitif dengan kata itu. Seandainya bisa meminta, aku akan melarang Fitri menyebut-nyebut soal jodoh. Puft…
“Eiya…”, ku jawab ala kadarnya
“Ngapain kamu sendirian di sini, Da?”
“Semedi. Cari wangsit”
“Hahahaha…kamu ini tidak berubah. Kalau sedang ada masalah selalu begitu. Pasti Handphone mu dimatikan. Pantas ku telepon tak bisa. Rencananya aku ingin mengajakmu makan bersama dengan Darma dan Ical. Ya sambil berdiskusi kecil-kecilan lah. Tapi tidak jadi. Lagi pula Ical sedang ada acara”
Aku hanya tersenyum.
“Lalu untuk apa kamu ke sini Fit?” tanyaku
“Aku membuat janji dengan Darma. Mau mengembalikan buku”
“Oh…”
Aku baru ingat, tempat tinggal Darma dekat dari sini. Pantas Fitri membuat janji di tempat ini.

“Kamu tampak kusut sekali, Da? Biasanya masalah seperti apapun, tak pernah membuatmu sekusut ini? Kau sudah tak mau bercerita pada ku ya?”
“Haaaah, entah lah Fit. Aku penat sekali”
“Hei….ceritakanlah, sobat”
Fitri selalu punya jurus untuk bisa membuatku bercerita. Hebat. Dan ceritaku mengalir begitu saja, hingga tak terasa mengalir pula air dari sudut-sudut mataku yang memerah.
“Hei…sudahlah. Malu dilihat orang, Da”
Ku usap dengan tisyu yang disodorkan Fitri.
“Ini adalah proses. Kamu tahu perjalananku bertemu dengan Mas Iman kan. Tidak mudah. Bahkan sampai saat ini, kami masih belum bisa bersama-sama. Tapi ini titah yang Maha Kuasa, Da. Yang penting kita sudah berusaha semampu kita”
Fitri yang memang sudah berpengalaman itu menceramahiku. Kata-katanya masuk ke telinga kananku, bersarang sebentar lalu keluar lagi. Sudah sering aku menyimak nasihat maupun kisah inspirasi semacam itu, tapi sampai kapan aku akan terus menjadi pendengar? Aku ingin mengalaminya. Jadi pelakunya!
Saat itu aku hanya diam.

“Eh kalian berdua….sudah lama?” tiba-tiba Darma muncul di hadapanku dan Fitri. Menyunggingkan senyuman. Darma, dia selalu terlihat bersemangat dan bahagia.
“Sedang serius ngobrol apa tadi? Kok aku tidak diajak?”
“Ada yang sedang galau” cletuk Fitri
“Da, matamu merah. Ah…jangan bikin malu lah, nanti dikira aku yang membuatmu menangis…”, goda Darma
“Diam kamu ah…”, aku ketus menanggapinya
“Duh sensitif”

“Ini buku mu ku kembalikan. Terimakasih ya”
“Sama-sama Fit”
“Mana undangannya? Kapan jadinya kamu akan menikah?”
“Insya Allah bulan depan”
Aku hanya diam menyimak Fitri dan Darma berbicara.
“Kamu kapan, Da?”
Pertanyaan Darma itu memojokanku pada ruang sempit dan gelap, hingga aku tak bisa bernafas. Aku tak segera menjawab. Hanya diam lalu menarik nafas panjang. Kulempar tatapanku ke arah Fitri yang hanya tersenyum.
“Jawablah pertanyaan Darma, Da…” senyum Fitri terlihat begitu bijak dengan kedipan mata yang lambat.

“Insya Allah, tidak lama lagi…”, aku berusaha tersenyum saat melontarkan kalimat itu. Aku berusaha meyakinkan diriku, bahwa tak lama lagi, saat bahagia itu akan datang.
“Amien. Mengapa tidak kamu sebutkan saja hari dan tanggalnya, supaya malaikat mencatatnya, memohonkan pada Tuhan untuk dikabulkan”, celoteh Darma
“Ah kamu ini…aneh-aneh saja”
“Heiii….semua yang tidak masuk akal manusia itu bisa jadi aneh. Termasuk kehendak Tuhan yang tidak sampai kita pikirkan dengan otak kita yang terbatas ini”

