Aku menulis. Itu hal yang cukup langka, bahkan di ambang punah. Sambil mendengarkan ‘Kembang Tanjung’ anganku menerawang sampai ke belahan Pulau Jawa bagian Barat. Bandung. Tapi bukan itu yang akan ku ceritakan. Ini tentang Aku, Beefsteak dan Tukang Parkir.

***

Hari itu, Kamis kalau tidak salah. Tanggal merah. Sebagai anak muda yang baik dan benar, aku putuskan untuk menghabiskan hari dengan jalan-jalan. Nge-Mall dengan sahabat baiku. Taukah kau, sebenarnya pikiranku sedang tak menentu arah. Kalau diibaratkan seperti setetes air di atas daun talas – loooh -_-‘ ?? Mungkin sedang tak punya pendirian. Montang manting tidak jelas. Sedang plin plan. Sedang seperti layang-layang tak berbenang. Ah begitulah pokoknya. Maka dari itu ku atasi dengan nge-Mall. Entah itu salah atau benar :p

Acara nge-Mall itu tak mengubah apapun sebenarnya. Ragaku ada. Tapi jiwaku tak tahu kemana. Aku yang biasanya menginap di rumah temanku itu. Mencari alasan untuk segera kembali pulang. Padahal di otakku tak terlintas sedikitpun untuk pulang. Jadi aku akan kemana?

Aku pamitan. Pamitnya pulang. Shalat Maghrib di rumah. Itu kataku pada temanku. Wuss…

Aku seperti terbang. Dan tak tahu terbang kemana. Arahnya ke Barat. Yang jelas aku tidak akan pergi ke Arab atau ke Eropa. Dan, seperti ada yang memanggilku bertengadah di Masjid Syuhada. Aku pergi ke sana. Shalat Maghrib berjamaah. Aku bersimpuh sebelum shalat jamaah dimulai. Duduk diantara Adzan dan Iqamah. Berdoa.

Sepanjang pengalamanku ikut shalat berjamaah, di Syuhada-lah aku mendapatkan sebuah relaksasi yang tidak biasa. Baik fisik maupun psikis (halah). Maksudnya, secara fisik, shalatnya bisa membuat otot-otot yang tegang menjadi santai, mengapa demikian? pokoknya coba deh… buktikan sendiri. Tapi harus berjamaah 😀 . Secara psikis, itu mah sudah jelas. Jadi tidak perlu aku diskripsikan, ya :p

Oh…Syuhada merengkuhku. Syuhada mendekapku, memeluku dalam damai. Dalam belai kasih Tuhan, Allah SWT. Aku menikmati shalat Maghribku. Menikmati setiap Takbir. Menikmati setiap bagian tubuhku bergerak. Hingga salam. Dan aku tertunduk, kelu tak bisa berucap. Kecuali air mata yang tumpah begitu saja seperti jebolnya Situ Gintung. Oo eM Ji ! 

Maghrib usai, aku tak segera pulang. Belum ingin kembali pulang. Masih ada sesuatu yang kurang. Malas beranjak. Aku pun duduk di sana sampai Isya’  tiba. Tanpa Handphone, sudah mati dia. Mungkin Tuhan menyuruhku belajar membaca Al Qur’an. Dan aku belajar membaca, sedikit demi sedikit. Seperti dengan guru ngajiku 15 tahun yang lalu. Kemudian, Shalat Isya’ berjamaah.

Kali ini mau tak mau aku harus pergi dari sini. Lampu-lampu sudah dimatikan. Aku pergi. Masih tidak tahu mau kemana. Aku belum mau pulang. Tentu saja aku tidak akan mengelilingi lima Kabupaten/Kota di DIY untuk visit dan cari cap malam-malam begini. Andai ini siang hari, sudah pasti aku tau kemana aku harus pergi. Ke kantor Kelurahan (opo sih?)

Krucuk krucuk … perutku miss call. Rupanya dia request, biar aku pergi ke tempat makan. Aku jadi ingat salah satu tulisan temannya temanku tentang makan malam. Makan malam itu kurangi karbo, tambah protein kalo mau badan berisi. Maklum, tubuhku ini tak berisi. Andai aku sebangsa rumput, mungkin tubuhku ini mudah bergoyang. Lalu Ebiet G Ade akan mengajak mu bertanya pada ku, ketika Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita (malah nyanyi).

Baiklah. Aku mencari protein. Aku mau makan daging. Kamu suka daging tidak?. Itu sih terserah kamu, aku yang mau makan kok. Aku makan steak. Titik. Aku datang ke Waroeng Steak. Sama siapa? sama motorku lah, cuma dia tidak ikut makan. Aku tak pernah sendiri cuy.

