Dan semua itu tercecer di sepanjang Jalan Solo. Apa itu? Itu adalah air yang sumbernya dari hati.
Benar saja. Air mata gadis itu berderai keluar, terhambur oleh angin. Ia tak kuasa menahan sesak. Nafasnya tersedak oleh perih yang teramat dalam. Gadis itu mengendarai kendaraanya dengan gusar, keluar dari parkir basement yang sudah sepi. Walau ada beberapa manusia disekitarnya, malam itu ia tetap merasa sendiri. Itu sudah pukul 22.30 WIB.
Gadis itu berteriak sekencang-kencangnya, seperti kendaraan yang ia pacu. Jalan raya sudah sepi. Namun teriakannya tetap tak terdengar, tersamar deru mesin kendaraan. Berkali-kali ia menyebut nama Tuhan. Tuhan yang memberinya rasa cinta yang tak mampu ia hentikan. Bahkan, rasa cinta yang melebihi sebelumnya. Rasa cinta yang mampu menggetarkan hatinya. Tuhan, apa yang Engkau maui? Pertanyaan yang acap berdentum dalam dadanya. Ia mencintai pria itu, dan masih mencintainya hingga terakhir ia bertemu. Cintanya sungguh menyakitkan.
Mungkin ini adalah titik letih, dimana ia sadar betul bahwa ia harus segera menyerah. Menerima kenyataan bahwa pria itu ada, namun tidak mencintainnya. Itu adalah letih untuk yang kesekian kali sejak satu tahun yang lalu, pertama kali ia mengenal pria berperawakan pas-pasan itu.

***

ambarukmo plaza1
Gadis itu datang ke kota ini sendiri. Tanpa masa lalu, dan akan membangun semuannya dari awal. Menjadi perempuan baru yang benar-benar mandiri. Oh, bukan mandiri, tapi hidup sendiri untuk sementara waktu. Ia meyakini itu. Gadis itu datang untuk bekerja. Namanya Wati.

Wati mendapat panggilan untuk mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Banyak orang baru yang ia temui. Beraneka rupa paras dan bentuknya. Gadis itu tak punya alasan lain selain ingin mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh. Dan di ruangan itu ia bertemu dengannya. Seorang Pria ‘tak lazim’.

Pria yang dianggapnya aneh itu berdiri tepat di depannya. Hal itu terjadi disebabkan oleh instruktur yang mengharuskan mereka berdiri dengan formasi melingkar. Itu pria berkulit putih dengan mata yang sempit. Dia yang tak lazim.
Hanya sebentar Wati menatapnya, lalu tak menghiraukannya. Pandangannya tertuju pada seorang lain berperawakan tinggi dan tampan.

Setelah itu, Wati tak pernah lagi memperhatikan pria itu. Dia tidak suka dengan pria model seperti itu. Pokoknya tidak suka.
Ketidaksukaan Wati berlalu begitu saja seiring Wati mengenalnya. Pria aneh yang ternyata sangat lucu. Satu lagi, dia pria cerdas. Ah, apa yang dilihat gadis itu hanyalah sebuah pencitraan miring. Yang mungkin sengaja diciptakan. Pria itu tak seburuk yang ia pikirkan, yaitu pria bandel dan tidak serius. Wati salah. Sangat salah.

Bulan demi bulan berlalu. Wati sibuk dengan urusannya. Dengan masa lalu yang kembali mengusik kehidupannya. Gadis itu tidak sadar kalau dia punya teman baru. Paling tidak teman yang selalu membuat handphone-nya berdering. Sekedar obrolan tak penting. Ya, dengan pria itu.

Sampai suatu ketika, pria itu menghilang. Tak muncul lagi namanya di kotak masuk. Bahkan tak lagi bertemu dengan Wati. Wati merasa ada yang berbeda. Tuhan telah menanamkan benih cinta di hati gadis itu. Dan ketika benih itu tumbuh, ternyata pria itu menghilang. Hilang.

