Mual …

Itulah reaksiku ketika ku buka sebuah kardus makan siang yang diberikan teman sekantorku. Makan untuk peserta rapat koperasi.  Aku juga tak tau apa sebabnya. Sebelumnya aku merasa hubunganku dengan ayam baik-baik saja. Tak masalah.

Hal ini berawal dari kejadian ‘sekitar’ satu tahun lalu.

Aku tinggal sendiri di sebuah rumah yang terlalu besar jika disebut kontrakan, tapi terlalu kecil jika disebut kos-kosan. Aku baru saja membeli sebuah kompor satu tungku. Niatku sudah bulat, aku akan belajar memasak. Titik. Sebagai perempuan tulen, tak lengkap rasanya jika tak bisa memasak. Aku sangat bersemangat untuk menjadi perempuan yang lengkap.

Berbagai menu sayuran sudah ku coba, kali ini giliran daging. Ya aku akan memasak daging.

Segera ku calling mbah gugel untuk mengirimkan resep masakan berbahan dasar daging. Cling … dalam sekejap saja resep semur ayam ku dapatkan. Hari ini aku akan memasak semur ayam. Bergegas ku menghampiri Bu Tentrem, ‘ibu sayur’ langganan ku. Tanpa pikir panjang ku sabet sebungkus paha ayam isi empat potong. Paha ayam yang montok ini akan ku jadikan masakan istimewa. Semur Ayam.

Walau dengan melirik kertas resep dari mbah gugel, aku berhasil membuat masakan dengan cita rasa yang tak mengecewakan. emmm lezaaaatt. Penampilanya sudah meyakinkan. Maka dari itulah makan malam ini, langsung ku habiskan dua paha sekaligus. Benar-benar tak mengecewakan untuk sebuah pengalaman pertama.

Pagi harinya, untuk menu sarapan, ku makan lagi satu potong. Tinggal satu potong lagi untuk nanti siang. Pulang kerja, rasa lapar ini menggerakan tanganku untuk segera menata makan siang dengan satu potong paha ayam semur. Habis. Tidak terjadi apa-apa.

Suatu hari …

Sekitar dua hari setelah itu, aku membaca tulisan di sebuah warung makan “Ayam Penyet”, entah mengapa seketika aku membaca tulisan “AYAM” perutku langsung mual….terbayang paha ayam yang motok warna cokelat kecap. Hah…apa yang terjadi? Padahal hanya tulisan yang ku lihat, dan ternyata semakin parah ketika ku lihat ayam goreng di depan mata, ditambah lagi setelah mencium aromanya. Mual. Mual sekali.

Sejak itu aku tidak lagi makan ayam.

Yah begitulah singkatnya cerita, mengapa saat ini aku tidak doyan ayam. Apa yang terjadi dengan ku??

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s