Entah, rindu ini pada siapa …tapi demikian sesak ketika ku lihat potretnya yang hitam manis. Sudah hampir dua tahun kami ber pisah, dan selama itu aku tak menjalin hubungan khusus dengan pria manapun. Sempat…tapi tak seserius ketika dengannya.

Sebenarnya aku ingin bercerita bagaimana awalnya aku dan dia bisa bersatu selama tiga tahun. Waktu yang tak singkat. Tapi hati ini masih terasa remuk jika aku harus mengingat kejadian-demi kejadian antara aku dan dia. Kejadian manis yang tak lagi dapat ku kecap dan kejadian yang menusuk hingga ke ulu hatiku, masih perih. Aku belum mampu bercerita.

Hari ini memang pikiranku tak ada di tempat. Melayang-layang tak jelas. Kosong. Seperti terlalu penuh beban merayap di pundaku, tapi sebenarnya tak ada. Tak satupun hal yang aku pikirkan. Atau mungkin karena aku tak tahu….

Di tengah-tengah kalut ku, ku genggam hand phone dengan erat. Tak ada nomor lain yang ingin ku hubungi selain nomornya. Entah mengapa, atau karena sudah beberapa hari ini kami tak saling tegur?

Perasaan tak enak mulai menyelinap di antara sela-sela syaraf…

Apa dia sudah punya kekasih lagi? pertanyaan bodoh yang muncul begitu saja. So what??

Apa peduliku? apa urusanku? apa sih sebenarnya mau ku?

Kenapa aku masih harus peduli dengan siapa dia menjalin hubungan. Toh sejak dahulu aku tahu hanya dengan siapa dia benar-benar jatuh cinta. Mungkin bukan dengan ku?!
Aku juga tak punya urusan apapun dengannya…kembali menjalin hubungan dengannya? TIDAK. Tidak ada jaminan seorang lelaki yang pernah membagi hati untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi. TIDAK ADA JAMINAN. Sudah banyak orang yang membodoh-bodohkan aku. Aku sendiri tak tahu…tidak tahu.

Yang aku mau? aku … aku tidak tahu. Aku tidak menginginkan apa-apa darinya. Aku hanya menyayanginya.

Tiba-tiba parasnya terpampang di layar komputerku. Tuhan, betapa ia masih seperti yang dulu. Senyumnya…tatapan matanya….rambut di pelipisnya…cara duduknya…semuanya. Tak ada yang kurang.
Satu pun tak ada yang kurang.

Mataku berkaca-kaca…tak kuasa bayangan masa lalu menyeruak begitu dahsyat.
Serasa kembali ku dengar ketukan pintu di pagi buta “Ade…” sebungkus opor ayam sudah ditentengnya. Dia hafal betul bahwa aku tak pernah sarapan di pagi hari.
Tak cukup itu saja, ia tahu persis betapa malasnya aku. Diambilnya seperangkat alat makan. Dia menyuapiku. Sedangkan aku dengan acuhnya menatap layar komputer, tanpa meliriknya yang dengan penuh sayang … telaten … memasukan sesuap demi sesuap lontong ke dalam mulutku.

Tuhan … aku tak sanggup lagi melanjutkan tulisan ini… baru satu keindahan yang ku ingat, seperti sudah mau pecah dada ini.

Perpisahan dengannya begitu menyakitkan bagiku. Sangat menyakitkan. Walau aku sadari, aku punya andil menyumbang kesalahan.
Tuhan, waktu tak dapat berulang, mungkin memang jalan yang harus aku lalui. Aku harus bisa melaluinnya.

Ku angkat hand phone ku, memanggilnya… kali ini diangkatnya telepon ku. Sepertinya ia sedang sibuk. Sangat tergesa-gesa mengangkat teleponku. Belum selesai aku bicara, ia sudah menutupnya kembali.

Entah sadar atau tidak, ku tulis pesan singkat “kangen boleh?”

Sekarang, untuk merindunya pun aku harus meminta ijin.

Aku tau cara ku salah, aku tak menginginkan kembali dengannya (kecuali Tuhan yang menghendaki). Aku takut, takut jikalau tertikam pisau yang sama. Takut jika ia harus meninggalkanku dengan cara yang sama.
Aku menyadari betul, terus menghubunginya juga bukan cara yang bijak untuk ku ataupun untuk dirinya. Aku membuatnya semakin berat merangkai hubungan dengan orang lain. Aku juga.

Tuhan, …. kadang aku merasa begitu membutuhkannya…begitu merasa tak lengkap jika tak ada dia. Tapi… aku dan dia sudah punya kehidupan masing-masing yang harus kami jalani. Bagaimana dengan dia? apakah aku masih ada di hatinya? entah….

Tuhan. Tolong aku. Ampuni apa yang ku perbuat. Apa yang ia perbuat. Jadikanlah kami mampu menjalani hidup pada kehidupan kami masing-masing. Tanpa… memberatkan satu sama lain. Tuhan, aku menyayanginya dengan segenap hatiku.

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s