Penuh. Aku sudah pasrah pada nasib. Hampir balik kanan tidak jadi, seorang mas-mas berseragam pelayan mempersilakan aku duduk di bangku nomor 31. Bangkunya terlalu besar untuk satu porsi steak. Tapi apa boleh buat, tak ada tempat lain. Penuh. Aku pesan satu Blackpapper, satu Milkshake dan satu Beefsteak. Loh, katanya satu porsi? Sudah lah itu dipikir nanti saja. Yang penting sekarang makan. Oh ya, Milkshakenya tidak pakai Es. Tapi kalau tidak pakai Es nanti aku tidak jadi minum Milkshake. Karena pelayan akan memberiku Milkhake. “Ya sudah, saya pesan Milkshake, pakai Es ya mas”, kataku.

Akhirnya aku menemukan satu Bangku Kosong, duh kayak di film horror aja. Nomor 40. Aku pindah. Pindah ya Mas…!?

Lalu satu Milkshake pakai es didatangkan, tambah satu porsi black papper. Tapi setelah ku pikir-pikir, sepertinya terlalu lucu jika ada dua porsi steak pada meja kecil ini dengan satu orang perempuan kurus. Aku sedang tidak ingin melucu. Kuurungkan niatku. “Mas, beefsteaknya dibungkus ya?!”, kataku.

Aku keluar setelah membayar. Tidak lupa ku bawa sebungkus beefsteak. Akan ku makan lagi di rumah. Protein bro!

Dan aku melihat tukang parkir yang membantuku mengeluarkan motor. Ingin ku tanya, Bapak sudah makan atau belum. Bapak dari jam berapa kerja di sini. Bapak punya anak istri. Anaknya berapa pak. Istrinya berapa. Bapak tinggal dimana. Bapak naik apa ke sininya. Umur bapak berapa. Bapak lulus SD atau tidak. ahhh… pasti tidak sempat. Untuk menerima uluran seribu rupiah saja ia tak menatapku. Tatap mata saya, Pak! (enggak gitu juga sih). Ya sudah, belum rejekinya mungkin. Barangkali dia sudah punya Rejeki di rumah. Istrinya namanya Bu Rejeki. Padahal aku hanya ingin memberikan sebungkus beefsteak untuk si Bapak yang sudah sedikit tua itu. Jangan-jangan dia belum pernah makan beefsteak? (ngece kowe! *dithutuki pak parkir). Paling tidak untuk anaknya jika dia tak mampu mengunyah steak. Kalau dia tidak punya anak, ya untuk istrinya, Bu Rejeki. Kalau dia tak punya istri, mungkin untuk kerabat atau tetangganya. Tu kan, makanya tadi saya nanya-nanya dulu harusnya. -_-‘ hehehe. Maaf pak parkir, belum rejeki bapak mungkin.

Aku jadi penasaran, kira-kira siapa ya yang berkesempatan menerima sebungkus beefsteak ini ya? Kali ini niatku sudah bulat, untuk mencari seseorang yang bernasib baik (baik?) menerima sebungkus beefsteak malam ini. Aku hanya berdoa, beefsteaknya tidak beracun.

Mataku mulai jelalatan. Menengok kanan dan kiri. Sesekali menengok belakang melalui kaca spion. Aku menyusuri jalan ke arah Utara supaya bertemu dengan Jalan Godean. Aku melaju pelan. Sangat pelan. Aku melihat bapak-bapak tukang becak sedang melamun. Entah mengapa tak berhenti motorku. Aku hanya menengoknya. Oh sudah terlalu tua, mungkin giginya terlalu rapuh untuk mengunyah lezatnya beefsteak. Maaf bapak tukang becak, belum milik anda.

Lagi, aku masih melaju ke Utara. Setelah melintasi rel kereta. Ku rem kendaraanku. Menadak. Ada yang terlewatkan. Sudah lewat 20 meter. Kalau tak salah, ada bapak tukang sampah sedang melamun di bawah pohon. Sendirian. Ia kelihatan sangat payah. Kelihatan lelah. Sedang apa dia di bawah pohon, diam dan memandangi jalan raya. Tak diterangi lampu jalan. Kalau kereta lewat, pasti akan mengganggu lamunannya. Mungkin dia sedang menunggu seseorang. Mungkin dia sedang memikirkan anak istrinya. Mungkin dia sedang beristirahat sejenak, karena lelah. Mungkin dia sedang kekenyangan sehingga memilih berhenti dulu. Mungkin dia sedang terlalu lapar sampai tak mampu lagi berjalan? Menurutmu, dia sedang apa?

Aku berhenti, kira-kira 20 meter darinya. Turun dari motorku pada sebuah tempat sepi. Sejenak mengamatinya dari kejauhan. Bapak, mau beefsteak? Kataku dalam hati seolah-olah sedang bertanya padanya, sekalipun tak ada jawaban dari si Bapak itu. Kakiku hampir melangkah membawa sebungkus beefsteak, tapi mendadak ada rasa takut. Wah, balik arah 20 m ke Selatan? Aku ragu, menghambiri si Bapak itu. Aku benar-benar ragu. Mungkin, beefsteak ini bukan untuk si Bapak Tukang Sampah. Aku kembali menaiki motorku dengan masih merasa dilema. Maaf pak, aku ragu mengantarkan sebungkus beefsteak ini.

