Asiknya Komik DETECTIVE CONAN??

Haaaaahhhh? lama banget…

Terakhir aku update blog ini. Hmmm hampir satu tahun yang lalu. What? Scara ya aku sekarang lagi sibuk jadi mahmud. Mahmahmudaahh :p

Gais, entah apa yang ingin aku ceritakan sekarang. Tentang diriku, tentang keluarga kecilku, tentang pengalaman lain….tentang cerita cerita yang tertunda. Entah lah. Aku merasa sedang tak ada hasrat apapun.

Sekarang aku sedang di kantor, tanpa aktivitas berarti. Nanti setelah makan siang, aku sudah menyepakati untuk memenuhi sesi konseling dengan salah satu klien ku. Baik sambil menunggunya, akan ku ceritakan tentang “DETECTIVE CONAN” — apaa? jauh banget sama prolognya ya.

Kawans, tau kan ya aku bukan makhluk yang suka membaca. Hah kadang aku menyesal, mengapa aku tidak suka membaca…membaca perasaanmu juga. But, sedikit menyimpang dari kebiasaanku tersebut, tepatnya sejak beberapa bulan yang lalu, kira-kira lima bulan yang lalu. Aku mulai membaca komik. hehehe Membaca comic online dari sini: conanianscanlation.blogspot.com dan saat ini baru sampai Volume 51 file 523 jelasss kalah jauh dengan para conanian.Yang jelas baca komik Detective Conan tuh asik. Mau tau asiknya tu dimana? Asikkknya tuh di sini….di dalam hatiku… *musik mana musik, simak: Baca lebih lanjut

Malam Takbir Tahun Ini

Yogyakarta. Malam takbir ini aku masih ada di Yogyakarta. Tentunya ini keadaan yang sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Keadaan yang berbeda dengan 27 tahun terakhir. Ini kali pertama aku tidak berada di tengah keluargaku. Di tengah Bapak Ibu, Adik-adik, dan Mak’e. Tapi di sini aku benar-benar menghabiskan malam ini dengan ‘keluargaku’. Iya, keluarga yang benar-benar milikku. Suami dan anak ku. Ah ini antara perasaan bahagia dan sedih. Bahagia karena akhirnya aku sudah berkeluarga. Sedih, karena tak lagi menghabiskannya dengan bapak ibu adik mak’e… Maunya, ya semuanya jadi satu. Keluargaku dan aku yang sudah berkeluarga. Ah jadi serius gini…

Betewe temans, bagaimana dengan malam takbir kalian…
Wahai para pemudik, sudah sampai di rumahkah?
Wahai para single fighter (baca: jomblo), sudah siap ditanya kapan nikah?
hahaha… tenang gaiis…tahun lalu aku juga masih ditanya begitu (curhat)

Tahun ini adalah lebaran pertama yang aku jalani sebagai seorang istri, sekaligus seorang ibu dari anak laki-laki pertamaku. Sudah pasti status dan posisiku tersebut membuat suasana malam ini terasa sangat berbeda. Malam ini hampir tidak menyangka bahwa besok adalah hari lebaran…hehehe

ya begitulah, sedikit cerita malam ini

Selamat Hari Raya Idul Fitri, temans. Mohon Maaf Lahir dan Baatin

Yogyakarta, 16 Juli 2015
Saat anak ku sedang tidur
Dan suamiku sedang nguthik netbook yang katanya (galau) mau dijual

Family Live In

Seharusnya aku sudah pulang 125 menit yang lalu. Tapi tidak. Hari ini ada kegiatan. Keluarga anak-anak datang ke sini. Ke asrama. Tinggal semalam bersama mereka. Eits, hanya yang perempuan saja yang boleh tidur bersama di asrama.
Jika yang datang laki-laki?
Terpaksa tidur di tempat seadanya. Di ruang Poliklinik yang katanya “horror” itu atau di tempat lain asal tidak di asrama.

