Retno minggat. Yu Jilah kalang kabut saat mendapati anak perawannya tidak ada di rumah. Setiap sudut sudah ia cari, setiap lubang sudah diintipnya. Tidak juga terlihat batang hidung Retno. Yu Jilah lemas, ia berteriak memanggil Kang Sarman.
“Pak…..anak mu Pak, bocah edan…ilang Pak!!!”
Kang Sarman yang kala itu sedang utak atik di kebun belakang, bergegas lari tergopoh-gopoh. Ia melihat istrinya menjerit, menangis. Air matanya deras dari kejauhan.
“Ada apa Bu…ada apa??”
“Retno Pak…Retno…Minggat!”
“Astaghfirullah Bu…”
Kang Sarman lemas. Ruhnya menerawang, terbang hingga tubuhnya tidak sanggup lagi tegak. Tubuh Kang Sarman jatuh ke tanah.
“Pak!!!”, semakin keras tangis Yu Jilah. Namun Kang Sarman tetap tak bergerak. Kang Sarman pingsan.

***

Aku, bukan Siti Nurbaya

Retno sudah ada di kota. Di sebuah kamar kos ukuran 3 x 3 m yang ia sewa sore tadi. Termenung duduk di sebuah kasur tipis. Hati Retno teriris, perih mengingat ayah dan ibunya di kampung.
Retno datang ke kota itu tanpa tujuan yang jelas, selain hanya lari dari rumah. Bahkan ia tidak tahu akan sampai kapan, dan akan bertahan dengan cara bagaimana. Entah. Retno hanya membawa sedikit uang  dan sebuah rekening bank. Itu rekening tabungan hasil kerja keras Retno selama ini.

Sebenarnya kota itu sudah tidak asing bagi Retno. Retno pernah bekerja di sana, di sebuah industri kerajinan perak sebelum akhirnya ia berhenti dan pulang atas permintaan si Mbok-nya, Yu Jilah. Kotagede, kota tua nan eksotis dengan ke-Jogja-annya. Dinding-dinding tua Kotagede, menjadi tempat berlindung bagi Retno.

Hari sudah mulai larut. Retno membaringkan tubuhnya seraya melepas segala beban yang ia tanggung, kemudian terelap bersama malam.

***

Di rumah kang Sarman, sedang berkumpul beberapa orang. Ada Kang Ponidin dan Yu Karsih, tetangga sekaligus Kakak Kang Sarman.
Ketika itu Kang Sarman sudah sadar, namun ia masih tak berdaya. Yu Jilah masih tak hentinya menangis. Air matanya tak surut, makin pasang dan tumpah dari kelopak matanya.
“Man, Dek Jilah”, begitu Kang Ponidin membuka pembicaraan.
“Kita berpikir dengan kepala dingin. Kita semua sudah tahu, mengapa Retno sampai minggat dari rumah, bahkan tanpa meninggalkan pesan apapun. Ini pelajaran untuk kita sebagai orang tua ” lanjut Kang Ponidin

“Iya Dek Jilah, wong ya Retno itu sudah gedhe, sudah barang tentu dia bisa mikir apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Ojo terus menerus didekte”, sambung Yu Karsih

Sampeyan kabeh, bisanya cuma menyalahkan. Jadi ini semua gara-gara saya, begitu!” Yu Jilah emosi.
“Yu, sampeyan itu ndak merasakan bagaimana perasaan saya. Saya ini wis tua. Punya anak perawan satu, juga sudah umur. Tapi belum juga ada laki-laki yang nembung. Isin Yu, isin. Sakit hati saya ini sama omongan orang. Sampeyan ndak merasakan itu!”

Yu Karsih menghela nafas, “Sabar Dek Jilah, Sabar”
Opo maksud sampeyan sabar, Yu? Saya ini wis sabar. Wis prihatin, tapi Gusti ndak juga mengabulkan doa saya. Malah sekarang, Retno minggat…minggat tidak tahu kemana. Alah Pak…opo salah awak dewe iki

Tangis Yu Jilah makin menjadi. Yu Karsih tak bisa berbuat apa-apa  selain diam. Salah bicara, bisa-bisa menambah panas hati Yu Jilah.

***

Pagi itu, Retno sudah hendak menyusuri pasar. Ia masih berdiri di bawah plang Jalan Mentaok. Matahari mulai terik, namun tak menyurutkan niat Retno untuk menemukan kios roti milik mbak Idah. Mbak Idah adalah teman lamanya sewaktu masih bekerja di kerajinan perak. Retno diam  berdiri, mencoba mengingat-ingat. Rasa-rasanya Retno tidak salah alamat, tapi tak kunjung ia temukan mbak Idah. Tokonya pun seperti menghilang. Retno menyebrangi jalan yang ramai, ke arah Utara. Ada kios roti di sana. Kios roti ‘Alea’, namun seperti bukan milik mbak Idah.
Nuwunsewu mas, ini kiosnya mbak Idah bukan ya?”, Retno memberanikan diri bertanya.
“Bukan mbak, sepertinya ndak ada yang namanya mbak Idah.”
“Ini kios milik siapa mas?”
“Ini kiosnya Pak Aris, Aris Munandar. Tapi Pak Aris-nya juga tidak ada mbak”
“O…ya sudah. Ada lowongan tidak ya mas?”, tanya Retno
“Si mbak e ini mau cari kerja ya. Cari kerja apa cari mbak Idah? ”
“Dua-duanya mas. Hehe…ada lowongan ndak ya?”
“Saya kurang tahu e mbak. Coba, mbak besok pagi ke sini lagi saja. Kalau hari Sabtu, biasanya Pak Aris ada. Langsung sama Pak Aris”

Mas penjaga kios itu tampak ramah, sopan dan tulus memberi informasi pada Retno. Sepertinya ia mengerti kondisi Retno saat ini, “Ya sudah mas, terimakasih. Besok saya ke sini lagi saja. Maturnuwun“, Retno pamit.

