Hari itu hari Jumat. Ya aku ingat. Kalau hari Jumat aku pulang  lebih awal dari biasanya. Pukul 11.30 WIB. Aku tak punya rencana banyak hari ini. Selagi masih sempat, aku ikut latihan Karawitan. Kamu tahu, apa itu Karawitan? Googling aja deh ya, lagi nggak sempat menjelaskan 😀

Baik…aku mulai bercerita.

Aku dapat kabar mendadak. Temanku menikah. Mungkin sudah lama direncanakan, cuma aku baru dapat kabar tadi malam. Tadi malam itu malam Jumat (hiii … serem ya). Temanku itu nikah sama pacarnya. Nah, temannya temanku itu berencana hendak datang pada hari-H acara pernikahan. Aku ingin titip sesuatu. Jadi, kalau temannya temanku itu berangkatnya Sabtu pagi, maka maksimal Jumat sore aku harus sudah menitipkan titipanku. Oke. Aku akan pergi ke Swalayan.

Matahari sudah tak tinggi. Agak merendah melangkah ke arah Barat. Merendah artinya sang Matahari tidak ingin sombong. Hari tak terlalu panas, aku beranjak ke Timur. Berlawanan menjauhi Matahari. Aku ke arah Malioboro. Pelan-pelan kunikmati perjalananku, sambil terus mendendangkan lagu Ayah Pidi Baiq bersama The Panasdalam Bank, “Sudah Jangan ke Jatinangor“. Menurutku lagu itu romantis sekali. Walau sebenarnya isinya tentang orang yang sedang patah hati. Tapi di dalamnya ada support, ada semangat untuk bangkit. Bangkit menaklukan sang pujaan hati. In Harmonia Progressio. Semangattt ! 😀

Aku jalan. Aku putuskan lewat jalan Wates. Ada alasannya, karena jalan Wates lebih lebar dari jalan Godean. Tidak sepadat jalan Godean. Akhir-akhir ini aku malas lewat jalan Godean. Rasanya menyempit, semakin hari semakin sempit. Kecuali di jalan Godean ada Obama. Pasti ku bela-belain lewat sana. hehe

Aku sampai di perempatan Wirobrajan. Ada lampu merah di situ, karena merah maka aku berhenti bersama kendaraan lainnya. Ada yang menarik ternyata. Ini soal politik, bro! Hmm, biasanya aku lihat gambar Pak Harto Mesem itu tulisannya “Piye kabare le? Enak jamanku to?” kali ini tidak, ada kalimat lain yang tidak memojokan siapapun di samping Pak Harto Mesem :

Gambar

“Yen ora edan ora geduman, paling becik sing eling lan waspada”, itu jawabanku dalam hati. Pokok e tenang saja Eyang ndak usah khawatir. Selamat beristirahat dengan tenang Eyang, pasti Eyang kelelahan memimpin negeri ini 32 tahun lamanya. Sekarang giliran kami Eyang. Okesip.

Lalu aku lurus meneruskan perjalananku menuju swalayan ternama di Yogyakarta. Di sana serba ada. Mau cari apa saja ada. Cari jodoh juga ada kok, kalau beruntung bisa jadi dapat jodoh di sana. Misalnya kamu pas jalan di supermarket, bawa belanjaan banyak. Kamu juga lagi sibuk pilih-pilih barang. Dan tiba-tiba, gubraakkk! kamu menabrak orang tak dikenal. Barang-barang kamu jatuh semua, terus kamu dibantu memunguti barang-barang itu oleh orang yang kamu tabrak. Dia merasa bersalah (padahal harusnya kamu yang salah) and than, itu ternyata detik- detik kamu bertemu dengan jodohmu. Who knows, to?

