Sudah sejak lama aku dengar tentang ‘Posong’. Posong itu nama suatu tempat maha eksotis di wilayah Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung. Dalam tulisanku kali ini aku ingin bercerita tentang wisata sederhanaku ke Posong. Semoga bermanfaat 😀

***

Liburan, dua hari aku di rumah. Aku pulang ke kampung halamanku. Temanggung, sudut Barat Laut. Aku berlibur, selain untuk memenuhi panggilan ke TPS. Sebagai warga negara yang berusaha baik, aku akan menggunakan suaraku untuk memilih Calon Gubernur dan Wakilnya, juga Calon Bupati dan Wakilnya. Aku ini sudah Tujuh Belas plesss! 😀

Liburan kemana ya? Hari sudah sore, tidak mungkin kami pergi ke Borobudur untuk ikut serta menerbangkan lampion. Itu pun jika  tidak hujan.

Kami akan ke Posong. Aku sudah penasaran sejak adikku bercerita tentang kemegahannya. Aku penggemar tempat yang tinggi (termasuk genteng rumah) maka sudah pasti aku akan tergoda untuk ‘Posong’. Jarak rumahku ke Posong, kurang lebih 20 km. Sore itu, kami pun berangkat. Kami yaitu aku, kedua adikku, ayah dan ibu.

Sampai setengah perjalanan, langit tampak pekat. Mendung berkumpul di atas kepala kami. Tak lama kemudian hujan turun. Kalau pun tetap ke Posong, kami tidak akan melihat apa-apa. Jadi,  buat kamu yang berencana datang ke Posong, jangan pergi ketika mendung atau hujan, karena bisa dipastikan kamu tidak bisa melihat apapun, selain kabut dan si mas penjaga 😀

Dan, ayahku yang ‘so unique’  mendadak punya ide, “Bagaimana kalau besok subuh saja? jam 4 pagi kita berangkat”, lalu kami bertiga anak-anak bliau segera mengiyakan. Siyap Bapak!. Jelas, hanya ibu yang tidak mengatakan ‘iya’, karena bagi ibu, hal seperti itu dianggapnya ngoyo alias ‘segitunya’. Ya, begitulah terkadang ibu punya pemikiran yang berbeda dengan kami. Sore itu kami tidak jadi ke Posong.

PERJALANAN KE POSONG

Benar saja, keesokan paginya, Ayah sudah membangunkan kami pukul 03.35 waktu Indonesia bagian kamarku. Kami berangkat. Kali ini tidak dengan ibu.

Ya, ini ada sedikit tips untuk kamu yang ingin ke Posong.

Pertama, jika kamu akan pergi ke Posong, sebaiknya berangkat subuh (kecuali  kamu tinggal di Medan atau Papua, itu sih terserah kamu saja) Oke aku ralat, sebaiknya sampai di Posong maksimal pukul 05.00 waktu Indonesia bagian Posong. Jika lebih dari itu, maka siap-siap saja ketinggalan momen Matahari terbit yang mempesona. Karena itulah hal yang paling dinanti pengunjung. Tapi kalau kamu mau melihat Bulan terbit, datangnya malam saja (keren juga tu, I’ll try). Sebenarnya siang hari juga tidak masalah sih. Ujung-ujungnya tergantung selera 😀

Nah, khusus untuk kamu yang datang ke Posong demi melihat Bulan terbit, datanglah setelah pukul 18.00 waktu Indonesia bagian Posong. Dan kamu jangan datang sendirian. Di Posong tidak ada rumah penduduk, suasananya sangat sepi. Cocok untuk semedi kaum galau (Eh, tapi tetap tidak recommended ding buat sendirian malam-malam…hiiii serem). Intinya, kalau kamu mau datang pas malam Bulan purnama, datanglah beramai-ramai bawa gitar bikin api unggun, sekalian saja tenda (camping kalee). Eh jangan, kali ini serius, lahan di Posong kurang cocok untuk mendirikan tenda, jadi tidak usah camping di sana ya, silakan cari tempat lain.

Oh ya, jangan lupa membawa kamera atau camcorder, karena ke Posong tanpa foto-foto itu bagai manisan keasinan, sob!

Jangan lupa juga untuk membawa jaket, sweeter, sarung atau slimut. Percaya, kamu akan kedinginan tanpa benda-benda itu. Kalau mau bawa kompor, juga tidak ada yang melarang. Silakan.