Sebenarnya Darma sudah mengerti apa yang sedang aku risaukan. Dan sebenarnya ia tak perlu mempertanyakan hal seperti tadi itu. Entah apa maksud Darma. Mungkin hanya ingin memulai pembicaraan atau sengaja memancingku untuk membahasnya. Yang aku tahu, maksud Darma baik.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan dalam kehidupanmu saat ini, Da?”
“Hmmm”
“Maksudku, seperti apa keinginan mu?” Darma meralat kata-katanya. Kali ini giliran Fitri yang diam memperhatikan.
“Yang terbaik”, jawabku singkat.
“Hahahhaha….”
“Kenapa kamu tertawa?”
“Eh siapa tahu si Mas Kasir itu adalah jodoh terbaikmu, sana kenalan!” cletuk Darma membuatku kesal.
“Da, kadang kita merasa keinginan kita itu sangat sederhana. Kalaupun memang benar-benar sederhana, sangat mudah bagi Tuhan untuk segera memberikannya pada mu. Tapi mengapa tidak demikian? Benarkah keinginanmu itu hal yang sederhana? Apa memang sesederhana kata yang kamu ucap “Yang Terbaik”?”
Kata-kata  Darma itu membuatku terpaku. Entah akan membuatku menyadarinya atau semakin bingung.

“Bukankah selama ini Tuhan tidak pernah mleset memberikan apa yang kamu minta? Kau sering menceritakannya, bahkan mengulang-ulang cerita bahwa Tuhan selalu memberikan apa yang kamu angankan. Itu pernyataanmu sendiri, kan? Kalaupun ditunda-Nya, itu pasti karena Dia akan memberikan padamu disaat yang tepat. Apa kamu masih meragukan Kebisaan Tuhan? Jadi jika kamu tidak segera diberi oleh Tuhan, maka tanyakan pada dirimu sendiri. Jangan-jangan kamu tidak tahu apa yang sebenarnya kamu minta pada Tuhan? Jangan-jangan kamu juga belum siap untuk menerimanya?”
Sekali lagi aku terdiam.

“….dan mintalah pada Tuhan dengan tegas. Tidak plin plan. Hei…jika terus ada revisi, bagaimana mau cepat disetujui? Paketnya sudah akan dikirim, ternyata kamu mengajukan spesifikasi baru yang berbeda. Dari pada kamu kecewa, Malaikat membatalkan kirimannya, merevisi lagi…Sobat, jangan diam. Tetapkan hatimu. Lagi pula tidak akan pernah puas jika kau menuruti hawa nafsu. Segera tetapkan pilihanmu. Dan pantaskan diri untuk menerima itu” panjang lebar kalimat Darma. Mulutku terkunci rapat.
Otaku berputar. Darma seperti punya indra keenam. Dia mengerti apa yang sama sekali tidak aku ketahui tentang diriku. Aku hanya bisa mengiyakan penilaiannya atas kondisiku.

“Sudahlah, tidak perlu larut dalam kesedihan. Lihat dalam dirimu lalu apa yang bisa kamu lakukan. Good luck ya” Darma tersenyum. Senyumnya itu tanpa dosa. Huft. Segala hal seperti sangat mudah jika Darma yang bicara.

“Jangan mengejar bayangan. Tapi peluklah sumber cahayanya” itu adalah kalimat terakhir Darma yang ku dengar sebelum kami berpisah di tempat parkir.

***

Aku pulang ke rumah. Sepanjang jalan aku melamun. Memikirkan perkataan Darma.
“Ah…aku harus berbuat sesuatu. Tidak ada gunanya terus menerus dipermainkan keadaan”, aku bergumam dalam hati.

Aku harus belajar mendefinisikan apa sesungguhnya kemauanku. Menerjemahkan “Yang Terbaik” dalam bentuk yang konkrit.

Malam itu, seusai shalat Isya’ aku mengambil secarik kertas HVS folio. Dan aku mulai mendaftar satu persatu ‘kriteria’ yang aku inginkan. Ya, yang aku inginkan. Yang menurutku, aku butuhkan. Aku jujur menuliskannya dan detail. Anggap saja aku sedang akan memesan seperangkat computer dengan spesifikasi tertentu.

