Sudah memasuki bulan Ramadhan, kesejukan demikian merembes di sela-sela hati. Aku bertekat memperbaiki semuanya di bulan suci nan penuh berkah ini. Walau sebenarnya untuk memperbaiki semuanya tak harus menunggu hingga bulan suci tiba, sih.

Sebagai anak kos yang tinggal sendiri di tengah kampung, aku harus mengurus semuanya ‘sendiri’. Tidak jadi soal untuku, karena ini bukan kali pertama aku mengalaminya. Ya, aku tinggal di sebuah rumah kos yang cukup besar jika disebut kos-kosan. Hanya ada dua unit kos-kosan Yaitu yang kini ku tempati dan sampingku yang belum berpenghuni. Letaknya di belakang rumah induk ibu-bapak pemilik kos. Nyaman sekali.

Ibu bapak pemilik kos ku adalah seorang Nasrani. Begitu juga dengan kedua anak mereka. Di rumah tersebut juga tinggal nenek kos yang biasa aku panggil Si Mbah. Sebenarnya, aku sendiri tidak tahu nama beliau siapa. hehe. Keluarga mereka sangat baik pada ku. Mereka sudah menganggapku sebagai anak.  Karena kebaikan mereka dan kenyamanan hunian inilah aku bertahan hingga satu tahun, dan memperpanjang kontrak untuk satu tahun ke depan.

Perbedaan dalam keluarga baruku ini adalah hal yang lumrah dan sangat dihormati. Setelah aku tau, ternyata Si Mbah adalah seorang muslim. Saat waktu luang, si mbah banyak bercerita tentang berbagai hal pada ku. Mulai kisah hidup hingga rumpian kecil soal tetangga. Tapi aku juga tidak tahu, mengapa si mbah bisa jadi seorang muslim. Beliau tak pernah menceritakan bagaimana kronologisnya. Dan mengapa anaknya memeluk agama nasrani. Yah, sebenarnya aku tau jawabanya, soal agama adalah urusan individu dengan Tuhan. Its a privat case.

Sedikit yang aku tahu dari hasil rangkuman dan kutipan-kutipan cerita si mbah, dahulu mbah adalah penganut Ilmu Klenik. Menurut sebuah artikel yang aku baca, “klenik” ada didalam kultur Jawa, ada didalam bahasa Jawa. Arti yang sebenarnya adalah sesuatu yang tersembunyi. Hal yang dirasahasiakan untuk umum. Dalam kultur Jawa ada ilmu yang disebut ilmu tua. Yaitu, ilmu yang diajarkan kepada mereka yang sudah matang dalam kesadarannya. Hal ini dimaksudkan agar tidak disalahgunakan, atau disalahartikan. Ilmu yang demikian ini adalah klenik. Sederhananya, ilmu yang dianut si mbah adalah ilmu kejawen, sebuah kepercayaan yang turun-temurun dari leluhur orang jawa.

Si mbah sering menghitung berbagai hal yang sulit dicerna akal. Dan dari berbagai perhitungan tersebut, si mbah berulang kali memberi aku wejangan. Haha…kehidupan memang perhitungan matematis yang kompleks.

Dalam kesehariannya, si mbah memang belum secara utuh menunaikan shalat lima waktu, toh si mbah sering meminta padaku untuk mengajarinya. Si mbah pun mengatakan, bahwa ia tak hafal bacaan shalat sama sekali. Atau doa-doa lain yang menggunakan bahasa arab. Yang ia mengerti hanya lafal “Bismillahirahmanirrahim” sedangkan aktivitas ibadah yang lain hanya dimulainya dengan kalimat “niat ingsun…” yang artinya, “saya berniat”. Apapun aktivitasnya.

Yang aku kagumi dari si mbah, beliau selalu berusaha dan tidak peduli dengan kata orang. Usia beliau yang kini sudah kepala delapan, tidak membuat semangat belajarnya surut.