Aku mendarat di parkiran. Tanpa kesulitan mencari tempat yang kosong. Ini bukan tanggal muda, makanya tidak banyak orang berbelanja menghabiskan uang mereka. Aku melenggang, sombong seolah berkata “Ini gue belanja pas tanggal tua, sob!” yang kurang lebih artinya : duit gue masih banyak. Padahal tidak juga sih, aku cuma berusaha mensyukuri rejeki yang sudah diberikan Tuhan dengan selalu  ‘merasa’ uangku tak habis-habis 😀

Sesungguhnya, aku tak tahu persis barang apa yang akan aku beli. Aku hanya mengikuti kemana kaki ini melangkah. Melangkah meninggalkan kenangan masa lalu (asiiik). Pertama-tama, aku menyambangi lantai teratas. Di sana ada pernak pernik berbau unik dan cantik. Pantas untuk cindramata pernikahan teman. Ya, selain ada baju, sepatu, sandal, bantal, guling, sprei, bunga plastik, kristal dan almari. Lalu ada sales peralatan terapi yang suka pura-pura memberikan surprise pada pengunjung yang mencoba alatnya, biar si pengunjung beli. Ada kasir dan mas-mas cleaning service juga.

Di lantai teratas itu aku melirik sebuah benda, tapi tidak langsung ku beli. Belum cukup alasan untuk menguatkanku membelinya. Aku mengelilingi tempat itu. Dua putaran saja. Setiap melewati sales alat terapi, aku memandang mereka dengan suudhan. “Siapa lagi yang akan menjadi korban ‘pura-pura dapat hadiah’ kali ini”, prasangkaku dalam hati. Entah.

Setelah puas mendapati pemandangan di sana, aku turun ke lantai bawahnya. Itu lantai dua. Berarti yang teratas tadi adalah lantai tiga. Ups, salah sodara! yang lantai tiga tadi bukan lantai teratas, di atasnya masih ada satu lantai lagi. Jadi sebut saja itu tadi lantai tiga. Aku tidak ingin mengedit tulisan ini, yang penting sudah ku ralat. Aku kira kamu pasti mengerti. Kamu selalu mengerti aku, kan?

Di lantai dua. Lantai dua sangat recommended untuk ibu rumah tangga, lebih-lebih untuk para pengantin baru. Recommanded. Segala rupa peralatan rumah tangga, ada di sana. Kalau kamu dari atas seperti aku tadi, perlu putar arah dulu, boleh ke kanan atau ke kiri. Kamu akan dihadapkan dengan jajaran alat elektronik, televisi flat LCD atau LED. Silakan tinggal pilih. Kalau kamu datang dari lantai satu, ketika kamu sampai di ujung eskalator, kamu cukup maju tiga atau empat langkah. Kalau masih bingung, di situ ada satpam. Jadi kamu tinggal tanya saja. Aku pun masuk melalui partisi yang bertuliskan “MASUK”. Ada satpam di situ. Aku tidak akan membeli televisi atau kulkas, jadi aku belok kiri ke arah peralatan dapur dan pecah belah. Aku ini calon ibu lho (terus??)

Mataku dijamu dengan aneka rupa perlengkapan dapur hingga peralatan untuk menyajikan hasil dapur. Aduhai, seksi sekali. Kelap kelip terkena lampu. Andai aku anaknya ARB, sudah ku borong benda-benda ini. Barang-barang seperti ini saja sudah hampir membuatku khilaf. Khilaf kalau aku hanya membawa uang dua ratus ribu rupiah. Dua ratus ribu yang tadinya serasa tak habis-habis, kini berubah menjadi nominal yang tidak berarti. Pantas  masalah lumpur Lapindo begitu saja terlupakan. Mungkin mata mereka sudah digelapkan oleh kemewahan barang-barang impor dan perhiasan. Lebih memilih membelanjakan uang mereka untuk keindahan semu, dari pada menyantuni korban yang kian terampas haknya. Bahkan untuk itu, digrogoti pula uang rakyat. Terrr Laaa Luu.