Kami menyebutnya Family Live In. Walau tidak semua yang hadir adalah keluarga mereka. Jika tak punya ibu, ayah, nenek, kakek, saudara? ya siapa saja yang bisa memberi pengaruh dan dukungan pada mereka. Sebut saja Significant others-nya. Kadang juga tokoh masyarakat tempat asal mereka, yang kira-kira peduli pada nasib mereka.

Senang ya, anak-anak bisa bertemu sekaligus ditemani keluarganya di asrama. Iyalah.
Bahkan ada yang sampai menangis, karena keluarga mereka belum kunjung tiba. Sedih. Biasanya mereka merasa tak yang peduli. Merasa terbuang.

Tapi belum tentu juga demikian. Ada yang justru tidak nyaman dengan kehadiran keluarganya ke Panti. Entah, yang jelas macam-macam sekali sebabnya.

Paling tidak, dengan kehadiran keluarga di sini, bahkan menginap di sini dapat menumbuhkan perasaan semacam “ooo di sini toh anak ku (keponakanku, cucuku, saudaraku, tetanggaku, wargaku) di tempa”, “oh begini to ruang mereka tidur, makan mereka sehari-hari, kegiatan yang mereka peroleh”, dan lain sebagainya. Dan yang diharapkan, setelah kegiatan ini..keluarga/ significant others tersebut jadi paham dan memberi dukungan atas proses yang sedang ditempuh anak-anak. Agak serius ni gaes…

Yaaa…yaa sudahlah. Mau siap-siap.

Yogyakarta, 24 April 2015

Ranti

Beep…

Lampu indikator di handphone-ku berkedip.

Muka kamu kok jadi sendu gitu sekarang…muka sedih

Sebuah kalimat yang ujug-ujug datang melalui blackberry messenger itu membuat mata ku melotot. Entah mau tersenyum, tertawa, jengkel, atau apa lah. Perasaan ini tidak bisa ku definisikan. Ujungnya aku tersenyum sendiri. Selain itu aku tidak melakukan apapun.
Sudah lebih dari sepuluh kali pesan itu ku baca, sudah lebih dari sepuluh kali juga aku tersenyum sembari menggelindingkan tubuhku ke kanan, ke kiri, tengkurap, telentang.
“Aku tidak hendak membalasnya. Tidak!” gumamku dalam hati
“Ah, …” aku menggerutu sendiri. Aku ingin membalasnya. Tapi tidak. Ingin. Tidak. Ingin.
Sambil mulai menghitung helai demi helai bulu kaki ku.
“Balas. Tidak. Balas. Tidak. Balas. Tidak…” sampai Cendrawasih pindahan ke Jawa juga tidak akan selesai.
“Arggh…tapi sudah terlanjur ‘R'” aku menyesal karena terlalu cepat membaca pesan yang ujug-ujug datang itu. Seharusnya tidak langsung ku baca.

Ranti

Baca lebih lanjut

Galau vs Produktivitas

Hai temans,

Lamaaaa sekali tidak berbagi cerita diblog ini. Humm, bukan karena terlalu sibuk, bukan.
Padahal beberapa judul sudah tertulis dalam folder-folder komputerku. Sebagian mulai ku tulis, tapi entah mengapa belum bisa ku teruskan.
Sulit sekali rasanya memperoleh energi untuk melanjutkannya.
Memang aku sedikit berubah (muka serius)
Bukan jadi Power Ranger atau Satria Baja Hitam kok.
Ini merupakan perubahan yang membahagiakan bagiku sekaligus bagi orang-orang disekitarku.
Aku tidak galau lagi. hihihi (sit suit…)
Membahagiakan bukan? jelas dong cyin…
Aku sudah jarang jalan-jalan bersama uphi atau onthi untuk berburu kisah.
Jarang melamun, jarang termenung, jarang menerawang kemudian memaparkan semuanya dalam tulisanku yang biasa aja ini.
Alhasil, produktivitasku sedikit menurun. Eits, produktivitas yang seperti ini (baca: nulis gak jelas, genjrang-genjreng, jalan mandiri, corat-coret kanvas dan kaos, dan hal kurang kerjaan lain)
Terkadang galau itu amunisi.
Tapi, ogah amit-amit juga sih kalo nunggu galau dulu baru dapat inspirasi.