Dengan segenap cara, gadis itu mencari tahu, bagaimana sesungguhnya pria itu padanya. Cara yang tak mungkin pun menjadi mungkin untuk dilakukan. Rasa malu tak lagi ia pikirkan.
Wati memutuskan untuk bertanya, mengapa pria itu menghilang. Apakah ada hal yang salah, sehingga seolah pria itu menjauh darinya?
Pria itu mulai kesal dengan brondongan pertanyaan Wati yang sudah seperti menghakimi. Wati tau betul, pria itu tak nyaman dan caranya kurang tepat. Akan tetapi ia sendiri tidak sabar. Apa yang dilakukan Wati, ternyata membuat pria itu semakin menghilang jauh darinya. Oh Wati, caramu salah !

Pembahasan itu berhenti, dan Wati mulai memperbaiki keadaan. Ia semakin yakin bahwa hatinya telah jatuh pada lautan cinta pria itu. Tapi, ia belum memperoleh apapun baik iya atau tidak. Pria itu mencintainya atau tidak. Sesuatu yang pasti. Memang untuk pertanyaan apapun, pria itu hampir tak pernah menggunakan kata ‘Ya’ atau ‘Tidak’. Diplomatis.
Yang pasti Wati tau, bahwa pria itu tidak suka jika Wati membahasnya lagi. Apalagi mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Gadis itu tak akan melakukannya.

Wati tak berhenti sampai di situ. Ia mencoba strategi lain yang mungkin akan membuatnya lega tanpa harus mengganggu pria itu. Dan ia mulai berbicara dalam pesan, panjang lebar demi memperoleh hal yang ia inginkan. Wati berpura-pura menjadi orang lain yang sedang bercerita dan meminta pendapat dari pria itu. Persis seperti kondisi yang ia alami. Gadis itu tak lupa meminta saran, apa yang harus dilakukan. Setelah mendapatkannya, Wati terbahak. Ia tertawa seolah ada hal yang sangat lucu, membuat obrolan menjadi ringan kembali.
Tau kah kau saat Wati melontarkan tawanya? ia sedang menangis. Ini adalah kali pertama pipinya basah karena mencintai pria itu. Gadis itu yakin, pria itu tak kan mengetahui tangisnya. Pesan singkat, pesan instan apapun itu namanya sangat miskin ekspresi. Cukup untuk Wati sendiri saja.

Akhirnya gadis itu tahu,  pria itu tidak mencintainya. Itu kesimpulannya. Kesimpulan yang Wati rangkum dari kata demi kata yang ia terima.
Wati menghilang. Ia paham cara itu tak dewasa. Semakin membuatnya terlihat labil dan kekanak-kanakan. Tapi apa lagi? gadis itu seperti sudah tak tahu harus berbuat apa.

Pria itu mulai mengetahui tingkah aneh Wati yang tak segera membalas pesannya. Tak lagi melayani obrolannya. Bahkan mulai sadar, gadis itu telah membuang nomor kontaknya. Lalu pria itu bertanya, apa yang terjadi. Kali ini Wati harus jujur. Dengan bahasa tersirat, gadis itu mengakui cintanya. Gadis itu mengakui hatinya tak mampu lagi menahan sakit jika harus terus berhubungan dengannya. Sekali lagi, Wati sadar caranya tersebut tidak dewasa.
Ia meminta waktu untuk menata hatinya. Ia berjanji akan kembali suatu ketika nanti sebagai teman yang baik. Teman yang tidak pamrih untuk mendapatkan cinta pria itu.
Wati memilih untuk menghilang.

Apa yang dilakukan pria itu, entah? sebagai ucapan selamat tinggalnya pria itu hanya menyampaikan bahwa ia akan merindukan obrolannya dengan Wati sebagai teman yang baik. Seketika itu Wati semakin yakin, cintanya tak terbalas. Ya, Wati bersedih. Sedih sekali.