Sudah-sudah, aku sudah selesai mengelilingi lantai dua tempat perabotan rumah tangga antri menunggu jemputan pembeli. Hai, aku tidak jadi membeli salah satu dari mereka. Sepertinya aku akan  kembali ke lantai atas. Lantai tempat sales alat terapi beraksi. Tidak ada lima menit, aku sudah ada di atas. Berdiri di depan barisan perlengkapan tidur. Lalu, memilih satu diantaranya. Memilih yang memiliki kualitas nomor wahid. Karena, perlengkapan tidur (terutama untuk pasangan pengantin baru) memegang peranan vital dalam keharmonisan keluarga. Hmmm,… Aku memilih warna merah marun. Merah marun menjadi salah satu  pilihan karena identik dengan susana romantis serta menunjukkan gairah cinta pengantin baru. Cap cus, bayar di kasir. Tidak lupa kertas kadonya motif batik. Sebenarnya aku cari Batik Truntum, perlambang cinta sejati. Tapi tidak ada, jadi yang mirip Truntum saja. Yang penting niatnya mendoakan agar cintanya langgeng selamanya.

Aku tidak langsung pulang. Aku mampir ke supermarket-nya. Sudah ku bilang, uangku tak habis-habis. Pada tanggal yang sudah menua ini, tak banyak orang berbelanja di sana. Kamu tau kan, kalau datang ke tempat ini pada tanggal satu atau dua, antrinya bisa sampai 10 meter (diukur dah kalo nggak percaya). Aku belanja keperluan bulanan yang lazimnya dibeli pada awal bulan. Hei, kamu tidak usah tanya, sekali lagi aku katakan uangku tak habis-habis (sombong sumpah !) :D. Aku membeli sebungkus susu instan 500 gram dan satu gulung tisyu toilet. Ya hanya itu keperluan bulananku yang perlu aku beli. Tidak perlu menunggu awal bulan kan? Sudah cukup melengkapai keperluan bulanan, aku pulang. Rupanya hari sudah gelap. Sudah lepas Maghrib. Aku sedang tidak shalat.

Untuk kembali menuju tempat parkir aku harus menuruni tangga dulu, melewati food court dan naik lagi sedikit, lalu belok kanan. Aku menuruni tangga dengan membawa dua kresek barang belanjaan. Tidak terlalu repot kok. Aku menuruni tangga. Sampai di Food Court, kakiku melangkah lurus ke arah tulisan ‘Bakso’. Kan seharusnya aku belok kanan lalu naik tangga lagi. Aku memesan satu mangkok bakso. Langsung bayar. Lupa harganya berapa. Itu tidak jadi soal sih.

Aku duduk, meletakan dua kresek barangku. Mengambil Handphone dari tas, meletakannya di atas meja. Menggeser tas ku ke samping badan. Ku hembuskan nafas. Pufft. Posisiku duduk membuatku leluasa memandang orang-orang berlalu lalang. Tidak lama, semangkok bakso sudah menemaniku. Dan ini aku sedang makan bakso di food court sebuah swalayan ternama di Yogyakarta itu, walau sebenarnya aku masih bisa pulang dan makan di rumah. Ah, barang kali saja nanti ada hal menarik yang bisa aku ceritakan. Jadi aku hanya memakai waktu yang terlalu luang untuk duduk di sini.

Aku mulai memandangi sekelilingku. Memandangi orang yang bagai lebah keluar dan masuk sarangnya. Mata ku berkeliling. Ke kanan ke kiri. Sampai aku menyimpulkan : pengunjung swalayan ini sangat heterogen.

Ada yg menggendong belanjaan, ada yg menggendong tas (banyak duit mereun), ada yg menggendong anak, ada juga yang menggendong kucing. Memang, seorang ibu itu berjalan sambil menggendong kucing layaknya bayi. Kucing itu ditimangnya. Cukup aneh sih. Mungkin lebih aneh dari aku yang sedang duduk mengamatinya.

Ada orang tua, anak muda, anak kecil sampai bayi yang digendong (ini benar-benar bayi). Ada yang dengan keluarga besar mereka. Banyak yang datang dengan pasangannya juga. Suami, istri, pacar, TTM, atau PHP-an nya. Tapi ada juga yang datang sendiri (kaca mana kaca).

