Sebenarnya tulisan ini pernah saya unggah di facebook sejak Agustus 2011 lalu. Repost ya….

Alkisah, sebut saja seorang gadis itu bernama Nurma. Nurmalasari Dewi (fiktif). Seorang gadis desa, biasa-biasa saja. Tidak cantik, tidak juga buruk rupa. Rambut berombak terbalut kain jilbab, perawakan tinggi kurus. Baik. Itu kata orang.

Nurma memang berasal dari keluarga miskin dari sebuah pelosok desa di kaki bukit. Sudah 8 tahun ia merantau, dan hidup sendiri terpisah dari keluarganya. Kemauan keras Nurma untuk bekerja dan menuntut ilmu menguatkannya bertahan. Dengan Beasiswa yang ia peroleh. Menjadi apa saja yang ia bisa asal halal.

Nurma gadis yang cerdas dan aktif.

Sudah satu tahun Nurma bekerja. Usianya kini menginjak 24 tahun. Nurma sudah dewasa. Sudah makin keras juga pemikiran-pemikiran di otaknya. Menjadi seorang konsultan keluarga di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat adalah pilihan Nurma. Berhadapan dengan masalah dan masalah, adalah keseharian Nurma. Beraneka rupa masalah keluarga.

Jika mau jujur, sebenarnya Nurma pun dibesarkan dari keluarga yang cukup bermasalah. Mulai masalah ekonomi, hutang keluarga yang membelit, dan perlakuan ayah Nurma yang sering kali kasar. Bayangkan saja, saat usia enam tahun, Nurma menjadi saksi hidup, saat ayahnya mengacungkan pisau didepan matanya, mengancam membunuh Nurma dan ibunya. Nurma hanya terduduk memandangi ayah ibunya bertengkar. Pada usia 11 tahun, Nurma menyaksikan ibunya meraung-raung dalam tangis, saat ayahnya menyiramkan sejrigen minyak tanah ke tubuh ibunya. Entah apa yang terjadi ketika sepercik api tersirat. Hangus sudah.

Saat perabot rumah pecah dan dilempar kemana-mana. Saat ayah ibu nya saling menyerang dengan kata-kata kotor. Nurma sudah biasa. Pertengkaran kecil sudah tidak terhitung lagi. Hingga suatu ketika ayah Nurma pergi meninggalkan keluarganya, bersama wanita lain. Nurma sudah tidak peduli. Yang ia bisa, hanyalah menenangkan hati ibunya tercinta yang hanya diam dan diam membiarkan suaminya menginjak-injak harga dirinya. Ibu Nurma orang yang sangat sabar. Sabar membiarkan suaminya mendhaliminya. Benarkah itu kesabaran? Atau bentuk pembiaran terhadap perilaku yang salah? Pikiran itu yang sejenak terlintas di benak Nurma.

Nurma tumbuh menjadi gadis keras, sekeras kepalanya ketika ia punya kehendak. Keputusannya untuk segera merantau saat usianya masih belia, kurang lebih dilatarbelakangi oleh situasi yang sudah membuatnya muak. Konsekuensinya, ia harus meninggalkan adik-adiknya yang masih kecil. Membiarkan mereka menjadi saksi hidup selanjutnya. Setelah kepergian Nurma, ia tak pernah tahu, hal apa lagi yang terjadi dalam keluarganya. Yang hanya ia tahu adalah, suasana baik saat Nurma mudik.

Nurma mengira, pengalaman dalam keluarganya tersebut hanya bagian lusuh dari buku harian kehidupan yang ia lalui. Yang akan ia tutup, kemudian tak terbaca lagi. Dan pekerjaannya sebagai konsultan keluarga, adalah pengalaman yang menarik sebagai bekal hidupnya kelak. Hal yang terjadi berbeda, semua terkumpul di alam bawah sadar Nurma. Padahal masalah ekonomi keluarganya pun sudah cukup membuat Nurma pusing. Nurma harus mengirimkan uang kepada ibunya tiap bulan, untuk biaya hidup dan sekolah adik-adiknya. Semua karena ayah Nurma yang tidak bertanggung jawab. Pikir Nurma begitu. Di sisi lain Nurma memang kuat.

Nurma sudah ingin menikah. Dan dari beberapa laki-laki yang dekat dengannya, belum pernah bisa berlanjut hingga jenjang yang lebih serius. Ada saja masalahnya, Nurma kurang cocok. Itu salah satu sebabnya saja. Dan yang paling sering adalah, lelaki tersebut meninggalkan Nurma begitu saja dengan berbagai alasan. Hasilnya selalu mengecewakan.

Ternyata, tanpa Nurma sadari, Nurma sangat berhati-hati dalam memilih laki-laki. Bahkan terlalu hati-hati. Dalam frame nya, laki-laki harus seperti yang ia mau dengan satu tujuan ‘TIDAK SEPERTI AYAHNYA’. Sikap Nurma pada laki-laki menjadi keras, apatis, dan banyak tuntutan. Nurma tidak bisa dikecewakan dengan setitik kesalahan yang mengarah pada peilaku ayahnya. Tidak bisa. Dengan alasan hati-hati,Nurma selalu berusaha mengenal lelaki yang mendekatinya sedetail mungkin. Sangat detail hingga ia mengetahui satu hal yang mengecewakan. Nurma tidak akan berhenti mencari hal yang mungecewakan itu dan pada akhirnya tidak berlanjut. Nurma tidak pernah mau kalah, karena ia sudah lelah melihat ibunya yang selalu mengalah. Niat baik Nurma untuk menikah, disibukan dengan mencari hal yang selalu ia takutkan jika terjadi padanya. Itu lah yang menyulitkan Nurma.

Kasihan Nurma…

Padahal sebenarnya Nurma adalah gadis yang baik. Sesekali waktu ia menyadari sikapnya tersebut, tapi ketika ia harus dihadapkan pada persoalan memilih jodoh, Nurma lupa akan kesadaran sikapnya. Nurma menyimpan trauma yang selalu ia abaikan.

***

Cerita ini hanya fiktif belaka. Namun demikian, semoga kita dapat mengambil hikmahnya. Masih banyak Nurma Nurma yang bernasib lebih buruk. Menjadi korban dari situasi pengasuhan yang sarat akan konflik. Maka bersyukurlah bagi kita yang hidup dan dibesarkan dalam keharmonisan. Maka mari kita berbagi, SAMPAIKAN SARAN ANDA UNTUK NURMA.

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s