Kulanjutkan perjalananku, pelan-pelan ke arah Utara lalu belok ke kiri, ke Barat menyusuri Jalan Godean yang ramai. Aku semakin kesulitan mencari sosok mana yang akan ku datangi untuk sebungkus beefsteak ini. Semua orang seperti sibuk. Tak ada lagi yang melamun atau sekedar duduk diam di pinggir jalan. Jika ada, itu mbak-mbak cantik pakai hotpant. Aduhai mbak, sebungkus beefsteak ini rasanya tak berarti apa-apa untukmu! (sepertinya).

Sudah jauh aku menyusuri Jalan Godean. Tak ada yang menarik membuatku berhenti dan menyodorkan sebungkus beefsteak. Ku harap, ada sekelompok orang yang biasa nongkrong di perempatan Demak Ijo. Mereka itu anak yang hidup di jalan. Bukan anak jalanan. Yang sudah punya Perda, perlu penjangkauan. Bukan garukan. Mereka yang tidak seharusnya diberi uang recehan, tetapi seharusnya diberi ruang kasih sayang, pendidikan dan kreativitas dengan cara yang tidak bisa disamakan dengan anak-anak yang hidup di ‘rumah’. Ternyata tak ada satupun yang sedang singgah di bawah lampu merah. Di Pos jaga Polisi yang sudah tidak dipakai, juga tidak ada. Memang karena sudah malam. Angan-anganku, sebungkus beefsteak ini akan mengantar aku bercengkrama dengan mereka. Tahu tentang kehidupan mereka di jalan. Pupus. Pupus itu lagunya Dewa 19, kan?

unduhan

Sudah hampir sampai rumah. Berarti beefsteak ini kembali ke perutku. Aku makan sendiri. Seperti orang yang putus asa. Aku benar-benar akan pulang.

Seharusnya, dari tulisan ViTELL itu aku belok ke kiri. Tapi aku tidak. Aku lurus, lalu belok ke kanan. Aku baru ingat, minyak gorengku habis. Kalau beefsteaknya tidak ku makan malam ini, rencananya akan ku makan besok pagi dengan catatan digoreng dulu. Jadilah ‘Beefsteak Goreng’. emm keren kan?! Dan aku berhenti di pelataran sebuah toserba, namanya Rejeki. Kalau kau lewat jalan Godean, cobalah tengok ke kanan. Ada tulisan besar sekali. REJEKI. Itu tokonya.

Sebotol minyak goreng, ku bayar. Aku lupa berapa harganya. Dari kasir tadi, aku diberi uang seribu rupiah. Baguslah, untuk bayar parkir. Di luar, tukang parkir menyambutku dengan senyum. Ramah sekali. Belum tua, tapi sudah berkeluarga. (sok tau). Dia bertanya padaku “Kemana Mbak?” Aku tidak menjawab, kecuali dengan tangan yang menunjuk ke arah tertentu. Timur. Rupanya tukang parkir  mengerti. Diarahkannya sepeda motor merahku yang lelah ke Timur. Tukang parkir itu masih memberi bonus senyum. Ramah sekali bapak ini. Aku jadi ingin tanya-tanya. Namanya siapa, rumahnya mana, anaknya berapa, istrinya berapa, sudah lama markir, sudah makan belum, apa suka duka jadi tukang parkir, suka olah raga tidak, suka Persiba atau PSS Sleman, suka Vina Candrawati atau Sandrina, suka jaman Pak Harto apa Pak SBY. Ah, pasti tidak sempat. Bukan karena dia sibuk. Tapi karena malam menyuruhku pulang.

Seribu rupiah ku berikan. Aku jadi ikut-ikutan senyum. “Pak, ini Beefsteak buat Bapak!” Sambil menerimanya, wajah si Bapak Tukang Parkir itu seolah bertanya “Maksudnya apa Mbak?” . Swerr, Pak! Saya tidak punya maksud apa-apa.

Aku berlalu. Aku pulang. Pulang ke tempat tinggalku yang tak besar, tapi tak juga sesempit hatiku dikala kacau. Aku sudah lupa kebingunganku. Sekarang aku tahu kemana aku harus menuju. Pulang. Ke arah Selatan.

***

Aku, Beefsteak dan Tukang Parkir. Mengapa harus Tukang Parkir yang menerima Beefsteak justru disaat aku sudah tak berharap bertemu siapa pun yang ku kira akan menerimanya. Aku juga tak tahu. Semuanya mengalir, aku hanya mengikuti kata hatiku. Hati kecilku. Ada sebuah konsep dan proses ‘bertemu’ antara aku, beefsteak dan tukang parkir. Dan pasti bukan sebuah kebetulan. Kata temanku, itu adalah proses. Sebuah perumpamaan proses. Berproses.

Mungkin, demikian juga dalam hidup.

Jadi, minyak goreng yang sudah ku beli?  Ahh, lupakan saja soal ‘Beefsteak Goreng’. Tidak ada ‘Beefsteak Goreng’ 😀

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s