“Ah, biar…kan Tuhan Maha Bisa”, lagi-lagi aku hanya berkata dalam hati. Kali ini kalimatku terkesan angkuh. Seolah meragukan ‘Kebisaan Tuhan’ lalu ingin mengujinya. Menantang Tuhan. Mungkin aku sudah terlalu kesal dan putus asa. Atau, entah lah. Aku hanya mengikuti kata hatiku. Atau aku mulai gila?

Satu halaman pun tak cukup. Sudah lima puluh butir lebih. Aku hanya menuliskan angan-anganku. Sampai hal terkecil. Tahi lalat di pipi pun tak terlewat menjadi ciri yang aku inginkan dari jodohku kelak. Ku pastikan tak ada yang terlewat.

Ternyata benar kata Darma, jika aku mau jujur, keinginanku itu tak sesederhana ucapanku. Pantas saja Tuhan belum mengirimkan siapapun, mungkin butuh waktu untuk mendapatkan spesifikasi yang ku tulis tadi. Semakin ngaco pikiranku.

Ku rasa selesai. Aku ingat kata-kata Darma, tak akan puas jika menuruti hawa nafsu. Aku mulai membaca satu persatu yang ku tulis itu. Menghapus yang kiranya hanya memanjakan nafsuku. Dari lima puluh lebih, berkurang sudah. Tapi tetap saja melebihi satu halaman folio.
Ku ulang membacanya satu persatu. Cukup. Tidak ku tambah lagi. Aku meyakinkan diriku, bahwa spesifikasi yang ku tulis tersebut sudah lengkap dan tidak hendak menyesal jika Tuhan memberikan sesuai dengan apa yang aku tulis. Tidak akan ada yang kurang.

Mataku mulai lelah, ku rebahkan tubuhku pada ranjang yang bersprei kain biru bermotif bunga-bunga. Itu rasanya, seperti menjatuhkan diri di tengah-tengah taman.
Tiba-tiba aku mendudukan tubuhku kembali. Mengambil secarik kertas yang kuletakkan di samping badanku tadi. Membacanya satu persatu. Lagi.

Kali ini ada yang berbeda. Bukan soal tulisan yang ku buat, tapi pada diriku.
“Egoisnya”, tiba-tiba aku ingin berbincang pada diriku sendiri
“Hai iya, kau egois”, kata hatiku pada ku
“Mengapa demikian”
“Begitukah permintaanmu pada Tuhan, sedangkan kau tak melihat dirimu sendiri”
“Apa yang kau maksud, wahai hati?”
“Lihatlah dirimu, pantaskah dirimu meminta yang demikian?”
“Pantas? Tentu saja pantas. Ingin meminta apa saja pada Tuhan, terserah aku saja. Aku ingin bermanja pada Tuhan”
“Egois!”, dia membentak ku
“Apa maksudmu?”
“Pantas saja Tuhan belum memberimu apapun, karena kau sendiri tidak pernah menyiapkan diri untuk menerimanya”
Aku masih belum mengerti apa yang dia maksud.
“Bacalah kembali tulisanmu, dan lihatlah seperti apa dirimu!”, hatiku berkata lagi
“Janganlah kau menuntut sesuatu jika dirimu sendiri tak berbuat apa-apa. Tak menyeimbangkan dirimu sebaik kebaikan yang kau minta”

Sepertinya itu kata-kata terakhir hatiku sebelum aku jadi kaku. Benar. Kata hatiku benar. Betapa egoisnya aku. Bukankah hamba yang baik diperuntukkan untuk hamba yang baik pula. Mengapa aku tak memperbaiki diriku. Jangan-jangan memang aku belum pantas menerima kebaikan itu?

Jika aku menginginkan dia yang sholeh, maka tentulah aku harus berusaha menjadi shalihah. Jika menginginkan dia yang penyayang maka tentulah aku harus berusaha menjadi orang yang dapat menyayangi. Kalaulah yang ku inginkan dia yang tampan, maka haruslah aku berusaha mempercantik diriku, batiniah dan lahiriah. Paling tidak logikanya seperti itu.