Temans, adakah yang mau berbagi?
Bagaimana bisa tetap produktif tanpa harus galau?

Atas Nama Masa Lalu

Tulisan ini adalah skuel dari tulisan pertama : Cinta Lama yang Menggoda. Disarankan anda membaca terlebih dahulu tulisan pertamanya untuk merasakan sensasi yang berbeda. Aku diberi kehormatan oleh beliau sang penulis untuk menerima cerpen ini sebagai hadiah ulang tahunku ke 26. Lebih terhormat lagi, aku diminta membuat ilustrasi (gambar) dari cerita ini. Aku mencobanya. Tapi apa yang terjadi, justru soundtracknya yang terlebih dahulu jadi.

Selamat menikmati, temans.

Link Soundtrack :
Atas Nama Masa Lalu

Cerpen ini juga bisa disimak di : http://www.facebook.com/notes/feriawan-a…0152000092828439

Menyemai Harapan Di Antara Guguran

1606538_10202391909612405_346328181_o 

Pintu gerbang hitam berkarat agak susah didorong. Suara berdecit saat Agung berusaha membukanya. Bersama Savira, mereka berdua melangkah memasuki halaman sebuah bangunan tua yang sebagian besar sudah menjadi puing-puing itu. Tak ada yang berbeda bentuknya dibandingkan dengan gambaran yang ada di kepala mereka sekian puluh tahun lalu. Lokasi yang sama-sama mereka hafal. Bedanya. Kalau dulu mereka harus bersusah payah menjangkaunya. Sekarang sudah terbantu karena sudah ada jalan yang relatif baik sehingga mobil Agung bisa diparkir tak kurang dari 100 meter dari lokasi mereka berada sekarang.  Tetapi, Savira tidak menduga bahwa sekarang tempat itu sudah dipenuhi bunga-bunga indah, yang walaupun tak terlalu nampak dalam cahaya senja, kecuali berhiaskan cahaya lampion-lampion kecil. Agung mendahului melangkah menuju suatu tempat, membiarkan Savira yang terhenti sejenak di depan pintu gerbang.

Savira melangkahkan kaki perlahan. Sangat perlahan. Matanya dan mulutnya masih ternganga menyaksikan apa yang ada di depannya. Dia tidak sedang bermimpi. Halaman sebuah bangunan…

Lihat pos aslinya 3.582 kata lagi

Jawa Timur Selatan

Ini hasil jepretanku waktu keliling Jawa Timur – Selatan bersama ayah ibu dan kedua adikku, cekidot kawans 😀

Segelas teh pada pagi yang dingin

Segelas teh pada pagi yang dingin

Baca lebih lanjut

Cinta Lama Yang Menggoda *1

Ini cerpen menghanyutkan…
Ditulis detail oleh sang Penulis @feriawans , sahabat sekaligus kakak ku/kami di sini. Di Jogja.
Selamat membaca temans.
Eits tapi tunggu, jangan dikira cerita ini berhenti sampai di sini…
Temans, penasaran?
Jangan-jangan Agung memutuskan berpoligami?

Silakan baca kelanjutan ceritanya di :

Atas Nama Masa Lalu 

(sebelum dimasukin blog hehe) selamat menikmati 😉

Menyemai Harapan Di Antara Guguran

223659_4798399486180_1025471703_n

Kau pergi meninggalkan gelas yang masih terisi penuh. Sungguh bukan akhir cerita seperti yang kuharapkan. Tanpa berpaling sedikitpun ke meja ini, kepadaku yang mulai dihinggapi perasaan cengeng, seperti perasaan anak kecil yang kehilangan permennya. Seperti pecundang. Sementara tanganku memainkan sendok minuman, mataku tak bisa berhenti merekam setiap langkah, setiap detil, setiap detik peristiwa yang tidak ingin aku lupakan. Setiap langkah yang begitu kejam. Menjauh…menjauh..dan hilang.

Lihat pos aslinya 2.742 kata lagi