Awalnya Retno memang mencari mbak Idah, barang kali ia bisa membantunya memperoleh pekerjaan. Uang di dompet Retno ngepas. Sayang sekali jika ia harus merusak uang di rekening tabungannya. Rencananya uang itu akan ia berikan pada Rusdi sebagai tambahan bekal masuk kuliahnya kelak, pasalnya tidak mungkin si Mbok dan Bapak punya cukup uang untuk itu. Saat ini Rusdi masih duduk di kelas satu SMA. Begitupun, mungkin Rusdi tidak akan mengecap bangku SMA, jika ia tidak mendapat beasiswa. Apa lagi Rusdi harus kos, pulang seminggu sekali. Retno ikut mensubsidi biaya kos Rusdi, selain Rusdi sendiri nyambi menjadi loper koran.
Syukur nanti Rusdi bisa masuk kuliah dengan beasiswa juga. Jadi uangnya bisa untuk keperluan yang lain.

Retno hanya lulusan SMP. Ia tidak melanjutkan ke SMA. Tidak ada biaya. Setelah lulus ia mengikuti bimbingan ketrampilan yang diadakan oleh pemerintah. Gratis. Bagi Retno itu adalah kesempatan mencari ilmu. Retno mengikuti bimbingan ketrampilan Olahan Pangan. Tidak salah jika kemudian ia cukup percaya diri mencari mbak Idah untuk bekerja di kiosnya atau di kios temannya sesama pengusaha roti.

***

Yu Jilah dan Kang Sarman masih sering melamun. Perasaan mereka terjepit di antara sedih dan marah. Namun tidak sedikitpun ada rasa bersalah atas ke-minggatan anak perempuan mereka. Yang kemudian ada justru rasa malu. Malu karena tetangga akan semakin memperbincangkan tentang Retno yang tidak segera menikah itu, bahkan Retno yang sekarang minggat. Itu pasti akan jadi isu panas di warung. Belum lagi malu pada keluarga Pak Slamet. Bagaimana jika mereka menanyakan tentang keadaan Retno. Atau jangan-jangan mereka sudah tahu kalau Retno minggat? Hancur. Hancur semuanya.

Yu Jilah kembali menitihkan air matanya. Tidak habis pikir, semuanya akan serumit ini. Hatinya tertusuk, bagai dikhianati. Anak perempuan yang ia besarkan dua puluh lima tahun lamanya, kini membangkang. Berani melawannya. Berani mengabaikannya. Ibu mana yang tidak menginginkan anaknya bahagia. Sama halnya dengan Yu Jilah. Ia hanya ingin Retno hidup bahagia.
Selama ini Retno tidak pernah mengecewakan keluargannya. Bahkan bisa membuat Bapak dan si Mbok nya bangga. Gadis mandiri yang menurut. Sejak kecil selalu begitu. Apa yang dilarang ibunya, sama dengan larangan Tuhan. Haram hukumnya. Itulah yang benar-benar membuat Yu Jilah tidak habis pikir.

Seorang pria mapan dari keluarga baik-baik dengan wajah yang rupawan, sudah siap memilih Retno untuk dijadikan pendamping hidup, tepat disaat para tetangga tengah mengolok-oloknya. Bagai mendapat emas sekarung, Yu Jilah dan Kang Sarman girang bukan kepalang. Siap menerima lamaran. Namun apa yang terjadi?
“Si Mbok ini, jangan buru-buru senang hanya karena mas Yono adalah seorang Pegawai Negeri dan tampan. Tapi mbok biar Retno mengenal dulu”, kalimat Retno cadas diucapkannya.
“Nduk, apane yang kurang. Lagi pula Yono itu kan juga teman SMP mu. Harusnya kamu bersyukur. Kamu itu belum-belum sudah menyalahkan si Mbok. Ini jawaban dari doa si Mbok yang sakit hati Nduk”
“Iya Mbok, Retno mengerti. Tapi Mbok, ini soal perasaan Retno”
Halah, perasaan itu ndak penting. Sing penting itu masa depan. Masa depan kamu dijamin cerah Nduk”
“Tapi Mbok….”, kalimat Retno sudah dipotong oleh Yu Jilah.
“Tapi opo? Kamu itu kebanyakan pilih-pilih. Mau kamu kayak si Sumi yang kebanyakan milih, akhirnya cuma dapat pengangguran? Si Lastri, dilamar juragan selepan ndak mau, malah dapatnya buruh tani?”
“Si Mbok ini doanya malah yang jelek, astaghfirullah Mbok…istighfar”
Bocah bayi, kamu ndak usah nyeramahi si Mbok mu. Si Mbok cuma ingin yang terbaik Nduk. Kamu mbok manut…manut si Mbok”