Sedangkan kami memilih untuk menyaksikan Matahari terbit di Posong saja. Di lereng Sindoro yang berhadapan dengan Sumbing, surganya tembakau. Pagi itu kami berangkat pukul 04.03 waktu Indonesia bagian rumah kami. Dengan semangat empat lima tentunya.

Kedua, pastikan cuaca cerah ketika keluar rumah. Itu yang kami lakukan ketika kami hendak berangkat. Cuaca cerah yang ku maksud  tidak harus dengan langit benderang bertaburan bintang kok. Paling tidak awan terlihat tinggi, lebih tinggi dari Sindoro, Sumbing dan gunung lainnya. Itu sudah cukup. Tenang, kalau rumahmu di Suriname, kamu tidak perlu repot-repot melihat langit dulu. Jadi saran ini hanya berlaku untuk kamu ketika berada pada radius 0 – 25 km dari Posong. Jelas?

Posong

Yang merah di Utara (atas)  itu adalah titik keberangkatanku, dan merah di Selatan (bawah) adalah Posong. Kalau kurang jelas, lihat peta di bawahnya lagi ya …

PETA

Nah, sudah ku katakan tadi, kalau peta satelit tidak jelas, kamu bisa melihat versi peta biasa. Peta di atas tadi adalah peta luar biasa. Sedikit lebih jelas, ya kan?  Titik hitam yang bagian Utara (atas) itu adalah titik keberangkatanku, dan yang Selatan (bawah) adalah Posong.

Kalau kamu belum juga jelas, buka google map deh 😀

Lalu,  beginilah suasana jalan raya ketika kami berangkat. Jalan raya Candiroto – Parakan yang berlubang-lubang dan berkelok, masih lengang.

WP_20130526_005[1]

Jalan yang masih sepi

Perjalanan ke Posong di Pagi Buta

Perjalanan ke Posong di Pagi Buta

WP_20130526_015[1]

Diterangi cahaya Purnama saat Sindoro masih tertidur

Ketiga, belilah makanan sebelum sampai ke Posong. Kalau hari masih sangat pagi, biasanya kamu tidak akan menemukan penjual makanan di sana.  Sekedar rekomendasi saja, jika kamu datang dari arah Timur melewati Parakan, berhentilah sejenak di pertigaan Pasar Legie Parakan. Di sisi kanan jalan ada warung bubur yang enak. Karena enaknya, biasanya pukul 05.00 waktu setempat, kamu sudah tidak kebagian apa-apa. Alternatif lain, sisi kiri jalan ada warung kelontong yang menjual sarapan pagi. Harganya murah meriah, sekitar Rp. 6.000,- untuk satu porsi dengan lauk pindang atau telur ceplok. Kamu boleh langsung sarapan di sana, atau dibungkus. Jika memilih dibungkus, si mbak yang jual akan memberi kamu sebuah sendok plastik untuk satu porsi. Dia pengertian bukan? dia tau kalau kamu akan memakannya di tempat dimana kamu sulit mendapatkan sendok.

Keempat, jika kamu belum shalat Subuh, maka kamu bisa shalat dulu di masjid-masjid sepanjang sisi jalan yang kamu lalui. Waktu itu kami shalat di sebuah masjid yang letaknya persis di sisi kanan jalan raya Parakan-Wonosobo. Alhamdulillah.

Kelima, setelah memasuki Desa Tlahab, kamu harus mulai berhati-hati melihat tanda (plang) Wisata Posong di sisi kiri jalan (jika kamu datang dari arah Timur). Tepat di seberang jalan kamu harus berbelok memasuki jalan sempit yang hanya cukup untuk ukuran satu mobil Alphard. Jalannya tidak akan cukup untuk dua Alphard sekaligus. Jangan ke Posong menggunakan bus, tronton, atau truk kontainer, hmm.

Itu jalan trasahan. So, what the meaning of trasahan? Jalan trasahan adalah jalan yang terbuat dari susunan batu yang rapi. Masih sangat khas untuk beberapa wilayah desa di Kabupaten Temanggung. Sebenarnya aku lebih mendukung jalan trasahan ini tetap dilestarikan sebagai suatu keunikan. Selain itu, jalan trasahan masih memberikan ruang untuk resapan air pada sela-sela batunya. Akan tetapi, kebanyakan orang memiliki pemikiran yang berbeda denganku. Kebanyakan jalan desa sudah mulai di aspal, jikalau sulit dengan aspal, mereka mengubah trasahan menjadi jalan blok semen yang keras 😦 sedih ih.
Konon, masyarakat di sekitar Posong tidak setuju jika jalan ke tempat wisata tersebut di aspal. Aku tidak tahu pasti apa alasannya, yang jelas aku sangat sepakat dengan pendapat masyarakat Posong tersebut. Bungkusss!

