Ada yang enggak kenal kata galau??
Teman-teman kantorku menyebutku Miss Galau (kalau ibu-ibu sih nyebutnya Gadis Galau). Seberapa galaukah aku sampai disebut demikian.

Sebenarnya aku menggalaukan hal yang tak jelas. Yah sesuatu yang belum terjadi tapi begitu ku khawatirkan. Payah…

Hari jum’at seusai senam, aku dapat pencerahan yang luar biasa. Dua orang ibu-ibu, seorang embak-embak dan seorang bapak-bapak. Semua berawal dari pertanyaan isengku.
“Buk, ada firasat atau hal apa sih yang kemudian membuat ibu-ibu yakin bahwa pria yang saat ini menjadi suami ibu adalah jodoh ibu, sebelum ibu menikah??”

Sesungguhnya pertanyaan itu lahir dari hati yang paling dalam. Dan aku benar-benar membutuhkan jawabannya.

Sebut aja ibu Atik, beliau menjawab “Pokoknya itu saya terbayang-bayang, terus saya ya shalat…tahajud…istikharah minta petunjuk”
dan ibu satunya lagi menjawab, “kalau aku dulu benci sekali dengan suamiku ini. Tapi sering dikeceng-kecengin sama teman-teman. Lama-lama aku berpikir apa memang ini jodohku. Terus aku shalat, dan tiba-tiba aku jadi suka”

Simpel sekali ya kejadiannya…

Yah, aku sedang mengalami kegalauan. Aku sedang menunggu ketegasan seseorang, setelah sempat aku tawarkan kehendak orang tuaku. Aku meminta agar dia membuat ketegasan dengan melamarku. Tunangan dulu lah, aku belum minta menikah walaupun sebenarnya aku ingin.
Dia belum meberikan jawaban apapun padaku. Aku memintanya shalat istikharah untuk memantapkan semuanya. Mempertimbangkan banyak hal yang pahit sebelum kelak mengecap manisnya. Dia masih 2 tahun lagi kuliah, jarak kita yang jauh, pekerjaan yang masih freelance ….dan sebagainya. Padahal aku sudah pasrah, aku akan menerima keputusannya, apa adanya asal dia memang sungguh-sungguh menyayangi dan setia padaku. Maklum, dulu pernah ada kejadihan pahit terkait kesetiaan. Aku butuh keyakinan yang kuat untuk bisa percaya padanya. Itupun salah satu pertimbangan untuknya.

Waktupun berlalu kian cepat, dia tak kunjung membuat keputusan tegas. Padahal acap kali kalau memang dia serius aku siap menunggu 2 tahun. Tapi tetap saja. Parahnya, perasaanku tak enak. Dia tak lagi intens, tak lagi sepeduli dulu. Aku menjadi ragu. Atau entah penyakit hati ku yang membuatku selalu curiga padanya. Hubungan ini akan tidak sehat jika aku terus melanjutkan dengannya. Sudah lah semua sudah kuserahkan padanya, toh dia sudah shalat dan minta petunjuk Tuhan untuk memutuskan semuanya.

Sabtu sore, perasaanku begitu tak enak. Aku ingin mendapat ketegasan. Lebih baik sakit sekarang dari pada kelak menunda dan mengumpulkan kesakitan. Aku mau dia memutuskan sekarang. Ataukah aku yang memang tak sabar? paling tidak katakan, bahwa ia benar-benar menyayangiku.

Aku ini layang-layang yang butuh benang yang kuat untuk menjagaku agar tak koyak oleh angin. Itu saja.

Dan….benar saja, Minggu pagi…ia mengatakan bahwa ia tak siap untuk meminangku. Bertunangan denganku. Satu pertanyaan yang ku ajukan, “belum siap atau belum cukup sayang??”

Tuhan, aku deg-degan. Perasaanku tak enak. Embun di Minggu pagi, menetes dari sudut mataku, deras.

Aku berdoa dalam hati. Kuatkan aku Tuhan.
dan dia mengatakan bahwa dia belum cukup sayang.

Ya Rabb, hancur hati ini…hancur. Dia tak menyayangiku seperti dulu.
Kenapa harus kaget?? padahal sesungguhnya aku mengetahuinya. Aku tak sanggup mengatakan itu semua pada orang tuaku. Pasti mereka akan sakit hati.

Yah…memperoleh ketegasan darinya adalah sebuah keputusan penting yang kubutuhkan di Minggu pagi ini.

Bismillah….
Selanjutnya aku pasrahkan pada Tuhan. Aku sudah berusaha semampuku. Aku ingat sebuah artikel dari temannya temanku, bahwa :
Jodoh itu bagai bayangan, semakin ingin kita peluk, semakin ia menjauh. Satu-satunya cara adalah dengan mendekatkan diri kita pada sumber cahaya. Maka dengan demikian kita bisa memeluknya.

Mengapa harus rumit….andai pikiranku sesmple ibu-ibu di kantor. Jawabannya satu : TUHAN. Shalat …shalat….shalat….

Astaghfirullahaladzim. Seraya deras guyuran air mata di pipiku…aku mengucap takbir untuk menguatkan hati ini. Semoga Allah memberi yang terbaik untuk aku dan dia. Amien.

Aku adalah cincin perak yang tak lagi mampu merengkuh jemari tanganku….
Pagi ini, aku meminta ijin padanya…untuk melepas cincin perak itu.

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s