Sebulan berlalu, sama sekali tak ada cerita tentang Wati dan pria itu. Entah bagaimana awalnya, gadis itu telah kembali. Kali ini sebagai teman yang pernah ia janjikan dalam hatinya sendiri. Mereka kembali saling bercerita bahkan tentang cinta. Pria itu mulai bercerita tentang cintanya. Bercerita bahwa ia baru saja mengakhiri hubungan cintanya dengan seseorang. Dia ceritakan itu pada Wati. Taukah kau bagaimana perasaan Wati? sakit.
Namun gadis itu teringat akan janjinya bahwa ia akan menjadi teman yang baik. Wati mulai berpikir, kiranya mencintai tak bisa memiliki, paling tidak ia akan senang jika melihat orang yang dicintainya itu bahagia. Dengan mengorbankan perasaannya? tentu. Ia rela menerima keluhan, cerita, apapun yang pria itu katakan. Memberikan apa yang kira-kira pria itu butuhkan. Jika pria itu membutuhkannya sekalipun hanya sebagai teman bercerita, Wati akan berusaha ada untuk itu.

Wati, apa yang mau ia ceritakan?
Tidak ada. Sampai suatu ketika masa lalu kembali mengusik Wati. Gadis itu kini bimbang dan membutuhkan orang untuk membagi kisahnya. Wati bercerita tentang masa lalunya pada pria itu. Sungguh, layaknya teman yang sudah saling percaya.
Walau, itu hanya keterpaksaan untuk bercerita. Sesungguhnya ia tak ingin. Atau, sekedar pengalihan agar terlihat wajar, agar terlihat seimbang? Entah, jika hal itu salah maka itulah kebodohan Wati yang ke dua. Wati yang bodoh.

Sejak saat itu, sudah enam bulan lamanya Wati tak pernah bertemu dengannya. Ia mulai tak seperti dulu yang sangat sensitif dan mudah sakit hati.
Melalui pesan instan, gadis itu masih berbagi cerita bahkan berdiskusi hal-hal yang lebih berkualitas. Soal cinta pun tak lepas mereka bahas. Wati masih bisa berlapang dada, akan tetapi tak selamanya begitu. Kadang ia terlalu malas jika harus menanggapi cerita pria itu tentang gadis lain. Bukan malas, tapi cemburu. Ah apalah itu namanya.
Lalu ia lebih memilih diam atau mengalihkan topik pembicaraan.
Wati terus berusaha untuk bisa menerima kenyataan bahwa pria itu tak mencintainya. Ya, sampai ia bisa bersikap wajar lagi, bercerita seperti biasa. Tentang apapun.
Tak jarang juga Wati dibuatnya besar kepala. Seolah pria itu tak bisa ketika beberapa hari saja tak membagi sesuatu dengan Wati. Wati mulai terbiasa. Ah, ia selalu bisa menyadari, bahwa pria itu merasa nyaman berbincang dengannya sebatas teman baik. Apa salahnya menjadi teman baik. Selagi bisa, gadis itu akan melakukannya.

Sampai pada suatu hari, saat seharusnya Wati bisa bertemu dengannya. Taukah kau? sesungguhnya Wati sangat merindukannya. Bahkan rindu itu begitu kejam menghajar batinnya. Sudah enam bulan tidak bertemu dengan pria itu.
Hari itu Wati sengaja tak mengatakan apapun bahwa ia datang pada acara yang sama, di ruang yang sama dengan pria itu. Ia pun sengaja tak mengajak pria itu bertemu secara khusus. Benar saja dari kejauhan, Wati melihat pria itu. Ia terlihat tampan dengan kemeja batik warna biru. Ia bukan lagi pria yang aneh.
Sudah lah, gadis itu harus mulai mengalihkan hatinya pada pria lain. Harus memulai membuka hatinya. Wati mengingkari jantungnya yang ternyata masih berdebar oleh pertemuan itu. Namun, ia sama sekali tak mengatakan bahwa ia melihatnya. Biarpun rindunya memucak, gadis itu bertahan untuk tidak mengatakannya. Hingga sebuah pesan ia terima.