Jalan trasahan-nya berkelok-kelok. Untuk sampai ke Posong, kamu harus menempuh jarak 3 km dari jalan raya Temanggung-Wonosobo. Di sepanjang 3 km itu, kamu akan disuguhi pemandangan yang luar biasa. Inilah surganya tembakau.

Begitu juga kami pagi itu, aku, ayah dan adik-adik ku dimanjakan dengan panorama yang menakjupkan. Sindoro Sumbing sudah mulai terbangun dari tidur mereka. Cahaya purnama meredup, langit Timur mulai sayup-sayup terang. Lima gunung lainnya tampak mulai terjaga. Mereka Gunung Ungaran, Gunung Andong, Gunung Telomoyo, Gunung Merbabu, dan  nun di Selatan, Merapi menguap. Subhanallah, Sindoro berdiri gagah di depan mata dililit jutaan helai daun tembakau kualitas nomor wahid. Wangi. Wangi surga.

Suasana jalan ke Posong

Jalan trasahan menuju Posong

Sindoro dari Jalan Posong

Sindoro berdiri gagah di depan mata

Jalan ke Posong

Jutaan helai daun tembakau, melilit kaki Sindoro – Posong

Itu jalan menuju Posong. Ku ambil gambarnya ketika perjalanan pulang. Karena jika aku memotretnya pagi tadi, tidak cukup cahaya untuk menunjukannya padamu. 😀

Akan lebih afdhol, kamu datang ke Posong dengan menggunakan kendaraan roda dua. Soalnya tidak mungkin kamu ke sana pakai becak. Jalannya menanjak dan sempit. Lagi pula pemandangan yang asyik dan udara yang segar bisa kamu nikmati lebih hikmat. Apa lagi berdua dengan pasangan, ihirrr … 😛

Tapi kami datang dengan kendaraan roda empat. Banyak faktor yang mengharuskan kami menggunakan kendaraan roda empat. Tidak akan aku jelaskan apa sajakah itu. Sekali lagi, yang ingin aku katakan bahwa sebenarnya jalan menuju Posong cukup untuk dilalui kendaraan roda empat, tetapi akan sangat repot jika berpapasan dengan sesama roda empat. Kan aku juga sudah katakan,roda empat maksimal Alphard. Coba kamu kira-kira sendiri (lihat gambar).

WHAT A BEAUTIFUL POSONG!

Kami sampai di Posong, tepat saat Matahari mulai live show. This is Wonderful Sunrise, Dhab!!  Baru sepuluh detik kendaraan kami parkir, kami sudah tidak sabar membuka pintu untuk segera menelan semua keindahan pagi. Subhanallah…tak henti kami bertasbih. Betapa tidak, ini surga yang bermigrasi ke Bumi. Maha Besar Allah dengan ciptaan-Nya yang Maha Dahsyat. Brrr, udara pagi yang dingin, menusuk hingga ke tulang. Airnya seperti air es. Ku keluarkan kamera handphone ku. Ini momen yang wajib diabadikan.

Surganya tembakau

Sumbing dari balik Tembakau

Merbabu dari Posong

Cincin api melingkari Jawa

Sunrise di Posong

Sunrise di Posong

Surganya Tembakau Temanggung

Taman Surga, Surganya Tembakau Temanggung

Gunung sumbing dari Posong

Saat Sumbing membusungkan dada

Jalan Surganya Tembakau

Jalan Surga

Maka decak kekaguman tidak akan cukup lengkap, kecuali kamu datang ke sana. Ke Posong !

HARMONIKA DI POSONG

Setengah jam berlalu. Dalam dingin yang mencengkeram. Waktu itu pukul 06.00 waktu Indonesia bagian Posong. Tetap saja hangatnya mentari tak mampu mencairkan rasa beku. Tapi kami bahagia. Tidak hanya kami di sana. Ada empat pemuda dengan satu kamera DSLR di gasebo bawah. Dari logatnya, mereka bukan orang Jawa. Di gasebo atas, ada tiga orang pemuda, juga dengan kamera DSLR-nya. Yang lain, aku tidak tahu. Aku tak sempat mengabsen satu per satu. Yang jelas ada satu orang mas penjaga yang ramah. Ia menyapa ayah ku seketika kami datang, seperti sudah kenal sebelumnya. Mungkin memang sebelumnya sudah saling kenal.