Kala itu Kang Sarman ada, namun hanya diam. Percuma jika ia ikut bicara. Tidak akan ada ruang.
Nggih Mbok, Retno manut”, itu adalah kalimat terakhir Retno sebelum kemudian ia masuk kamar, lalu menguncinya dari dalam. Retno menangis. Ia tidak tahu mengapa bisa sesedih itu. Padahal bukan yang pertama orang tuanya menjodohkannya dengan seseorang. Para pria yang dianggap mapan, di mata Yu Jilah.
Letak tangis Retno bukan pada perjodohan itu, akan tetapi pada ketidaktegaannya menyakiti hati Kang Sarman dan Yu Jilah. Kedua orang tuannya itu sudah sejak lama menginginkan Retno menikah. Apa mau dikata, hati Retno masih dingin. Ini perihal perasaan yang tidak mampu ia jelaskan dengan perkataan. Retno tetap bersi keras untuk menemukan orang yang dicintainya. Bukan karena harta atau tahta semata. Bukan kesempurnaan. Bukan. Retno hanya mencari kenyamanan untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama seseorang yang kelak akan menjadi imam.
Di sisi lain, Yu Jilah terlalu panik dengan perkataan orang. Terlalu panik dengan usia anaknya yang kian menua. Kepanikan itu yang membuat Yu Jilah tidak ingin paham tentang istilah ‘perasaan’.

Sedingin itukah hati Retno? Tidak adakah orang yang mampu memikat hatinya, karena Retno terlalu pemilih? Atau memang Retno sudah mati rasa?

Tidak. Tuduhan Yu Jilah itu salah. Sejak hubungan asmaranya dengan Kiman berakhir. Retno tidak diam. Ia tidak kemudian larut dalam kalut, Retno gadis yang cukup rasional. Ia selalu berusaha membuka hati. Berusaha dan berdoa, karena ia mengerti betul orang tuanya sudah tidak sabar mendampinginya di akad pernikahan. Sayangnya, kenyamanan yang Retno peroleh, belum pernah selaras dengan kriteria yang Yu Jilah tetapkan. Maka itu sama dengan Yu Jilah tidak setuju. Dan haram hukumnya bagi Retno melanjutkan hubungan itu. Putus. Retno menyudahi rasa yang menggelora di dadanya sebelum semuanya sulit untuk diakhiri. Bagi Retno itu sah, lalu ia akan bersabar untuk jatuh cinta lagi, hingga Yu Jilah legawa menerima kehadiran pria pilihan Retno.

Apa yang sering terjadi adalah sebaliknya. Retno selalu disalahkan ketika ia tidak merasa sreg dengan pria yang masuk kriteria Yu Jilah. Apalagi dengan alasan perasaan. Alasan basi.
“Tolong, si Mbok bisa mengerti. Sudah berapa kali Retno mengorbankan perasaan Retno pada pria yang sebenarnya Retno cintai. Demi memenuhi apa yang si Mbok dan Bapak kehendaki. Tapi Retno juga memohon kepada si Mbok dan Bapak, jangan salahkan Retno ketika Retno tidak mencintai pria pilihan si Mbok dan Bapak. Kita harus sabar, semuannya harus sabar. Insya Allah akan datang saatnya nanti, yang terbaik. Yang si Mbok dan Bapak sreg dan Retno juga sreg“, itulah kalimat yang pernah diucapkan Retno. Kalimat yang terkesan menggurui dan membuat Yu Jilah semakin geram. Tidak demikian dengan Kang Sarman yang bisa memahami walau getir untuk  menerima pernyataan anaknya itu.

Sekarang  sudah seminggu Retno minggat tanpa perangkat komunikasi apapun yang bisa dihubungi.

***

Malam itu Retno sedang membereskan perabot di kios, sudah hampir selesai. Wawan sudah menunggunya di depan sambil memainkan kunci.
Tak kunci dari luar lho kalo ndak cepet”, Wawan menggoda Retno yang tampak terburu-buru.
Sik sebentar, Mas Wawan ini ndak sabaran. Kemrungsung”, balas Retno sambil melirik ke arah Wawan yang hanya tertawa. Wawan segera mengunci pintu sesaat setelah Retno keluar dari dalam kios.
“Retno, berani ndak pulangnya?”
“Berani mas, dekat kok”
“Saya antar saja ya?”
Ndak usah, mas Wawan pulang saja”
“Ya sudah kalau begitu, saya pulang ya”, Wawan menaiki sepeda motor C 70 merah miliknya. Mengucapkan salam lalu, pergi dari hadapan Retno. Kini Retno tinggal sendiri di depan kios. Kios Alea depan Pasar Kotagede milik Pak Aris Munandar. Kakinya menapaki jalan yang sudah sepi, ke arah Selatan, Jalan Mentaok.

Belum sampai 15 menit, Retno sudah duduk di atas kasur tipisnya. Direbahkan tubuh mungil yang terlihat semakin kurus itu. Ia pandangi langit yang pendek di atas tubuhnya, langit-langit kamar. Menerawang pikirnya ke kampung menebak-nebak keadaan si Mbok dan Bapak, keadaan Rusdi yang pendiam, yang enggan ikut campur urusan mbakyu-nya. Sudah seminggu Retno hidup dalam kurungan dinding Kotagede. Bekerja di kios milik Pak Aris Munandar, dengan teman barunya Wawan, Uti, Wulan dan Trisno. Lima hari tepatnya ia mulai resmi menjadi karyawan Pak Aris Munandar. Dan ini adalah sift malam pertama Retno, berangkat pukul 14.00 WIB dan menutup lapak pada pukul 21.00 WIB.

