Bukankah hari kemarin itu menyenangkan, … Maka dengan tegas ku katakan YA. Betapa tidak, walau untuk sebagian orang ‘itu’ menjenuhkan… bagiku, kemarin adalah hari yang menyenangkan untuk ku nikmati.

Hal ini berawal dari sebuah ‘pembinaan’ yang aku ikuti. Pembinaan, bukan pembinasaan. Konon, pembinaan ini cukup menampar wajah orang-orang tertentu, menyinggung perasaan sebagian yang mengikutinya, cukup keras dan lain sebagainya….

Aku penasaran, aku pun datang pada tanggal dan jam yang telah ditentukan. Aku antusias menghadirinya. Entah mengapa, karena akan bertemu teman-teman kah? tidak. Aku hanya penasaran. Saat undangan belum sampai ke tanganku pun, aku cukup resah…sampai akhirnya aku dapatkan undangan itu via email. Aku harus datang ! Aku kira semangatku ini tak berlebihan.

Hari itu tiba, aku tau kalau aku harus berjuang sekali lagi untuk bisa sampai ke tempat pertemuan. Naik Bus atau angkutan umum lainnya. Ku kira itu alternatif yang tepat. Ups…ternyata salah, menggunakan angkutan umum akan memakan waktu cukup lama sampai di tempat pertemuan, artinya risiko terlambat akan sangat besar. Aku yang seorang pekerja ‘telatan’ ini ingin datang tepat waktu. Aku tak boleh terlambat. Solusinya adalah ‘naik ojek’. Cap cus. Walau harus merogoh kantong lebih dalam, tak masalah bagiku.

Sampai di tempat pertemuan, aku menandatangani presensi dan masuk ke ruangan. Rupanya sudah banyak sekali peserta yang sudah ‘pewe’ di tempat duduknya masing-masing. Hanya tersisa sebagian kursi di belakang. Aku dan teman-teman duduk di kursi paling belakang, padahal di depan masih ada tempat duduk. Ya… aku memang menggerutu dalam hati “akhh bagaimana teman-teman ini, mengapa tak memilih kursi paling depan??”, tapi karena konformitas ku yang cukup tinggi, aku tak mau memisahkan diri dari teman-teman ku. Rupanya aku tak bisa meredam kepenasarananku, aku ajak teman-temanku maju ke depan. Duduk di bangku pertama. Alasanya? Ingin berhadapan dengan pembicara.

Rombongan pembicara masuk. Semua diam, ruangan sunyi dan tenang. Tak ada kesan angker seperti ku dengar kemarin.

Dan kami dibina. Rupanya otakku sudah sedikit terkontaminasi oleh kabar burung kemarin. Ada rasa segan dan tegang ketika acara sudah di mulai. Suasana yang tadinya tidak angker jadi sedikit seram. Ah….berlebihan. Aku mencoba menenangkan otakku. Everything is okey guys….

Ku amati satu persatu lima orang yang ada di hadapanku persis. Dengan style yang bermacam-macam.

Oh ternyata ini ‘yang punya’ itu to… lama-lama suasana menegangkan itu berangsur cair. Apa lagi setelah ku dengar satu persatu dari mereka mulai memberikan wejangan yang luar biasa bermanfaat. Wow, tak salah aku duduk di paling depan. Aku bisa menyimaknya dengan sangat jelas.

Banyak ilmu yang aku dapatkan. Banyak hal yang perlu aku koreksi dari diriku sebagai seorang ‘pamong’. Apa yang mereka sampaikan adalah hal yang positif. Entah apapun tujuan politis dibalik itu semua. Aku tak peduli. Ini adalah wadah sharing. Bahkan aku sama sekali tak keberatan jika forum sharing seperti ini dilestarikan dan dilaksanakan secara berkala. Aku cukup mengapresiasi, disela kesibukan mereka para ‘petinggi’, mereka masih menyempatkan diri menemui ‘kami’ dan berbagi wejangan dengan kami.

So, apa yang salah dengan sebuah pembinaan?

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s