Ku ambil lagi penaku. Ku ulang lagi membacanya. Kali ini dengan memahami satu persatu diantaranya.
Setiap butir ku pikirkan baik-baik tentang bagaimana aku harus mengupayakan. Mencoba melogika. Memantaskan diriku untuk setiap butirnya. Ku goreskan penaku di sana menuliskan kalimat “Maka aku harus….”
Ku pasangkan butir-butir keinginanku dengan hal-hal yang harus ku upayakan pada diriku sendiri.
Kurang lebih demikian, hingga sejumlah poin keinginan yang aku tulis. “Ya, jika aku ingin yang demikian maka aku harus …”

Selesai sudah, dua halaman folio itu hampir penuh. Kali ini terasa lebih lengkap. Justru kemudian aku lebih terfokus pada butir-butir hal yang harus aku upayakan dari pada apa saja yang aku inginkan.
Ku baca lagi untuk yang kesekian kalinya. Ternyata dalam butir-butir hal yang harus aku upayakan, semunya berisi tentang kebaikan-kebaikan.
Kebaikan itu harus ku mulai dari diriku. Toh kebaikan itu tidak semata-mata hanya agar bisa mendapatkan dirinya, tapi untuk kebaikanku. Untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Mungkin ini yang disebut dengan memantaskan diri.

***

Sejak aku menulisnya, kehidupanku mulai berubah. Yang tadinya malas, sedikit lebih rajin. Yang semula keras kepala dan tidak sabar, mulai lebih lunak dan sedikit bisa berlapang dada. Dan banyak hal lainnya.
Tuhan, tulisan itu membantu ku melihat diriku sendiri lebih jernih, lalu memperbaikinya.
Hatiku terasa lebih tenang, lebih ikhlas menjalani proses kehidupanku. Bahkan hingga aku lupa tujuan awal aku menulis “daftar keinginanku” itu. Aku sudah lupa karena aku terlalu sibuk dengan urusan perbaikan diri.

Sampai suatu ketika, Tuhan mengingatkanku…

Usai acara workshop di sebuah kampus,
Ku kemasi barang-barangku dengan sedikit tergesa. Pukul 14.00 WIB aku sudah ditunggu Fitri di rumahnya. Aku sudah berjanji akan menemani Fitri bertemu dengan rekan bisnisnya. Kebetulan suami Fitri tidak pulang minggu ini.
Tak terasa semua barang sudah masuk dalam tas ku hingga penuh kembali. Bergegas aku menuju parkir lalu menacapkan gas, kencang menuju rumah Fitri.

***

Malam sudah menjemput senja, sungguh hari yang melelahkan. Tapi aku harus menyiapkan bahan untuk pekerjaanku besok pagi. Maka aku menunda kantuk ku.

Ku tumpahkan isi tasku. Ku pilih apa saja yang musti aku bawa besok pagi dan menata barang-barang lainnya di rak.
“Hei…agenda siapa ini?” ada barang tak di kenal menyelundup ke dalam tas ku. Tanpa bermaksud lancang, aku membuka agenda itu. Aku tau, siapapun akan melakukan hal seperti yang ku lakukan yaitu membaca isinya tanpa ijin sang pemilik.

“Pada ujung senjaku, di batas cakrawala. Menanti rembulan dan bintang menghias langit. Seperti kerlip manik-manik pada kain sutra”

Fandi

Tulisan yang manis.
Mungkin agenda ini tertinggal oleh pemiliknya di laci tadi bersama barang-barangku. Bagaimana aku bisa mengembalikannya. Aku terus saja membolak balik halaman agenda itu berharap ada  contact person  yang bisa aku hubungi. Namun tidak demikian adanya, yang aku temukan justru tulisan-tulisan dengan kalimat yang mempesona. Pemiliknya suka menulis puisi. Ada riang, ada duka, ada kelucuan. Ah, aku hampir membaca seperempat dari keseluruhan isinya.