***

Perasaan rindu menggelitiki Retno. Geli. Seperti tidak tahan. Retno ingin pulang, menengok si Mbok dan Bapak. Tapi….
“Dorr! Mbak Retno jangan melamun terus…angkat rotinya gosong lho”, goda Wulan.
“He…iya Wul, ndak bakal gosong”
“Kenapa mbak Retno, aku perhatikan dari tadi seperti banyak pikiran?”
“Ah, kamu perhatian sekali sama aku”
“Mbak Retno ge er!”
“Hahaha…memang begitu to. Ya to mas Tris?” Retno mengajak bicara Trisno yang sedang membungkus roti-roti itu.
“Iya Ret, Wulan itu perhatian, tapi sayangnya tidak ada yang memperhatikan dia, hahaha”, ledek Trisno
“Sembarangan kamu Mas!”, Wulan kesal pada Trisno yang mengejeknya. Retno hanya tertawa sambil melanjutkan pekerjaannya.

Wawan sudah berdiri di dekat pintu masuk,
Ono opo iki rame-rame? Ayo pada kerja yang bener!”,
sambil berkacak pinggang menirukan gaya boss yang galak. Sontak bukannya takut, semuanya tertawa mengetahui suara itu berasal dari Wawan.

“Woo sampeyan mas. Kok sudah mruput? kan ini belum jam dua to?” tanya Wulan
“Aku kangen sama kalian, he”
“Pretttt….”, cibir Trisno dan Wulan bersamaan. Retno hanya tertawa.

Suasana kerja yang menyenangkan. Retno betah.

***

Tidak terasa sudah hampir dua bulan ia meninggalkan kampung. Saat menyadari itu, rindunya mulai mengusik. Rasa bersalah menyeruak dalam batinnya.
“Ternyata sudah hampir dua bulan aku meninggalkan si Mbok dan Bapak. Tanpa berbagi kabar, tanpa tahu kabar mereka. Bagaimana keadaan mereka sekarang. Anak macam apa yang tega meninggalkan kedua orang tuanya dalam kekalutan. Durhakakah aku ini, ya Gusti Allah. Gusti, semoga keluargaku di kampung baik-baik saja”, ucap Retno dalam hati. Hikmat.

Usai kumandang adzan Ashar, Retno mengambil air wudhunya. Kemudian bersimpuh menghadap Yang Maha Esa. Shalat, yang kemudian membuat batinnya tenang. “Assalamualaikumwarahmatullah…”, ucapan salam pada akhir shalatnya, dalam simpuh kepasrahan Retno menitihkan embun dari sudut matanya.

“Thok…thok…thok…”, ada suara dari balik pintu.
“Siapa?” tanya Retno ingin tahu.”Iki Budhe Karsih nduk”
Betapa kaget Retno. Mana mungkin Budhe Karsih bisa datang dan tahu di mana ia tinggal. Mustahil. Dengan masih mengenakan mukenanya, Retno bergegas berdiri membuka pintu. Penasaran.
“Budhe….”, mata Retno yang sudah lebar itu semakin terlihat besar. Ia tidak percaya Budhenya datang, tapi ini nyata. Budhe datang dari langit.
“Budhe sama siapa, masuk Budhe. Maaf berantakan…” Retno gugup mempersilakan Budhenya masuk. Sebelum menutup pintu kembali, Retno menengok ke luar, barang kali ada orang lain yang datang selain Budhe. Tidak ada.
Piye nduk kabarmu?”, Yu Karsih menghela nafas panjang. Mengeluarkan kalimat basa-basi dengan pembawaannya yang sangat tenang. Ia lega bisa menemukan keponakannya di tempat itu.
“Alhamdulillah baik Budhe, bagaimana kabar si Mbok dan Bapak? Kabar Rusdi?”
“Baik. Semuannya baik. Namun tidak lengkap, karena kamu masih belum pamit sama si Mbok dan Bapakmu”
“Iya Budhe, atur sungkem saya untuk si Mbok dan Bapak”

Yu Karsih sengaja tidak membahas persoalan Retno. Ia menunggu waktu yang tepat, sembari Retno juga siap. Yu Karsih sangat paham watak keponakannya, dan yakin bahwa sebenarnya Retno tahu maksud kedatangannya. Yu Karsih menginap.