“Kau pasti kecewa tak bertemu denganku. Maaf aku sangat sibuk, jadi tak sempat berlama-lama di sana”

Hei, lihat. Siapa yang lebih dulu menghubungi? bukankah kau? Kau tahu aku sangat kecewa. Tapi kau tahu dari mana? Bukankah kau yang sama sekali tak melihatku. Aku melihatmu. Dan saat itu hatiku masih bergetar. Tapi kau? Ya…kau merindukanku juga kan. Tidak mungkin begitu saja kau bisa membaca isi pikiranku. Kecuali kau merasakan hal yang sama.

Begitu kata Wati dalam hati. Hati Wati berbunga. Sudah seperti taman yang mewangi, membuatnya tersenyum sendiri. Wati besar kepala, tapi juga jengkel pada pria itu. Pria itu selalu berhasil membuat Wati bahagia sekaligus kesal. Justru itu yang menyulitkan Wati untuk melupakannya.

Pasti ia merindukanku. Pasti !

Wati memiliki keyakinan yang kuat kali ini. Bahkan ia yakin, bahwa pria itu akan mendatanginya. Yakin sekali. Padahal itu hal yang hampir mustahil. Tidak mungkin pria itu akan datang ke rumah Wati tanpa kepentingan yang benar-benar penting. Tapi Tuhan berkehendak lain. Pria itu datang, sekedar berjumpa barang satu jam. Lalu pergi lagi. Oh Tuhan, itu lebih dari cukup untuk Wati.

Satu minggu kemudian mereka bertemu. Setelah itu bertemu lagi satu bulan kemudian. Dan seterusnya. Tampaknya kini lebih santai. Semua lebih terasa biasa. Ya biasa. Gadis itu sudah semakin mengerti, tak ada cinta di mata pria itu. TIDAK ADA.

Sampai suatu ketika Wati teringat. Ia pernah melukis saat hari ulang tahun pria itu. Pada sebuah sketchbook ukuran A5. Gadis itu melukis dengan hatinya. Ia perhatikan semuanya, hingga lukisan itu mirip dengan aslinya. Sambil menyentuhkan penanya, hati gadis itu berkata, ” Andai aku bisa menyelesaikan lukisan ini, artinya aku masih mencintainya. Jika lukisan ini tak dapat ku selesaikan, artinya aku sudah tak lagi mencintainya”
Apa yang terjadi? Lukisan itu selesai, detail. Kau tau, gadis itu memandangi hasil lukisannya dengan mata berkaca-kaca. Ia bersedih. Ternyata Tuhan belum juga menghapuskan rasa cintanya yang dalam. Itu sama dengan ia harus merasakan rasa sakit atas cintanya yang bertepuk sebelah tangan.

Itu dulu, beberapa bulan sebelum Wati bertemu kembali dengan pria itu untuk menonton sebuah film di Studio 21. Ya, biasa sekali bukan. Gadis itu bersikap sangat wajar, padahal matanya tak pernah bisa berbohong. Sudah bulat tekat Wati untuk menyerahkan lukisan itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya, gadis itu sudah tak peduli. Lukisan itu adalah rangkuman dari segala kata-kata indah bagi orang yang bisa membacanya, sebelum gadis itu mengakhiri rasa cintanya.Gadis itu selalu berbuat sesuatu sebelum mencoba mengakhiri perasaannya.

Itu adalah cara yang kesekian kali ia coba. Cara Wati melepas perasaan cinta yang terlalu lekat itu. Sayangnya, belum pernah berhasil.

Benar. Ternyata itu semua tak benar-benar berakhir…

***

Hari ini, ia bertemu lagi dengan pria itu. Wati terlalu yakin bahwa perasaannya telah berakhir…
Ternyata ia salah. Wati belum bisa menjadi teman yang baik. Yang tanpa pamrih.
Bahkan semakin terusik, hingga tersemburat air. Air yang sumbernya dari hati. Deras mengalir di Jalan Solo.

Jogja, 13 Juni 2013

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s