Oh Posong yang rupawan. Belum terjamah banyak orang, itulah yang membuat suasana semakin tenang. Aku duduk di sudut bangunan yang atasnya berdiri sebuah gasebo. Ada tiga gasebo di sana. Seperti yang ku katakan tadi, satu di atas dan satu di bawah. Sayangnya aku tak memotret gasebonya. Kalau kamu mau lihat, cari sendiri ya 😀

Aku sengaja membawa sebuah Harmonika. Harmonika sepuluh lubang. Jujur kacang ijo, sesungguhnya aku tidak bisa memainkannya. Harmonika ini ku beli sekitar dua hari yang lalu. Mengapa aku membelinya? Ya, aku ingin bisa memainkannya. Bisa karena punya.

Nongkrong di Posong sambil bermusik, itu rasanya seperti makan nasi goreng spesial. Komplit.  Alat musik apapun yang kamu mainkan, akan menambah syahdu suasananya. Apalagi alat musik klasik. Lebih-lebih alat musik tradisional atau etnik. Tidak usah bawa yang terlalu berat, toh kamu tidak akan menggelar pentas karawitan di sana kan? Alat musik tradisional yang recommended adalah seruling, karinding, jimbe (kecil), ukulele, biola emm…

WP_20130526_088[1]

Sumbing di balik Harmonika

Harmonika di Posong

Sunrise dan Harmonika di Posong

Sekalian saja kamu bikin video klip di sana, it’s very recommended! 😀 Seperti video klip ku : “Harmonika di Posong”.

Hehe, kacau kan? Tentu saja kacau. Maklum, aku belum khatam belajar main harmonika sama Om Charlie Musselwhite.

BIAYA WISATA POSONG

Kami tidak membawa uang banyak ketika datang ke Posong. Sekitar Rp. 100.000,-. Sebesar Rp. 50.000,- sudah kami pakai untuk beli bensin bersubsidi. Idealnya kami beli Pertamax. Anggaplah uang kami masih tersisa Rp. 50.000,-. Seperti yang ku ceritakan sebelumnya, di Parakan, kami membeli makan : 3 porsi x @ Rp. 6.000,- = Rp. 18.000,- . Makanannya cukup sederhana, seperti ini :

WP_20130526_144[1]

Uang kami tersisa, Rp. 32.000,-. Lalu, bagaimana dengan biaya masuk ke Objek Wisata? Tidak usah khawatir, tiket masuk (terhitung saat tulisan ini dirilis) adalah Rp. 2.000,- per orang. What??? coba kamu bandingkan dengan tiket masuk objek wisata lainnya. Sangat murah. Itu sudah termasuk biaya parkir, soalnya si mas-nya tidak meminta uang lagi untuk parkir. Boleh sih kalau kamu mau memberi secara suka rela. Kami datang berempat, maka kami membayar Rp. 8.000,- untuk menikmati istana alam yang mengagumkan itu. Jadi uang kami masih tersisa Rp. 24.000,- . Coba dihitung. Betul?

wp_20130526_1411

Kami pulang dengan hati senang. Dengan pikiran yang segar. Sampai rumah kami melapor kepada ibu sambil memperlihatkan foto-foto Posong yang indah. Tidak sia-sia kami bangun dini hari. Memang, untuk mencapai keindahan butuh pengorbanan. Kami sampai kembali di rumah pada pukul 08.30 waktu Indonesia bagian rumah kami, dan setelah mandi, kami akan datang ke TPS.

Jadi, kapan kamu datang ke Posong?