Setelah makan malam, keduanya duduk berhadapan. Tidak ada kursi, hanya karpet lusuh yang menjadi alas mereka.
“Nduk, kamu pasti tahu mengapa Budhe datang kemari”
“Iya Budhe”
“Budhe paham watak si Mbok mu dan juga watakmu, kalau tidak ada yang mengalah salah satunya, tidak akan selesai. Ya begini terus. Perang dingin. Opo yo apik?”
“Tidak Budhe, tidak baik”, Retno menundukan kepala kemudian melanjutkan pembicaraan.
“Maafkan Retno Budhe, Retno tahu kesalahan Retno. Retno ndak nurut sama si Mbok dan Bapak untuk menikah dengan mas Yono. Bukan karena mas Yono buruk. Tapi, … Ah, sulit Budhe. Pasti Budhe tidak akan mengerti. Seperti halnya, mengapa Budhe harus memilih Pak Dhe Ponidin yang biasa-biasa saja, padahal katanya Budhe disukai sama anaknya Pak Lurah, dulu. Mengapa si Mbok memilih Bapak yang seorang petani yang hidup sengsara, padahal si Mbok luwes. Pasti banyak yang suka waktu muda. Kalau si Mbok mau, si Mbok bisa menikah dengan orang kaya. Sulit dijelaskan Budhe…sulit…”, Retno mulai keras kepala.
“Nduk, Budhe memahami itu. Semua kamu yang menjalani. Sebenarnya si Mbokmu tidak mengharuskan kamu sama Yono. Yang penting, kamu segera menikah. Sudah lelah si Mbok dan Bapakmu diolok-olok tetangga. Masih untung si Mbok dan Bapakmu tidak sakit”
“Iya Budhe. Tapi Retno belum menemukannya”
“Kemarin Pak Slamet dan Yono datang ke rumah mencarimu. Si Mbok dan Bapakmu sudah kehilangan muka. Mereka bilang kalau kamu berangkat kerja lagi, tidak tahan nganggur di rumah. Padahal tetangga sudah tahu kalau kamu sebenarnya minggat. Tahu, karena si Mbok mu nangis ger0-gero, bahkan Bapakmu pingsan waktu tahu kamu sudah tidak ada di rumah”
“Astaghfirullah, si Mbok marah ya Budhe?”
“Campur-campur rasanya. Ndak karuan”
“Budhe, Retno minta waktu sama si Mbok dan Bapak untuk bisa seleh semeleh. Introspeksi diri dulu. Melapangkan dan mengosongkan hati. Pada waktunya nanti, Retno akan pulang. Sujud di kaki si Mbok dan Bapak. Retno titip si Mbok dan Bapak, Rusdi sama Budhe. Budhe sudah tahu Retno ada di mana. Kalau ada sesuatu, tolong kabari Retno. Maaf, Retno jadi merepotkan Budhe”
“Iya nduk, Budhe ini adalah si Mbok mu yang ke dua. Kamu anak perempuan milik Budhe juga. Pokoknya kamu harus pulang”

***

Pagi itu Retno mengantar Yu Karsih sampai ke terminal Giwangan. Sebelum Yu Karsih melangkahkan kaki menuju Bus, Retno bersalaman mencium tangan kanan Yu Karsih.
“Budhe, titip ini untuk si Mbok”, sebuah amplop berisikan surat dan empat lembar lima puluh ribuan itu ia selipkan.
“Kamu baik-baik ya nduk”
“Ya Budhe”
Retno sudah tidak mempersoalkan, bagaimana caranya Budhe bisa sampai ke tempat tinggalnya. Retno lupa.

Pukul 14.00 WIB, Retno sudah berada di kios. Ada pesanan cukup banyak. Semuanya sibuk. Kesibukan yang membuat waktu berlalu sangat cepat.

“Mbak Retno, aku mau beli makan. Mau titip?”, Uti menawari Retno.
“Titip Ti. Sebungkus, pakai telur”
“Loh, kok cuma Retno yang ditawari, aku disuruh makan apa Ti”, cetus Wawan
“Uuuu…harusnya kan laki-laki yang beli”, Uti sewot.
“Katanya emansipasi, emansipasi jangan pilih-pilih to Ti”
“Sudah-sudah, sana berangkat. Sudah lapar ini”, ucap Retno
“Mas Wawan, mbok pinjam motornya. Tak beli makan di prapatan. Bosan beli di dekat sini terus”
Nyoh…jangan lupa bensinnya diisi sekalian”, seraya disodorkannya kunci motor kepada Uti.
Halah...ora usah, mana uangnya mana?” pinta Uti, lalu masing-masing mereka mengeluarkan uang dari dompet untuk membeli makan. Uti pergi, di kios hanya ada Wawan dan Retno. Hening. Keheningan itu yang membuat Retno tenggelam dalam lamunan.

“Ret, minta plastik”, Wawan membuka pembicaraan. Namun Retno tak bereaksi. Seperti tidak mendengar apapun. Wawan mengulanginya.
“Retno, minta plastik…”. Kali ini nadanya agak panjang. Tapi Retno masih juga diam.
Sekali lagi Wawan memanggilnya, lebih keras “Retno cah ayu…
“Eh iya mas…ada apa?” Retno kaget.
“Minta plastik…”
“Oh ya…ini…mas”, Retno memberikannya dengan kalimat terbata-bata.
“Sudah Ret, tidak usah memikirkan aku. Aku masih ada di sini kok”, Wawan memang suka bercanda
“Ah mas Wawan, opo sih“, kali ini Retno tersenyum.
“Jangan sering-sering melamun, nanti cepat tua”. Retno juga hanya tersenyum.

***

Sudah dua minggu sejak kedatangan Budhe Karsih. Hati Retno mulai dilanda gulana. Rindu yang  semakin tajam. Retno ingin pulang, menengok si Mbok dan Bapak juga bertemu Rusdi adiknya.
“Apakah si Mbok sudah memaafkanku?” tanya Retno dalam hati.

Bagaimanapun, rindunya semakin mencekik. Kali ini bukan sekedar ingin pulang, tapi ia merasa harus pulang. Apakah ini artinya Retno akan menuruti kemauan Yu Jilah, yaitu menerima lamaran Yono. Bisa jadi. Barangkali dengan demikian, ia tidak akan dianggap durhaka. Tidak ada yang tahu tentang masa depan. Mungkin saja Yono adalah jodohnya. Jodoh yang berangkat dari tidak saling cinta dan akan berakhir dengan cinta yang penuh. Cinta yang utuh. Gusti yang maha membolak balik hati. Dengan restu si Mbok dan Bapak, mungkin semua bisa terjadi. Retno pun mulai berubah pikiran. Ia benar-benar pulang, bahkan berhenti dari pekerjaannya. Retno tidak akan sempat pamitan dengan Wulan, Trisno, Uti dan Wawan. Mungkin, lain kali ia akan meluangkan waktunya kembali ke Kotagede dengan suaminya. Entah siapa itu.