Ada yang berpenampilan rapi dengan menggenggam kunci mobil, ada yang necis, style-is, ada yang santai kaos oblong, ada juga yang tampak compang camping. Mungkin itu pengemis di luar tadi yang selesai menghitung hasil profesi meminta-mintanya. Dia datang ke swalayan untuk berbelanja keperluan harian, atau mungkin keperluan bulanan seperti aku. Hmm, jangan kira pengemis tak punya uang untuk berbelanja ke swalayan. Beli baju mahal pun mereka sebenarnya mampu. Jangan remehkan pengemis dengan memberi mereka uang recehan. Jangan menghina pengemis dengan memberi mereka uang di jalanan. Saru.

Baksonya keasinan bro! Asin banget. Yang jual sudah niat pengen nikah kali ya. Sebenarnya apa sih hubungannya antara ‘asin’ dan ‘pengen nikah’. Kamu tahu? Mungkin orang pengen nikah banyak pikiran persiapan ini itu. Jadi masaknya tidak konsentrasi. Tapi kenapa harus keasinan, kenapa tidak kemanisan, keasaman, atau hambar gitu. Atau mungkin, bagi perempuan, kan masak biasanya jadi salah satu andalan agar menjadikan ‘layak’ dinikahi, hal itu merujuk pada pendapat : istri masak untuk suami, istri pandai memasak disayang suami. Sebenarnya aku agak kurang setuju sih dengan pendapat itu. Tapi sudah lah, tidak akan aku bahas. Oke kembali ke masalah keasinan. Karena ingin sekali menonjolkan kemampuan memasaknya, si perempuan terlalu semangat. Menonjolkan kemampuan memasak, adalah refleksi perempuan itu ingin segera ada pria yang menikahinya karena dengan demikian dia sudah layak dinikahi (kurang setuju juga sih). Saking semangatnya ingin menonjolkan kemampuan memasaknya, ia menambah banyak-banyak garam supaya masakannya enak. Supaya enak? iya. Seperti halnya dalam dialog ini :

Cewek : “Duh, kok udah malam” 
Cowok : “Kenapa emangnya kalau udah malam, Neng”
Cewek : “Mau pulang, Bang. Dah nggak ada angkutan. Naik ojek juga nggak ada. Sendirian lagi, takut”
Cowok : “Yuk Abang anterin”
Cewek : “Yakin Abang mau nganterin”
Cowok : “Iya lah, kasihan cewek semanis Eneng pulang malam sendirian”
Cewek : ” Ah, jadi nggak enak ni”
Cowok : “Santai aja kali. Kalau nggak enak, ya ditambah garam
Cewek : “Hihihi…ah Abang bisa aja, emangnya mau masak”
Cowok : “Ya udah, mau dianterin kemana ni Neng?”
Cewek : “Ke Jembatan Ancol, Bang”
Cowok : “…….” (hening, yang ada hanya suara tawa perempuan merintih, hiihiihiii)

Tapi kali ini yang jual laki-laki. Saking asinnya semangkok bakso itu, maka aku berusaha menetralisasinya dengan dua kotak Susu Milo yang kebetulan aku beli di supermarket. Aku memang tidak memesan minuman, sih.

Gambar

Sudah terkumpul semua makanan di lambungku, maka aku berkemas untuk segera meninggalkan tempat ini. Kenyang. Lumayan. Aku menaiki tangga pendek, lalu belok ke kanan.

Ku ambil sepeda motorku di tempat parkir. Aku akan pulang. Ku susuri jalan pelan-pelan. Kecepatannya hanya 30 km per jam. Dengan demikian aku butuh waktu kurang lebih 24 menit untuk sampai di tempat tinggalku.

Oh Jogja di malam buta. Gemintang berkedip di langit pekat. Aku terpukau memandangi mendung yang jadi payung. Hawa dingin menggrayangi tubuh. Aku menggigit bibir. Aku merasa dingin menusuk sampai ke tulang. Sambil sesekali aku bernyanyi “…sudah jangan ke Jatinangor. Masih banyak kota lainnya. Perempuan tak cuma dia. Ada tiga miliar dua puluh satu”

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s