Si mbah rajin sekali mengikuti kegiatan keagamaan di kampung, terutama pengajian rutin. Perkara faham tak faham, tak jadi soal untuk si mbah. Sedangkan aku sendiri, hampir 100% absen dari pengajian selama satu tahun tinggal di kampung. Dengan alasan pekerjaan yang tidak dapat ku tinggalkan. Hah…bohong sekali, sebenarnya karena aku malas saja…

Si mbah…. si mbah….
Aku dibuatnya terharu saat kami menunaikan shalat Tarawih berjamaah di Mushala samping tempat kos ku.

Ketika Adzan Maghrib berkumandang sore hari itu, artinya waktu berbuka puasa telah tiba. Seperti biasa, aku telah berbelanja makanan kecil sekaligus lauk di pasar tiban sebelah selatan kampung. Jus jambu merah ku teguk, segulung sosis solo ku lahap bersama saos tomat. Tak lupa sekotel udang favoritku. Belum sampai makan nasi, tapi sudah kenyang rasanya. Tiba-tiba si mbah datang melongok ruangan ku sambil membawa sepiring jangan tempe. Si Mbah sangat pandai memasak, bumbunya mantab…mak nyus. Tak lupa beliau selalu menyisakan sebagian untuk ku, seperti halnya saat itu. Ku terima jangan tempe pemberian si mbah dengan hati berbunga. Terimakasih si mbah, sembari ku katakan “mbah, nanti terawih kan? tak ampiri ya” aku membuat janji dengan si mbah.

Seperti biasanya, seusai ritual mengaji dan menyanyikan lagu religi jrang jreng jrang jreng sambil menanti adzan isya’, aku memanggil si mbah. Si mbah sudah siap dan kami pun menuju ke Mushala. Tak seperti biasanya, si mbah yang tak pernah menempatkan posisi shaf di sampingku, kini mengambil tempat persis di samping kiri ku. Biasanya si mbah memilih dibelakang ku. Shalat berjamaah pun di mulai…

Di tengah-tengah shalat, kekusyuanku buyar…aku kehilangan konsentrasi. Mengapa? karena mau tak mau aku melihat gerakan si mbah. Saat orang lain sudah terbangun dari sujud, si mbah masih sujud…mungkin beliau tidak mendengar. Terkadang, orang lain sudah sujud dua kali, si mbah hanya sujud satu kali tapi lama. Beberapa kali juga si mbah menengok kanan kiri untuk mengikuti gerakan shalat jika merasa kurang yakin atau salah. Ya Allah…shalatku tidak kusyu’. Akhirnya ku pejamkan mataku untuk mengembalikan konsentrasi.

Walau demikian, tak dapat ku pungkiri pikiranku melayang kemana-mana. Ya Allah, aku sungguh terkagum melihat semangat si mbah, sekaligus aku malu. Si mbah tak putus asa untuk belajar, dan tak pernah malu biar bagaimanapun kemampuan beliau. Aku berkaca pada cermin hati. Melihat diriku sendiri. Usiaku yang tidak lebih dari satu per tiga usia si mbah, sudah kalah semangat dengan beliau. Aku masih malas-malasan. Shalat tarawih tahun ini pun aku telah bolos satu kali, sedangkan si mbah…belum pernah absen. Aku terharu dan malu.

Shalat pun selesai, ku salami tangan si mbah…lalu ku cium tangan beliau. Si mbah, terimakasih…aku telah belajar dari si mbah tentang hal kecil yang sesungguhnya berarti akan tetapi terlampau sering aku abaikan.

Terimakasih Si Mbah….

Iklan

About tsemoet

Sering kali saya merasa...saya adalah segalanya, namun sering pula saya merasa kalau saya bukan apapun. Simple...tapi kadang terlalu rumit. Orang bilang saya 'aneh'. Padahal TIDAK. Saya hanya berbeda dengan selera orang pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s