Pagi-pagi sekali Retno sudah berkunjung ke rumah Pak Aris Munandar. Ia hendak berpamitan. Tas jinjing yang penuh itu sudah dibawanya. Setelah dari rumah Pak Aris, Retno akan langsung ke terminal. Kebetulan rumah Pak Aris searah dengan terminal.
Terik matahari dari timur menyengat tubuh Retno. Ia berjalan memilih bis mana yang akan ia tumpangi.
“Selamat tinggal Kotagede dan teman-teman baikku”, ucap Retno dalam hati. Ketika itu, bayangan karyawan Kios Roti Alea melintas. Tiba-tiba ia teringat mas Wawan. Orang yang ia tanyai saat mencari mbak Idah. Orang yang memintanya datang kembali keesokan hari untuk melamar menjadi karyawan. Wulan dan Mas Trisno yang selalu bertengkar, tapi menurutnya mereka cocok. Uti yang suka membelikannya makan malam. Sampai jumpa.

***

“Mbok….Pak….” Retno sampai di rumahnya. Rumah yang sepi. Retno langsung menuju dapur, mencari si Mbok. Tapi, tidak ada satu pun orang di sana. Retno pun menuju kamar, tempat tidur si Mbok dan Bapak.
Yu Jilah sedang tidur. Sepertinya lelah sekali. Retno mendekat, memeluk kaki Yu Jilah. Sudut matanya berembun, lalu jatuh membasahi kaki si Mboknya. Perlahan Yu Jilah terbangun. Bagaikan masih bermimpi saat ia melihat anak perempuannya memeluk kakinya, menciumi kakinya dengan linangan air mata.
“Pakkkk…..!! Retno pulang!”.
Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Yu Jilah. Antara bahagia, terharu, sedih, bingung. Entahlah. Ia peluk erat anaknya. Mereka sama-sama menangis.
“Ampun mbok, Retno minta maaf. Retno belum bisa jadi anak yang baik. Retno ndak nurut sama si Mbok”
Nduk…si Mbok juga minta maaf, si Mbok ndak pernah mau tahu urusan perasaanmu”

Semuanya mencair. Larut menjadi satu. Batu yang tadinya keras, meleleh bercampur dalam suasana haru biru.

“Retno kangen Mbok, sekarang Retno pasrah…manut si Mbok saja”

***

Malam itu mereka berkumpul di ruang depan. Ruang yang ada televisinya.
“Sekarang Retno sudah pulang, Bapak senang”, Kang Sarman membuka pembicaraan.
“Maafkan Retno ya Pak, Mbok”
Ndak ada yang salah. Semua saling memaafkan. Semua saling mawas diri. Kami sebagai orang tua, dan kamu, Nduk…sebagai anak”, jelas Kang Sarman
“Yang sudah terjadi, tidak usah diungkit lagi. Sekarang kita memulai lagi dari awal”, lanjut Kang Sarman
“Retno manut Pak, Mbok. Bagaimana maunya Bapak dan si Mbok, Retno manut“, Retno mengatakannya dengan penuh kepasrahan.
“Semua terserah kamu, Nduk…kalau kamu memang ndak bisa dengan Mas Yono, Bapak dan si Mbokmu tidak bisa memaksa. Yang akan menjalani hidup kan kamu bukan kami”.
Sementara Kang Sarman mengeluarkan banyak kalimat, Yu Jilah membisu. Sudah tidak seperti dulu. Kali ini Yu Jilah lebih banyak diam. Retno juga diam.
“Siapa Wawan itu, nduk?”.
Pertanyaan Kang Sarman kali ini membuat Retno tertegun kaget. Tidak ada jawaban, justru semakin menggulung pertanyaan dalam hatinya.
“Dari mana Bapak tahu tentang mas Wawan? Mengapa Bapak menanyakan tentang mas Wawan?”
Yu Jilah membaca kebingungan Retno.
“Budhe Karsih yang cerita, Nduk”
Bukannya semakin jelas, Retno semakin bingung dibuatnya.

“Budhe Karsih cerita banyak waktu pulang dari Kotagede. Awalnya Budhe hanya menebak keberadaanmu di sana, karena sebelumnya kamu pernah bekerja di Kotagede. Tanpa sengaja, Budhe melihatmu di depan pasar, keluar dari sebuah kios roti. Budhe tidak yakin betul bahwa itu adalah kamu. Setelah kamu pergi, Budhe mendatangi kios dan memastikan bahwa yang baru saja keluar itu adalah Retno, keponakannya yang pergi dari rumah. Budhe Karsih bertemu dengan Wawan. Sebelum Wawan mengantar Budhe ke tempat kosmu, ia banyak bercerita, begitu juga Budhe mu. Budhe Karsih menitipkanmu pada Wawan. Meminta Wawan mengabarkan keadaanmu di sana”, Kang Sarman bercerita panjang lebar

Lidah Retno kelu. Mulutnya tak dapat bergerak. Dia hanya diam. Angannya menerawang mengunjungi Wawan di Kotagede. Retno heran, mengapa Wawan tidak pernah memberi tahunya tentang hal itu. Sama sekali Retno tak mencurigai Wawan. Wawan yang jarang serius, rasanya tidak mungkin.