***

Oh Posong, lain waktu aku akan datang untuk melihat terbitnya Bulan Purnama, taburan bintang dan citylight

😀

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

17 responses »

  1. olipe berkata:

    Hmm…jalannya kalau pake motor kira2 susah gak y …mengingat musim ujan plus jalannya masih berbatu…

    • tsemoet berkata:

      Kalau pakai motor sepertinya tidak begitu sulit. Jalan batunya masih tersusun bagus. Hanya sedikit licin saja. Hati-hati. Yang jelas jangan datang pas hujan/menjelang hujan… kabut :’p hehe
      Terimakasih sudah mampir

  2. Suci Baskoro berkata:

    dik/mba tsemoet, salam kenal ya 😉
    tulisanmu ini keren deh (Y) keep on writing about Jawa Tengah tourist attraction. God bless U 🙂

  3. dora berkata:

    satu kata buat kamu: Cerewet. Hahaha ngakak mbacanyaaa

  4. zuniyanto berkata:

    Terimakasih tulisan anda bagus sekali sesaui dengan karakter posong sebenarnya….( saya salut ) tapi ada beberapa kata di tulisan anda menurut saya tidak sesaui dan meng ada – ada…..dan itu malah menjatuhkan citra posong sendiri …..kalau anda belum mencoba maka jangan anda tulis….itu berarti kebohongan besar….silahkan camping di posong dan buktikan…tulisan anda ini….tks.ZUNIYANTO

    • tsemoet berkata:

      Makasih mas zuniyanto atas masukannya. sy hanya mengamati menurut sudut pandang saya ketika itu, Syukur2 kondisi sekarang sudah jauh lebih baik. Monggo barangkali pendapat sy soal camping bisa jadi tantangan tersendiri untuk dibuktikan oleh pembaca dan akhirnya terbantahkan …malah lebih bagus… (y) selamat berkunjung ke Posong

  5. Rediyanto berkata:

    Jujur ketika aku membaca ini, aku jadi bangga sekali menjadi warga asli desa Tlahab.
    Terima kasih ya Mbak “Tsemoet”. 😀

  6. mesbah berkata:

    bulan februari cocok gak ? kesana?

  7. Robbin berkata:

    kalo dari jakarta enak lewat mana ya ? dan boleh minta rutenya mas tsemoet thx

    • tsemoet berkata:

      first, perkenalkan sy cewek, plis jgn sebut sy ‘mas’ – hehe

      makasih ms Robbin (bener mas kan ya?) dah mampir ke tulisan lama saya. kalo menurut sy sih, enak lewat pantura, Nah sampai ke Tegal ambil arah Purwokerto – Purbalingga – Banjarnegara – Wonosobo – Parakan – Temanggung. Kalau mau lanjut ya langsung Magelang trus ke Jogja deh…

      But, kalo mau cari cepetnya mbah gugel lebih tau.

      Why saya rekomendasikan jalur tersebut, karena ada beberapa lokasi dimana dikau bisa mampir. Contoh ni : Tegal – Purwokerto – Purbalingga, ada pemandian air pana Guchi, Gunung Slamet, Baruraden, kota Purwokerto yang punya cerita -for me-, nyicip mendoan, de el el. rute Purbalingga – Banjarnegara – Wonosobo bisa mampir ke seruling mas, surya yudha, kulinernya dawet ayu, enthok gobyos wonosobo, mie ongklok, belok dikit bisa ke dieng, sikunir de el del
      Balik lagi ni di rute yang pol pol asik Wonosobo – Temanggung via Parakan. Wiiih di situlah Posong dan lokasi eksotis lainnya bertempat. Bayangin ya, dari wonosobo setelah sebelumnya nyincip mie ongklok dan enthok gobyos, sambil beli carica…naik ke arah Parakan via Kretek dimana dikau akan disuguhi jalan berkelok dan menanjak, ada sedikit kebun teh di kanan kirinya sampai persis ditengah tengah dua gunung kembar Sindoro Sumbing, sempatkan berhenti sebentar di sana, tepat ditengah tengahnya sambil menikmati kopi hitam. Eits ada Embung Kledung (danau kecil buatan) dengan background gunung Sindoro (browsing sob) …setelah fresh gitu turun dikit sampai Desa Tlahab, ada gapura kecil kiri jalan, belok langsung…tancap gas…itulah Posong.

      Silakan dicoba 😉

  8. yuda pra berkata:

    Bisa untuk bercamping di lokasi mba ?….biar bisa menikmati bermalam di lembah posong dan menunggu datangnya matahari terbit…thx artikel yg sangat menarik

    • tsemoet berkata:

      Sekarang bisa mas…artikel ini saya tulis pas awal Posong belum dibangun. Sekarang dah oke dah jauh lebih bagus mas…monggo selamat bercamping dan menikmati sunrise di Posong 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s