Tulisan-tulisannya membuatku penasaran. Siapa sesungguhnya pemilik agenda merah marun itu.
Keisenganku tak juga habis, ku ketik namanya pada ‘mesin pencari’. Konon dengan internet, tak ada yang tidak bisa ditemukan. Barangkali saja ku bisa menemukan jati diriFandi, sang penulis puisi. Jangan-jangan ia seorang pujangga, penyair, budayawan bahkan artis semacam Darwis Tere Liye, Cak Nun, Mbah Sujiwo Tedjo, atau siapalah yang belum sempat ku ketahui.
Satu kali enter, sudah banyak sekali nama ‘Fandi’ terpampang di layar komputerku. Tapi hampir tak ada nama lengkapnya. Mungkin karena ada ribuan orang di dunia ini yang bernama Fandi. Tapi, entah yang mana.
Ku buka halaman demi halaman pencarian. Semakin kebingungan. Aku menyerah.

***

Agenda setebal dua centimeter itu masih ku bawa kemanapun aku pergi. Pada waktu senggang di tempat yang nyaman, ku baca isinya. Menarik. Penulisnya tampak menghayati setiap bait yang ia tulis. Menyelam dalam keanggunan kalimat-kalimat yang bergelombang.
Kadang aku tersenyum sendiri membacanya.
Sepertihalnya sekarang. Aku masih tetap tersenyum menyimak sebuah syair yang mengibaskan angin sejuk di hatiku. Indah. Sambil menunggu rapat kerja yang belum juga dimulai. Mungkin karena aku datang terlalu awal. Ini rapat kerja antar lembaga yang aku sendiri baru pertama kali menghadirinya, karena seniorku sedang ada urusan lain. Aku diminta mewakili.

“Hmm, asyik sekali membacanya,Mbak?!” tegur sebuah suara dari suatu arah
Aku tak sadar ada seorang pria telah duduk di kursi samping kananku.
“Oh iya mas. Sudah dari tadi?” balasku, gugup karena kaget.
“Baru saja. Dari mana, Mbak?”
“Dari tadi di sini, Mas!” Huft, jawabanku ngaco. Diluar kendaliku.
“Hahahah…”, pria itu hanya tertawa
“Baca apa, Mbak….sepertinya khusuk sekali?”, Dia melirik ke arah agenda yang ku pegang.

“Oh, ini hanya tulisan biasa”, aku tersenyum
“Puisi ya? Sepertinya bagus, Mbak”
“Iya Mas, kok Mas tahu?”
“Tahu, tadi saya melirik sedikit sebelum menegur njenengan
“Oh…”, aku hanya nyengir
“Mbak suka puisi? Suka menulis puisi?”
“Iya, saya suka puisi. Hanya saja tidak bisa menulisnya”, padahal baru kali ini aku menyukai puisi. Karena agenda itu.
“Lalu itu tadi puisi siapa, Mbak?”
“Emm….emmm”, aku bingung akan menjawab bagaimana. Percuma aku menceritakan bagaimana awal mula aku menemukan agenda berisikan kumpulan puisi itu. Bukan hal penting untuk diceritakan pada orang yang baru sekali ku temui ini.
“Milik teman saya,Mas” jelas ku jawab ngawur saja.
“Oh….”, pria itu hanya tersenyum. Dia percaya padaku.
“Oh ya, nama Mbak siapa?”
“Saya Khamida. Panggil saja … terserah….”
“Oh ya, Mbak Terserah…” Ah, pria itu mencoba melucu. Aku hanya tersenyum.
“Kalau Mas, siapa?”
“Perkenalkan, Saya Syaffandi. Panggil Fandi saja”

Sungguh pada akhir kalimatnya, dia hanya tersenyum tenang. Tenang tapi aneh. Seolah memberi tahu sesuatu padaku.
Sedangkan aku membeku. Beku. Aku tak bisa mendiskripsikan bagaimana rasanya. Kalau boleh memilih, aku memilih pingsan tak sadarkan diri.

***

Dari sanalah, aku mengenal Mas Fandi. Hingga kemudian dia menikahiku. Mungkin seperti itulah jodoh, datang dalam sekejap mata. Dia, keajaiban dari surga itu. Kiriman Tuhan dari langit. “Bruggg…..” mendarat di hadapanku tiba-tiba. Seorang pria yang memberi Laut dalam kehidupanku. Dia yang memiliki tahi lalat di pipi kirinya.

Syukurku pada Tuhan

Jadi, permohonan manakah yang tidak Tuhan kabulkan selagi itu baik bagimu?

Backsound :

Yogyakarta, 19 Juli 2013

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s