Semua menggantung menjadi pertanyaan-pertanyaan yang tidak kunjung menemukan jawaban.

***

Sudah jatuh ke lantai jantung Retno saat melihat Wawan berdiri di balik pintu yang ia buka. Waktu itu pukul 10.30 WIB.
“Mas Wawan?!”
“Sttt…jangan pingsan Ret”, Wawan terlihat santai berdiri di depan Retno. Ia senang melihat gadis itu salah tingkah.
“Terus kapan aku disuruh masuk?”, sindir Wawan
“Oh…monggo Mas, masuk”, Retno masih tak berhasil menguasai dirinya. Wawan duduk di ruang tamu. Tak sedikitpun tersirat lelah. Perjalanan tiga jam yang ia tempuh terasa ringan baginya.
“Mas Wawan, kok bisa sampai sini? Dari mana tahu rumah ku? Naik apa? Sama siapa? Mas Wawan ndak kerja?”
“Kamu ini, kalau tanya mbok ya satu-satu, kan aku jadi lupa mau menjawab yang mana dulu”
“Ya, baiklah. Kok mas Wawan tahu rumah ku?”
“Ya tahu saja, gampang. Aku tahu asalmu dari mana. Kan tinggal tanya saja yang namanya Retno Prabandari. Beres to?”
“Ah mas Wawan bohong. Mas Wawan bawa motor? apa ndak kasihan motornya?”
“Kamu kok malah kasihan sama motorku. Mbok kasihan sama aku”
“Hahahaha…”, akhirnya Retno bisa tertawa.
“Aku pinjam motor kangmas ku.  Eh, Bapakmu mana, Ret?”
“Mau apa tanya-tanya Bapak segala?”
“Ya kan aku kemari ada perlu sama Bapak kamu. Mau melamarmu jadi istriku, Ret”
“Haaaahhh….??? wong edan! “, Retno melongo, wajahnya memerah. Retno menahan diri. Ia tahu betul, Wawan orang yang tidak serius. Bicaranya sering ceplas-ceplos. Bahkan nglantur. Tidak perlu dimasukan ke hati.
Panjang umur. Saat dibicarakan, Kang Sarman muncul dengan kringat yang menetes. Dia baru datang dari kebun, dan akan kembali lagi ke kebun, nanti setelah shalat Jumat.
“Eh ada tamu. Monggo. Nduk, kok ndak dibuatkan minum tamunya”. Retno benar-benar lupa. Ia bergegas ke dapur, membuatkan minum lalu keluar lagi dengan dua gelas teh manis.
“Si Mbokmu mana, Nduk?”, tanya kang Sarman pada Retno.
“Di ajak Budhe Karsih ke Pasar, Pak”, setelah meletakkan nampan, Retno duduk di samping Kang Sarman. Ia masih heran menatap Wawan yang ujug-ujug ada di dalam rumahnya.
“Ini toh, dek Wawan yang diceritakan Mbakyu Karsih. Terimakasih ya dek, sudah bantu Mbakyu Karsih kemarin”, kata Kang Sarman pada Wawan
“Sama-sama, Pak”, jawab Wawan singkat sambil tersenyum melirik Retno.
“Dek Wawan kok bisa sampai di gubuk kami, padahal jauh?” tanya kang Sarman.
“Iya Pak, saya minta maaf sebelumnya, saya lancang bertamu di sini. Sebelumnya saya telpon Bu Karsih meminta alamat Retno”, jelas Wawan.
“Woo mas Wawan ini, ….”, gerutu Retno sebel.
“Sudah seminggu Retno tidak masuk kerja pak. Jadi saya tengok ke rumah, siapa tahu hilang di jalan…”
“hahahaha….” Kang Sarman dan Wawan sama -sama tertawa. Berbeda dengan Retno yang cemberut. Retno yang biasanya dewasa itu terlihat mengecil. Mengkerut, seperti anak sepuluh tahun.
Nuwunsewu Pak, …” kali ini Wawan terlihat serius. Retno jadi memperhatikan, pasalnya belum pernah Retno melihat wajah Wawan seserius ini. Sepertinya ia hendak mengatakan sesuatu yang teramat penting.
“Maksud kedatangan saya kemari, ingin bersilaturahim dengan keluarga Dek Retno”. Baru kali ini Retno mendengar Wawan menyebutnya ‘Dek’. Tiba-tiba jantungnya berdegub kencang. Ada perasaan aneh, yang tidak diketahuinya.
“Maaf jika kedatangan saya dianggap lancang. Nuwun sewu Pak, saya minta ijin pada Bapak. Jika dek Retno masih sendiri dan belum memiliki teman dekat, …emmmm….” Wawan benar-benar gugup. Kalimatnya menghilang namun ia berusaha keras melanjutkan.
“Saya minta ijin untuk mengenal dek Retno lebih dekat”
Retno kaku. Ia mematung tak bergerak. Jantungnya berlompatan. Tak kuasa, Retno mohon pamit. Ia enggan mendengarkan pecakapan dua lelaki itu.
Sebenarnya Wawan takut. Ia takut Retno tersinggung dengan langkahnya yang nekat. Wawan memang nekat.
Akan tetapi, niatnya sudah kokoh. Retno, gadis itu sudah teranjur memikat hatinya sejak pertama kali bertemu. Kalaupun cintanya ditolak, Wawan tidak akan menyesal. Paling tidak setelah itu Retno tahu bagaimana isi hatinya selama ini.
“Saya sedang mencari calon istri, Pak. Tapi saya tahu, saya belum cukup mapan Pak. Saya masih berada pada perjalanan menuju mapan, dan membutuhkan Dek Retno untuk bisa mencapainya”
Sayup-sayup, Retno mendengar perkataan Wawan dari balik tembok. Ia tak mendengar sepatah kata pun dari Bapaknya. Kang Sarman tidak tahu harus berkata apa. Anak laki-laki itu berubah menjadi gagah di hadapanya. Begitu berkarisma.
“Jika Bapak mengijinkan, sekaligus dek Retno berkenan…keluarga saya akan datang untuk melamar”
Kang Sarman bisu.
“Sekali lagi saya mohon maaf, mungkin ini terlalu terburu-buru. Saya sudah terlalu lancang. Lagi pula itu tergantung Dek Retno, dan tentunya Bapak sebagai walinya. Sepenuhnya saya serahkan”

Batin Kang Sarman dibuatnya kebingungan. Sungguh, ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya mengingat kejadian minggat-nya Retno. Itu adalah pelajaran berharga untuk tidak memaksakan kehendak pada anak perawannya yang sudah cukup umur untuk bisa memilih.

“Terimakasih Dek Wawan, sudah berkenan pamitan pada Bapak. Bapak tidak bisa memberikan keputusan apapun. Pada dasarnya Bapak mendukung apa yang Retno pilih”

“Ya Pak, saya mengerti”

Retno masih menguping di balik tembok. Jantungnya masih kencang berdegup. Seperti mimpi. Diintipnya Wawan yang masih berbincang dengan Bapaknya itu. Ia tampak bisa membawakan diri. Berwibawa dan tenang. Wawan sangat berbeda. Tidak seperti Wawan yang ia lihat di kios. Yang celelekan. Gusti Allah…perasaan Retno tidak karuan.
Lalu, Retno kembali bersembunyi di balik tembok, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Nduk…” Kang Sarman memanggil Retno.
“Iya Pak…”, sahut Retno
“Temani dulu Dek Wawan ngobrol, Bapak mau mandi sebentar…, monggo  sambil diminum. Bapak tinggal sebentar”
“Ya, Pak”

Kini hanya ada Wawan dan Retno, seperti saat di kios roti. Hening. Dalam hening, Retno tak mampu menegakkan kepala menatap Wawan.
“Hei…kok diam?” tanya Wawan seolah tak terjadi apa-apa.
“……” tak ada jawaban dari Retno
“Kamu marah ya Ret. Maaf yo, aku nekat. Aku takut, kamu keburu direbut orang. Tapi aku serius Ret. Aku sudah terpikat sejak petama kali kamu datang mencari mbak Idah. Sungguh, aku berharap kamu akan kembali keesokan harinya dan diterima bekerja. Tidak ada keraguan sedikitpun. Ret….jangan diam, aku tidak bisa memahami bahasa hatimu”, Wawan terlihat gugup kali ini. Ia seperti takut. Ketakutan yang ia khawatirkan.
“Aku ndak marah, mas…”
“Lalu mengapa kamu diam?”
“Tidak tahu mas…emm…sudah lah…” Retno tersenyum simpul. Senyum yang ia sendiri tidak paham apa artinya. Apa lagi Wawan.

“Mas Wawan yang mengantarkan Budhe Karsih waktu itu?”
“Iya Ret. Maafkan aku jika itu salah, walau aku merasa itu hal paling benar yang aku lakukan”
“Tidak mas, tidak salah. Jika aku tidak bertemu Budhe Karsih waktu itu, mungkin hari ini aku masih bersamamu di kios roti”
“Iya, dan aku tidak akan sengsara karena tersiksa  rindu karena tak juga bertemu denganmu, Ret” lanjut Wawan
Retno tersipu. Wajahnya memerah. Merah tua seperti kelopak bunga mawar. Ia hanya diam dan menundukan wajahnya menghidari tajamnya sorot mata Wawan.

“Bagaimana mas Wawan bisa mengantar Budhe Karsih ke tempat kos ku? Bukankah mas Wawan tidak tahu?”
“Aku tidak akan membiarkan orang yang aku cintai  sendiri menyusuri dinding-dinding tua, sebelum ia menyentuh gagang pintu tempat tinggalnya. Apa kamu tidak sadar, kamu tidak pernah pulang  sendirian, Ret”

Deg. Retno kembali bisu. Bisu untuk kesekian kalinya. Banyak hal yang membuatnya bisu. Tidak bisa diurai satu persatu.

***

Kang Sarman dan Wawan sudah pergi ke masjid. Retno masih mematung.
Walau sesungguhnya jiwanya mekar. Taman surga bersemi seiring cinta yang ia temukan. Tapi benarkah cinta? Cinta yang kelak akan ia miliki.
Tunggu dulu. Tunggu sampai Yu Jilah pulang dari pasar.
Tergantung Yu Jilah.
Kali ini, Retno akan lebih siap untuk segala yang mungkin terjadi. Kalaupun Yu Jilah keberatan, ia siap seandainya tidak dapat  menerima Wawan, memupuskan bunga-bunga yang baru saja kembang. Kemudian rela menjadi istri Yono yang seorang Pegawai Negeri Sipil golongan II a itu.

Wallahualam…istikharah.

***

Backsound :

Yogyakarta, 22 Juni 2013

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

2 responses »

  1. jackiman berkata:

    ora keroso netes eloeh ning bantalku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s